Wonder woman

Wonder woman
Gagal Total



Esok menjelang, Siska dengan begitu percaya dirinya datang ke kantor. Akan tetapi belum juga masuk ke dalam kantor sudah di hadang oleh, security.


"Nona Siska, anda di larang masuk ke dalam kantor."


Mendengar perkataan dari, security. Siska langsung berkacak pinggang dan melotot pada security tersebut.


"Heh, ngomong apa kamu! apa kamu lupa ya, aku ini calon istri dari bos mu. Nanti aku adukan padanya, kamu bisa di pecat loh!' bentaknya.


"Saya hanya melaksanakan perintah dari, Tuan Berto. Supaya menahan anda tak di izinkan masuk ke kantor," celoteh security.


"Bohong, tidak mungkin calon suamiku berkata hal itu padamu! itu hanya akal-akalan mu saja! buktinya dia sama sekali tak berkata apapun padaku!" Siska mendorong tubuh security dan menerobos masuk ke dalam kantor.


Dia langsung saja melangkah ke ruang kerja, Berto. Dan menghampiri nya.


"Sayang, kamu pecat security yang ada di depan sok banget dia. Masa melarang aku masuk ke kantor," tukasnya manja.


"Hem, memang aku yang memintanya melakukan itu. Aku malas untuk mengatakan langsung padamu, jadinya aku meminta security untuk mencegahmu masuk ke kantor. Hari ini juga kita putus, dan kamu aku pecat dari kantorku!" bentak Berto seraya melempar surat pemecatan di hadapan Siska.


"Loh, kok seperti ini? memangnya aku salah apa padamu, sayang?" Siska memicingkan alisnya.


"Kamu masih bertanya salahmu apa? kamu itu tidak setulusnya sayang pada Sindy, bahkan kamu berani membentak anakku!" tukas Berto lantang.


"Bohong, aku tak pernah melakukan apa yang kamu tuduhkan padaku, sayang. Siapa yang mengatakan hal itu? aku benar-benar menyayangi Sindy layaknya seperti anak kandungku sendiri." Siska mencoba meyakinkan Berto.


Akan tetapi Berto tak percaya dengan apa yang telah di katakan oleh, Siska. Karena dia punya bukti yang kuat dengan apa yang telah di lakukan Siska pada, Sindy.


"Cepat kamu keluar dari kantorku sekarang juga dan jangan pernah datang lagi. Karena aku sudah muak denganmu!" bentak Berto hingga terdengar ke seluruh penjuru ruangan.


Bahkan para karyawan sempat mendengar hingga mereka penasaran dan mengintip ke ruangan Berto , termasuk Resty.


"Haaa syukurin kamu, Siska! makanya jadi orang jangan sombong. Akhirnya di campakkan juga!" batin Resty tersenyum riang.


Siska pun keluar dari ruang kerja, Berto dengan sangat kesal. Dia bertambah kesal pada saat melihat Resty dan beberapa karyawan lain mengintip ruangan tersebut.


Akan tetapi Siska tak berani berkoar-koar lagi. Dia hanya melirik sinis pada Resty dan yang lainnya.


"Hhaaaa, belum apa-apa sudah di usir. Mana buktinya kamu akan menjadi Nyonya Berto? bukan aku yang di pecat, tapi malah kamu yang di pecat. Haaa makanya kalau berhayal jangan terlalu tinggi," ejek Resty pada Siska di ikuti oleh tertawanya semua karyawan.


Siska tak bisa berkutik, dia pun cepat melangkah pergi. Karena tak ingin semakin di permalukan oleh, Resty dan karyawan yang lainnya.


"Sialan, padahal aku baru saja akan melancarkan ide yang di berikan oleh, Paman Sam! belum juga aku lakukan malah aku di putusin dan di pecat begitu saja!" batin Siska merasa kesal.


Siska akhirnya pulang ke rumah peninggalan orang tua, Rose. Hal ini membuat Paman Sam menjadi curiga dan heran.


"Siska, kenapa kamu pulang-pulang murung? apa ada hal yang telah terjadi?" tanya Paman Sam menyelidik.


Siska menceritakan semuanya pada, Paman Sam tentang apa yang barusan terjadi padanya.


