Wonder woman

Wonder woman
Asisten Pribadi Untuk Rose



Michelson sangat kesal karena belum sempat menangkap salah satu pengendara motor tersebut, tetapi malah sudah kabur duluan.


"Sialan banget, padahal aku ingin tangkap salah satu dari mereka!"


"Memangnya untuk apa Daddy ingin menangkap salah satu dari mereka?"


"Untuk aku interogasi siapa yang telah membayar mereka. Aku yakin sekali jika mereka melakukan semua ini karena perintah dari seseorang. Intinya, aku ingin menangkap dalang di balik semua ini dan akan aku jebloskan ke penjara! tetapi gagal lagi usahaku!"


"Mommy, siapa yang tahu kamu akan ke garmen? Hem, kamu pamit pada siapa?"


"Semua orang butik tahu aku akan ke garmen, Daddy."


"Hem, ya sudah. Sebaiknya mulai sekarang kamu harus memakai sopir pribadi. Jangan kemana-mana sendiri karena bahaya sedang mengancam di sekelilingmu."


"Baiklah terserah Daddy saja."


"Kenapa situasi jadi tak aman seperti ini ya, Daddy?"


Michelson diam saja, dia merasa bersalah pada istrinya. Karena dia sangat tahu apa penyebab, Rose selalu ingin di celakai orang.


"Daddy, kenapa tanyaku nggak kamu jawab?"


"Mommy, aku minta maaf ya? sebenarnya ini semua karena diriku. Banyak sekali pesaing Bisnisku, dan pula banyak kaum hawa yang suka padaku. Kemungkinan besar bisa dari dua diantara yang aku sebutksn tadi. Kalau tidak dari para pesaing bisnisku, bisa jadi dari kamu hawa yang tak suka aku menikah dengan dirimu."


"Hee ternyata suamiku ini banyak di sukai para wanita. Hem, memang sih suamiku gantengnya nggak kelewatan."


Rose malah menggoda suaminya di sela situasi setelah panik. Michelson hanya melirik sinis seraya menggelengkan kepalanya.


Kini Rose di antar ke garmen oleh Michelson. Dia tak ingin hak buruk terjadi lagi pada istrinya apa lagi sedang berbadan dua.


Kegagalan yang di alami oleh anak buahnya membuat Sherly tambah emosi.


"Ih, harus ini dua kali usahaku gagal untuk membuat celaka Rose! kenapa keberuntungan selalu berpihak padanya? kenapa Michelson selalu saja datang tepat waktu untuk menolong, Rose?"


"Coba saja, papah mau bantu aku! pasti tidak akan alami kegagalan hingga dua kali seperti ini!"


Sherly sangat kecewa karena kegagalan usaha anak buahnya. Dia saat ini sedang mencari cara lain lagi untuk bisa mencelakai, Rose.


"Mungkin aku yang terlalu terburu-buru dalam melancarkan aksiku ini. Seharusnya aku pikirkan dulu dengan matang, supaya hasilnya juga tidak mengecewakan."


Tak terasa sore menjelang, saat itu juga Michelson mencari informasi dari para anak buahnya yang terkenal senior dan handal dalam bela diri serta cerdas. Untuk mencari salah satu asisten pribadi untuk, Rose.


"Roy, ada rekomendasi nggak? untuk asisten istriku, aku cari yang cewe juga."


"Hem ada, Tuan. Sepertinya ini cocok untuk menjadi asisten pribadi, Nona Rose."


"Siapa dia, Roy? apa masih saudaramu atau malah kekasihmu?"


"Dia adalah adikku, Tuan. Namanya, Celine. Dia bisa bela diri juga otaknya tak di ragukan lagi."


"Hem, apa benar? berati dia lebih cerdas darimu ya?"


"Heee ya begitulah, Tuan. Bisa kita uji ketangkasan dalam bela diri maupun kita uji kecerdasan otaknya kok."


"Baiklah, Roy. Tapi apakah adikmu bersedia bekerja denganku?"


"Justru dua memsng sedang mencari pekerjaan, Tuan. Dia malah mencari kerja yang penuh tantangan seperti yang Tuan tawarkan."


"Baiklah, saat ini juga kamu pertemukan aku dengan dirinya."


Roy pun menelpon Celine untuk segera datang ke kantor. Hanya dalam waktu beberapa menit saja,Celine telah ada di dalam kantor.


