
Celine merasa senang, karena usahanya menjebak Reyhan mulai terlihat jelas.
"Yes, sepertinya tidak akan sulit bagiku untuk bisa menjadi kekasihnya," batin Celine.
"Angel, maukah berdansa denganku?"
Reyhan mengulurkan tangannya pada Celine.
"Dengan senang hati, Tuan Reyhan yang tampan."
Celine menerima uluran tangan Reyhan.
Keduanya berdansa begitu asiknya, saling berpandangan satu sama lain.
"Tuan Rey, ternyata anda pandai berdansa juga."
"Biasa saja, Nona Angel."
Pandangan mata Reyhan tak berkedip saat menatap wajah Celine, apa lagi menatap belahan dada yang begitu terlihat.
"Tuan Rey, kenapa anda menatapku seperti itu? apa ada yang aneh dengan cara berpakaianku?"
"Justru cara berpakaianmu sungguh mempesona, aku sangat suka. Kamu terlihat sangat cantik dan menggoda, Nona Angel."
"Apa nggak ada yang marah jika melihat anda berdansa denganku?"
"Tidak ada, Tuan Rey. Justru sebaliknya apakah nanti kekasih Anda tak marah jika melihatku dengan anda?'
Selagi Reyhan akan menjawab, tiba-tiba datang seorang wanita menarik paksa, Celine untuk lepas dari tangan, Reyhan.
"Hey, kamu! lancang benar berdansa dengan kekasihku! enyahlah kamu dari sini!" ucap wanita ini dengan lantangnya.
"Siska, nggak usah buat ribut di sini! ini acara ulang tahunku, kamu ingin mempermalukan aku!"
"Rey, aku ini kekasihmu bukan dia. Kenapa kamu malah membelanya?'
"Sejak kapan kita jadian? selama ini kita hanya berteman, tak lebih dari itu! jadi kamu jangan bermimpi untuk menjadi kekasihku!"
Siska sangat malu pada saat Reyhan berkata seperti itu.
"Rey, kamu...
"Memangnya aku kenapa? kamu saja yang terlalu berharap lebih dariku. Kamu saja yang terlalu kepedean selama ini."
"Pergilah, Siska! aku tak ingin kamu merusak acara pesta ulang tahunku!"
"Rey, jadi selama ini kamu anggap aku hanya sebatas teman? tega kamu, Rey!"
"Maaf, Tuan Rey. Saya jadi merasa tak enak hati, gara-gara saya anda dan kekasih anda bertengkar. Kalau begitu saya permisi pulang."
"Tunggu, Angel!" Reyhan mencekal lengan Celine.
"Kamu tak usah pulang, aku dan Siska hanya teman biasa tak lebih dari itu. Jadi kamu tak usah merasa tak enak hati. Justru aku suka dengan adanya dirimu, di sini."
"Yes, sekali lagi umpanku termakan juga olehmu Rey," batin Celine sumringah.
Sementara Siska menatap tak suka pada, Celine. Dia pun mulai punya pemikiran buruk pada, Celine.
"Siapa sih, wanita ini? baru datang sudah membuat Reyhan terpesona dan melupakan diriku! ini tidak bisa di biarkan begitu saja! aku harus segera membuat perhitungan dengannya!" ancam Siska di dalam hati.
"Hem, sepertinya wanita ini tak suka denganku. Dan dia sedang merencanakan sesuatu, aku harus selalu waspada dengannya," batin Celine.
Setelah saling bertatapan dengan Celine, Siska pun memutuskan untuk pulang dengan penuh kekesalan dan rasa kecewa.
"Aku pikir di acara ulang tahun, Rey. Dia akan mengumumkan jika aku ini wanita yang ada di hatinya dan akan meminangku di depan umum! tetapi ternyata aku salah! aku pikir selama ini dia perhatian padaku karena dia suka dan cinta padaku!" Siska terus saja menggerutu di dalam hatinya.
Pada saat Siska akan pergi, Jason menahannya.
"Siska, kenapa kamu buru-buru pergi? bukannya pesta ulang tahunnya baru saja di mulai?"
"Rey, mengusir aku om. Lihatlah anak om sedang asik dengan wanita yang baru saja di kenalnya." Siska menunjuk ke arah Celine dengan mata dan dagunya.
"Kami cemburu, nak?" Jason terkekeh.
"Bagaimana aku tak cemburu, om. Rey hanya anggap aku ini sebagai teman saja, padahal aku cinta padanya."
Sepintas Jason menatap ke arah wanita yang sedang bersama dengan, Reyhan.
"Om, kok malah melototin wanita itu?" Siska menepuk bahu Jason.
"Begini saja, Siska. Kamu tak perlu khawatir tentang Reyhan. Om akan bantu kamu untuk bisa mendapatkan cintanya, tapi kamu juga harus bantu om. Apakah kamu mau, Siska?"
