Wonder woman

Wonder woman
Makam Almarhum Papah



"Mommy, sekarang juga antarkan aku untuk ketemu, mamah."


"Baiklah, Daddy. Tapi kondisi mamah belum pulih, masih harus jalani beberapa terapi.'


"Ya tak apa-apa, mommy. Terpenting aku bisa melepaskan rasa rinduku pada, mamah."


Saat itu juga mereka pergi ke puncak ke sebuah villa milik, Rose. Perjalanan lumayan lama, hingga satu jam baru sampai di lokasi.


Tak beberapa lama kemudian sampailah mereka di villa, Rose. Michelson terperangah dan tak bisa menahan air matanya pada saat melihat seorang wanita paruh baya tergolek tak berdaya di ranjang.


"Mamah ......"


Michelson berlari menghampiri mamahnya. Dia pun memeluk dan menciumi mamahnya dengan tangisan haru.


"Mah, sekian lama aku mencari mamah tetapi tak juga ketemu."


Michelson menggenggam jemari tangan Berta.


Hanya air mata Berta yang bicara, dia terus saja menatap ke arah Michelson.


"Nak, akhirnya mamah bertemu denganmu. Jika Jason tak jahat, pasti kita telah bersama sejak dulu. Dan papahmu takkan meninggal begitu saja," tukas Berta di dalam hati.


"Sayang, terima kasih ya. Kamu telah berjasa besar menemukan keberadaan mamahku," Michelson menyunggingkan senyumnya pada Rose.


"Sama-sama, Daddy. Hanya perlu terapi secara rutin supaya mamah bisa pulih kembali," Rose tersenyum seraya menepuk bahu suaminya yang tengah duduk di kursi samping dirinya berdiri.


Rose keluar kamar memberi waktu untuk suaminya melepas kangen dengan mamahnya. Dia pun mencoba menghubungi, Celine. Dia lekas mengirim pesan ke nomor ponselnya.


[Celine, aku sudah berhasil menyelamatkan Paman Mike dan Tuan Rangga. Jika kamu ingin pulang, pulang saja. Stand by di rumah, karena aku saat ini sedang berada di villa.]


"Drt drt drt" satu notifikasi chat pesan masuk ke nomor ponsel, Celine.


Dia yang sedang dalam perjalanan pulang, menghentikan mobilnya sejenak untuk membuka chat pesan tersebut.


Dan setelah itu dia lekas membalasnya.


[Siap, Nona. Kebetulan saya sedang dalam perjalanan pulang.]


Setelah membalas chat pesan dari, Rose. Celine melajukan kembali mobilnya.


Sementara Jason dan Reyhan sedang memperdebatkan Celine.


"Rey, kenapa kamu tak mau mengalah dengan papah? bukannya kamu sudah bersama, Siska?"


"Pah, aku tidak ada rasa cinta sedikitpun padanya. Hanya untuk mengisi waktu luang saja. Seharusnya papah yang mengalah padaku, biarkan aku bahagia bersama, Angel. Lagi pula, papah kan sudah tua."


"Rey, apa kamu mau menjadi anak durhaka? pokoknya mulai sekarang, papah nggak mau melihatmu berduaan dengan, Angel! papah ingin menjadikan dia istri papah!"


"Tidak, pah! selamanya aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Selama ini aku selalu patuh dengan segala aturan dari papah. Tapi tidak untuk permasalahan hati!"


"Baiklah, kalau begitu mulai detik ini kita jalani hidup sendiri-sendiri. Papah anggap sudah tak punya anak lagi! dan saat ini juga kamu angkat kaki dari rumah ini!"


Jason mengusir anaknya sendiri hanya karena dia telah tergila-gila pada, Angel. Reyhan pun tak keberatan untuk pergi dari rumah tersebut. Dia lekas mengemasi barang-barangnya dan pergi dari rumah tersebut.


**********


Pagi menjelang, Rose sangat penasaran dengan makam almarhum papah mertuanya.


"Daddy, selama kita menikah aku tak pernah di ajak ke makam papahmu. Bolehkah aku ke makam papahmu, sebagai tanda baktiku sebagai menantu?"


