Wonder woman

Wonder woman
Kecerdasan Rose



Dengan tangan gemetaran, terpaksa Reyhan memakan nasi yang telah di injak oleh pria tadi. Walaupun Jason telah melarangnya, tetapi Reyhan tak punya pilihan lain karena ia sudah sangat lapar dan perutnya juga sudah perih minta di isi.


Tak kuasa, Jason meneteskan air mata melihat pemandangan tersebut. Sementara Reyhan terpaksa menelan nasi yang begitu hambar di tambah lagi banyaknya tanah yang tercampur dengan nasi tersebut.


Hati Reyhan berdenyut perih, baru kali ini pria itu merasakan memakan makanan yang tidak layak untuk di makan seperti makanan orang miskin di pinggiran jalan sana.


Sementara saat ini Rose sedang berkecamuk amarah karena seseorang telah menculik, Mamah Berta.


[Maaf, nona. Saat ini Nyonya Berta sudah tidak ada di villa, menurut keterangan anah buah anda. Tiba-tiba terjadi penyerangan begitu saja]


Satu chat pesan dari Celine yang sempat membuat Rose menggertakkan giginya.


Selagi gelisah memikirkan siapa yang telah melakukan hal ini. Kembali lagi ponsel Rose yang ternyata ada satu notifikasi chat pesan masuk.


[Cepat kamu datang ke villa A, kalau ingin mamah mertuamu selamat!]


Membaca chat pesan tersebut, Rose sangat kesal. Dia juga penasaran sebenarnya siapa yang telah meneror dirinya. Hingga dia pun memutuskan untuk benar-benar datang ke alamat yang tertera.


"Kurang ajar, dari mana dia tahu tempat persembunyian mamah! Dan bagaimana dia bisa melumpuhkan anak buahku yang saat ini telah menjaga, di villa?"


Rose langsung beranjak pergi dan tak lupa dia meminta Celine untuk turut serta datang.


"Aku harus cepat-cepat pergi sebelum Michelson terbangun dari tidurnya."


Rose keluar dari kamar dengan sangat perlahan supaya tidak membangunkan suaminya.


Rose lekas masuk ke dalam mobilnya di mana Celine telah menunggu dirinya.


"Apa ada suatu petunjuk dari penculik tersebut? supaya aku tahu siapa sebenarnya yang melakukan penculikan ini?" tanya Rose menatap tajam pada Celine.


"Hem, nona bisa lihat CCTV. Supaya jelas siapa penculiknya, karena saya belum sempat menyelidikinya."


Saat itu juga Rose membuka ponselnya untuk mengecek CCTV yang ada di villa.


"Hem, jadi dia. Sialan juga, aku akan membuat si tua bangka itu tak berkutik sama sekali!"


Rose menggertakkan giginya menatap layar ponselnya.


"Apakah Anda tahu pelakunya, nona?" tanya Celine memicingkan alisnya.


"Hem, ya aku tahu. Aku juga bingung kenapa dia melakukan hal ini."


Rose tidak kalah cerdik, dia memerintahkan beberapa anak buahnya untuk menculik asisten pribadinya yang bernama, Sherlly.


"Nona, apa hubungannya dengan Sherlly? kenapa anda menculiknya?" Celine semakin tak mengerti dengan apa yang di lakukan oleh, Rose.


"Nanti kamu juga tahu, tinggal lihat saja pertunjukan yang akan aku lakukan nanti," Rose tersenyum menyeringai.


"Hem, ternyata apa yang pernah Michelson katakan tentang Tuan Diego ada benarnya. Dia pria yang jahat, kini aku tahu. Tapi apa arti penculikan ini?" batin Rose penuh tanda tanya.


Kring kring kring..


Satu panggilan telpon masuk ke nomor ponsel, Rose.


"Bos, mau di bawa kemana tarjet penculikan kita ini?" tanya salah satu anak buah, Rose.


"Kalau begitu bawa dia menyusulku. Saat ini aku sedang dalam perjalanan ke villa A, dimana saat ini mamah mertuaku di tawan. Kamu susul saja kesana dan bawa kejutan itu bersama dirimu!" perintah Rose dalam balik telpon pada salah satu anak buahnya.