Celine memperkenalkan dirinya dengan gaya yang sangat formal. Dia terlihat tomboy dengan potongan rambut ala-ala DemiMoore. Dengan celana pinsil hitam kaos hitam memakai hodie hitam serta sepatu sport hitam.


Apa pun yang dia kenakan serba hitam.


Tidak ada senyum ramah, yang ada tatapan tajam. Dan tidak banyak kata, orangnya terlihat dingin dan arogant.


"Celine, apa kamu telah tahu kenapa di minta datang kemari?"


"Sudah, Tuan. Saya di tugaskan untuk menjadi asisten pribadi, Nona Rose."


"Hem, bagus sekali. Apa kamu benar-benar sanggup dengan berhadapan bermacam rintangan dan tantangan? karena saat ini banyak yang ingin mencelakai istriku. Kemungkinan besar kerjamu terbilang sangat extrim dan berbahaya."


"Saya sanggup, Tuan. Saya berjanji akan mempertaruhkan segenap jiwa raga saya untuk benar-benar selalu menjaga keselamatan, Nona Rose."


"Hem, baiklah kalau begitu. Saya msunkamu mulai sekarang juga bekerja."


"Siap, Tuan."


Tak lupa, Michelson memperkenalkan Celine pada Rose.


"Yang benar saja, wanita kamu seperti dia menjadi asisten pribadi aku? yw yang ada aku mati kutu tidak bisa mengajaknya bercanda dmria atau ngobrol di sela waktu luang," batin Rose.


Dia kurang setuju dengan asisten baru yang telah di pilihkan oleh Michelson untuk dirinya. Karena orangnya terlalu serius mirip sekali dengan robot yang bisa berjalan dan hidup.


Saat itu juga, Celine sudah mulai bekerja. Dia sangat pintar dan cerdas. Dia juga lincah tak seperti yang sempat Rose bayangkan.


"Aku pikir dia ini hanya akan menjadi patung dan berdiam diri saja. Tetapi dia memang sangat bcerdas, pintarnya melebihi, Sherly."


"Dia bisa segala hal dan gerakannya sangat cepat. Cara berpikirnyw juga sangat aku suka."


"Aku barusan salah melihat dirinya hanya sebagai seorang pekerja yang dibayar oleh suamiku saja."


"Ternyata apa yang suamiku perhitungkan dan pilihkan selalu nomor satu."


Kini Rose telah tahu jika Celine ini tidak seburuk yang dia kira. Celine juga dengan senang hati kerap membantu pekerjaan Rose. Terutama pekerjaan unt urusan hitung menghitung, Celine jagonya.


Kini Rose sudah tak kerepotan lagi, dan tak khawatir lagi jika akan pergi kemana-mana. Karena akan ada Celine yang selalu setia menjaganya kemanapun dia pergi.


Pekerjaan Rose menjadi lebih ringan berkat bantuan, Celine. Ternyata kehadiran, Celine tidak di sukai oleh Sherly. Dia merasa dirinya bakal terancam oleh adanya, Celine.


"Jika seperti ini aku sama sekali tak bisa bergerak atau berkutik sedikitpun."


Sepanjang perjalanan pulang, Rose berusahaengajak ngobrol Celine. Ternyata Celine orangnya mudah bergaul, supel.


"Celine, aku pikir awal kenal dirimu. Dirimu ini tak bisa berbicara apa pagi tersenyum. Tak bisadi ajak ngobrol seperti ini.".


"Nona Rose, ada kalanya kita rilexs dan bercengkrama. Tak selalu fokus bekerja, tetapi sesekali kita bercanda ria supaya pikiran tidak stres, Nona."


"Hehee benar juga apa yang kamu katakan. Semoga kamu kerasan kerja denganku ya, Celine."


"Amin, semoga saja ya Nona."


Kabar gembira bagi, Rose karena dia sudah tak khawatir lagi jika ada yang berlaku jahat padanya, ada si Celine.


Tetapi kabar buruk bagi, Sherly. Karena dia akan semakin sulit untuk menyingkirkan, Rose.


"Sialan! bagaimana usahaku bisa berhasil jika saat ini Michelson telah mempekerjakan orang untuk menjadi asisten pribadi, Rose?"


"Aku bertambah tak bisa apa-apa jika seperti ini!"