"Mommy, papah aku meninggal sudah begitu lama. Bahkan saat ini aku tak pernah menjenguknya sejak aku di sibukkan dengan urusan perusahaan."


"Aku juga tak memerintah orang untuk mengecek makamnya. Mommy, kenapa tiba-tiba kamu ingin ziarah ke makam papahmu?"


Rose menepuk jidatnya sendiri.


Dia tak habis pikir, punya suami tapi tak teliti dalam segala hal. Hanya kerja dan kerja saja yang di fokuskan oleh.


"Daddy, jadi selama ini nggak pernah ziarah ke makam papah? lantas bagaimana kondisi makamnya kalau begitu?"


"Aku menyerahkan semuanya ke, Om Jason. Dia yang memerintah orang untuk merawat makam, papah."


"Sebegitu percayanya kamu dengan, Om Jason. Saat ini juga aku ingin ke makam papahmu."


"Mommy, aku ada deadline jadi tak bisa menemanimu. Pergilah dengan Celine."


Kembali lagi Rose kecewa dengan sosok Michelson yang tak begitu peduli dengan orang tuanya. Dia begitu percaya dengan orang lain.


Hingga akhirnya Rose pergi di temani oleh Celine ke makam, almarhum papah mertuanya.


**********


**********


**********


Langit yang cerah kini mulai menghitam, seorang wanita dengan rambut di kuncir kuda tengah berdiri di sebuah padang rumput yang cukup luas. Matanya menelisik permukaan tanah di sana. Ia sedang mencari makam papah mertuanya.


"Semua tanah di sini terlihat rata, nona. Tak ada gundukan sama sekali, yang ada hanya tanah yang tertutup rumput hijau," ucap Celine yang kini sedang berada di samping Rose.


"Yang kita cari adalah sebuah makam, aku merasa ada yang tak wajar dengan meninggalnya almarhum papah mertuaku."


Rose mulai berjalan kesekeliling, matanya terus saja mengamati tanah yang dia pijak. Saat dia berjalan tiba-tiba kakinya menginjak sebuah batu yang sepertinya untuk menandai sesuatu.


"Aku menemukannya, ya ampun ternyata ini adalah makam almarhum papah mertuaku. Baru nisan sampai terlepas seperti ini. Daddy, kamu terlalu percaya pada Jason. Padahal dia sama sekali tak memerintah anak buahnya untuk merawat makam papahmu ini."


Rose mengepalkan tinjunya, dia sangat tidak suka dengan apa yang telah di lakukan oleh, Jason.


"Celine, tolong panggil yang lain untuk kemari. Membantu kita membersihkan makam almarhum papah. Kita akan buat makan ini berdiri tegak, tidak seperti ini!"


Kebetulan Rose membawa beberapa anak buahnya untuk membantunya mengurus akan hal ini.


"Gawat, nona! anak buah nona saat ini sedang di kepung oleh anak buah, Jason!" Celine lari tergopoh-gopoh menghampiri Rose.


"Ckckck ..bandot tua itu ternyata cepat juga menyusul kemari? kamu tetap di sini, biar aku yang menghadapinya," ucap Rose dengan tatapan tajamnya.


"Nona, biarkan saya ikut serta. Ingat kehamilan anda, Nona. Lagi pula, Jason membawa beberapa anak buahnya. Dia tidak sendiri melainkan berempat."


Rose terkekeh mendengar penuturan Celine.


"Kamu pikir aku lemah, asal kamu tahu aku mampu menaklukkan mereka dengan ini!" Rose mengetuk jari telunjuknya ke pelipisnya.


"Kamu jangan meremehkan aku hanya karena aku sedang hamil muda, aku akan tunjukkan siapa diriku."


Rose tersenyum sinis, kemudian kaki wanita itu maju tak kenal takut menuju dimana keempat pria dan Jason tengah menunggu dirinya.


"Hay...Om Jason. Kita bertemu lagi di sini, ini pertemuan kita yang kedua ya. Pertama kita bertemu di pesta ulang tahun anakmu."


Ucap Rose dengan senyum manisnya, saat berhadapan langsung dengan, Jason.


*********


Hy gays, mulai tgl 1 dst author akan up date 2 bab perhari. Mohon dukungannya, baik vote, like, dan kasih hadiahnya dong...biar author semangat up date....