"Bantu, om? memangnya aku harus bantu bagaimana, om?" Siska memicingkan alisnya.
"Hem, kamu dapatkan hati Reyhan dan om dapatkan hati wanita itu. Bagaimana, mau kan?"
"Ya ampun, sudah bau tanah juga masih suka dengan wanita," batin Siska heran.
"Hem, baiklah om. Aku terima tawarannya. Jadi setiap ada wanita itu, aku harus ada pula dan om juga harus ada pula. Supaya tidak ada waktu untuk mereka bisa berduaan kan, om?"
"Nah itu kamu tahu, Siska. Makanya kamu jangan pulang dulu. Ayok kita kesana, biar om bisa berdekatan dengan wanita itu. Dan kamu dekati, Reyhan."
Siska sangat sumringah karena mendapatkan lampu hijau dari, Jason.
"Hem, semoga aku bisa mendapatkan hati sekretaris pribadi, Tuan Michelson. Walaupun aku tak bisa mendapatkan, Tuan Michelson," batin Siska .
"Rey, siapa wanita cantik ini? boleh dong papah berkenalan dengannya?"
Dengan optimis, Jason menghampiri Celine dengan mata tak berkedip saat menatap Celine.
Jason meraih tangan kanan Celine dan mengecup punggung tangannya tersebut.
"Hallo, nona cantik. Siapa namamu?"
"Hay, om. Namaku, Angel."
"Wah, benar-benar sesuai dengan parasnya. Wajahmu cantik bagaikan seorang malaikat yang turun dari kahyangan." Puji Jason.
"Rey, kamu temani Siska. Biar papah ngobrol dengan, Nona Angel. Mari Nona, kita ngobrol di sana," tiba-tiba Jason tanpa ada rasa mengajak Celine ngobrol agak jauh dari Siska dan Reyhan.
Reyhan merasa tak suka dengan sikap papahnya. Tetapi dia anak yang sangat penurut, dia tak berani membantah papahnya.
"Sialan, papah! padahal aku dulu yang pertama kenalan dengannya , malah dia main serobot saja!"
Reyhan hanya bisa menggerutu di dalam hatinya.
"Hem, aku tak menyangka. Sepertinya Tuan Jason juga suka padaku. Ini tak seperti yang aku kira, satu tepuk dua nyamuk kena sekaligus. Biar saja aku akan buat ayah dan anak saling bermusuhan memperebutkan aku," batin Celine licik.
Sementara saat ini mobil yang sedang di tumpangi oleh Rose dan Michelson sedang di ikuti oleh mobil anak buah, Jason.
"Roy, bisakah kamu percepat laju mobilnya. Dibelakang ada beberapa pengendara motor dan mobil terus saja mengikuti kita," perintah Rose.
Sejenak Roy dan Michelson menatap ke arah kaca spion.
"Sayang, kamu ini terlalu curiga. Ini kan jalanan umum, jadi banyak sekali lalu lalang kendaraan."
Michelson terkekeh.
"Daddy, kamu ini nggak peka sekali. Lihat saja, jika di jalan yang sepi pasti mereka akan mempercepat lajunya dan menghadang kita." Tukas Rose dengan sangat yakin.
"Apa yang dikatakan, Nona Rose ada benarnya Tuan. Memang dari awal mereka terus mengikuti kita. Pada saat keluar dari acara ulang tahun, Tuan Reyhan." Roy membenarkan perkataan, Rose.
"Pasti ini ulah, si tua bangksa Jason!" Rose mengepalkan tinjunya geram.
"Hem, aku sudah tak sabar ingin menghajar anak buah, Jason. Tanganku sudah gatal," batin Rose.
"Roy, lewatlah jalan yang sepi," pinta Rose.
"Mommy, mereka itu banyak loh. Dan kita hanya bertiga."
"Daddy, kamu jadi orang penakut amat. Telpon beberapa anak buahmu untuk segera menyusul kemari jika kamu takut!" ejek Rose.
"Mommy, yang aku khawatirkan justru dirimu yang saat ini sedang mengandung. Aku nggak ingin terjadi apa-apa padamu dan anak kita."
"Jika kamu tak ingin hubungi anak buahmu ya sudah!"
Tiba-tiba Rose mengirimkan pesan pada beberapa anak buahnya untuk segera datang dimana saat ini dia berada.
Rose memang tidak akan sanggup melawan jumlah mereka yang begitu banyak, karena kondisinya yang sedang hamil muda. Gerak dia terbatas.
"Jika aku sedang tidak hamil, aku akan lawan semuanya. Untuk kali ini paling aku bisa melawan satu hingga tiga orang saja," batin Rose.
*******