"Dasar bodoh? seharusnya kamu bisa jaga sikapmu pada calon anak tirimu! seharusnya kamu tetap bersikap manis, kamu boleh membencinya atau menyingkirkannya jika kamu sudah benar-benar menjadi istri, Berto. Kamu terlalu ceroboh, hingga akhirnya seperti ini kan?" Paman Sam ikut kesal dengan sikap ceroboh Siska.


"Lantas aku harus bagaimana, Paman? supaya aku bisa meluluhkan hati, Berto lagi? Paman kan pasti punya banyak ide." Wajah Siska memelas di hadapan Paman Sam.


"Gampang, kamu minta maaf saja padanya dan juga pada anaknya. Setelah itu kamu pura-pura bersikap baik. Dan kamu sering-sering bawa makanan ke kantornya. Untuk mendapatkan hati Berto kembali." Tukas Paman Sam begitu yakinnya.


********


Sesuai dengan apa yang di ucapkan oleh, Paman Sam kemarin. Siska segera menuju ke perusahaan dimana Berto berada saat ini.


Waktu yang pas untuknya datang, karena bertepatan dengan waktu makan siang. Siska datang ke sana dengan membawa bekal untuk, Berto. Siapa tahu Berto kembali luluh. Pikirnya.


Pintu terbuka menunjukkan siapa yang berdiri di ambang pintu. Berto menoleh ke arah pintu, lalu beralih ke arah lain setelah melihat siapa orang itu.


"Sayang, aku bawakan makan siang untukmu. Ucap Siska sambil menata makanan yang dia bawa tadi.


Berto tidak menyahuti perkataan Siska. Siska di buat kesal akan hal itu. Akan tetapi ia harus bisa mengontrol emosinya agar bisa membujuk, Berto.


Siska mendekat ke arah Berto.


"Sayang, aku minta maaf padamu. Aku benar-benar tidak ada niatan untuk marah pada, Sindy," ujarnya dengan menunduk.


Ia pasang wajah memelas, agar Berto percaya.


"Sayang," ucapnya lagi mencoba meraih tangan Berto.


Berto yang mengetahui gerak gerik Siska, segera menjauh.


"Bukankah aku sudah bilang padamu, jangan tampakkan dirimu lagi padaku." Sentak Berto, dengan sorot mata yang menunjukkan kemarahan.


"Sayang, aku khilaf. Maafkan aku." Bujuk Siska.


"Apa kamu kira aku bodoh! apa kamu kira aku tak mengetahui semuanya apa yang sudah kamu lakukan pada, Sindy?"


"Pergi sekarang, atau aku panggil orang untuk menyeretmu keluar dari sini!" usir Berto pada Siska.


Berto tidak pandang bulu, siapapun itu entah perempuan atau laki-laki jika sudah membuatnya tersinggung, ia tak segan-segan akan membuat orang itu menanggung akibatnya.


"Sayang, aku mohon maafkan aku. Aku janji akan terus menyayangi, Sindy. Aku janji akan meminta maaf pada Sindy dan memperbaiki sikapku," Siska memohon tanpa hentinya.


"Keluar dari ruanganku, aku tidak perlu omong kosongmu!" usir Berto lagi.


Tapi Siska keras kepala, dia terus saja berusaha membujuk Berto lagi. Bahkan dia rela menjatuhkan harga dirinya dengan bersimpuh di kaki Berto supaya dia luluh dan menjadi miliknya nanti.


"Sayang, maafkan aku. Aku janji tidak akan mengulanginya lagi." Siska memeluk erat kaki Berto.


"Lepas!" Berto menepiskan tangan Siska dari kakinya dengan sangat kasar hingga hampir saja menendang Siska.


"Jangan pernah kamu sekali-kali menyentuhku. Pergi dari sini sebelum aku menembak kepalamu!" bentak Berto melotot ke arah Siska.


Berto tidak pernah membiarkan siapa saja menyentuhnya, sekali pun Siska pernah menjadi kekasihnya.


"Tapi, sayang....


"Security...." Teriak Berto.


Security yang mendengar teriakan dari sang bos segera datang.