Tak berapa lama Celine dan Rose telah sampai ke villa A.


"Celine, kamu tunggu anak buahku datang dan dengan membawa tawanannya. Jika aku memberi kode baru kamu muncul dengan tawanan kita. Kamu pasti tahu kan, tak perlu aku jelaskan lagi." Perintah Rose.


"Baiklah, nona. Saya paham."


Tanpa ada rasa takut sedikitpun, Rose melangkahkan kakinya masuk ke dalam villa tersebut. Sementara Celine bersembunyi sembari menunggu kedatangan anak buah Rose yang membawa Sherlly sebagai tawanan.


"Akhirnya kamu datang juga, Rose." Ucap Diego yang sudah menanti kedatangan Rose sejak tadi di dalam ruangan itu.


"Tentu saja aku datang, untuk menjemput mamah mertuaku. Dimana dia sekarang ini, dan untuk apa pula kamu menyekapnya?" Rose bahkan berjalan menghampiri Diego dan duduk di sampingnya.


"Sekarang juga kamu tinggalkan, Michelson. Karena kamu tak pantas untuk menjadi istrinya! jika kamu tak lakukan itu, maka nyawa mamah mertuamu yang akan melayang sekarang juga!" ancam Diego tersenyum sinis.


"Kenapa anda buru-buru sekali, Tuan Diego. Padahal aku juga punya kejutan untuk anda loh..pastinya anda ingin tahu kan, apa kejutan yang aku berikan untuk anda?" Rose berkata lantang seraya terkekeh.


"Apa maksudmu?" Diego memicingkan alisnya seraya menatap tajam, Rose.


Rose lekas menelpon Celine saat itu juga.


"Celine, bawa segera kejutan itu kemari. Tuan Diego sudah tak sabar ingin melihat kejutan dari kita." Perintah Rose pada Celine di balik panggilan telpon.


Diego menatap Rose dengan penuh tanda tanya.


Tak lama kemudian, Celine datang dengan membawa Sherlly dan menodongkan pisau di leher Sherlly.


"Sherlly"


"Papah, tolongin aku. Aku tak ingin mati..." Sherly ketakutan seraya menitikkan air mata.


Diego begitu tak percaya dan dia sangat ketakutan karena anak kesayangannya ada di tangan, Rose.


"Tuan Diego, anda lihat di pinggang Sherlly telah aku pasang bom. Dan ini remote ada di genggaman tanganku. Satu tekan saja, anak gadis kesayangan anda akan tewas seketika." Rose memperlihatkan remote tersebut pada, Diego.


"Wah, anda begitu terkejut dengan kejutan yang aku berikan ya?" Rose tersenyum mengejek.


Diego diam, dia sama sekali tak berani berkutik.


"Pah...aku tak ingin mati...tolong..."


Isak tangis Sherly sangat menyentuh hati, Diego.


"Rose, dasar licik kamu!" umpat Diego kesal.


"Hhaaa, anda baru tahu ya? aku bukan licik, tapi cerdik. Asal Anda tahu saja, aku langsung bergerak saat mendengar anda menculik mamah mertuaku. Anda pikir hanya aku yang punya kelemahan, anda juga memilikinya."


"Anda ingin melawanku, tapi anda bukanlah tandinganku. Lihat saja dengan begini apa anda masih ingin membunuh mamah mertuaku untuk mengancamku? jika ia aku juga akan melakukan hal yang sama."


Ucap Rose dengan nada dingin, yang menandakan bahwa dia itu tak main-main dengan apa yang dia ucapkan.


"Sialan, ternyata Rose tak selemah yang aku pikir! dia cerdik bagai ular!"


batin Diego kesal.


"Tolong lepaskan anakku, sebagai gantinya aku akan melepaskan mamah mertuamu sekarang juga." Tukas Diego sudah tak punya pilihan lain.


"Hem, baiklah kalau begitu bawa kemari sekarang juga mamah mertuaku!" pinta Rose ketus.


Namun tanpa sepengetahuan, Diego. Rose telah menghubungi aparat polisi untuk segera datang ke villa tersebut.


Pada saat Diego menyerahkan mamah mertuanya, datanglah aparat polisi menangkapnya.


"Sialan, kenapa aku di tangkap!" teriak Diego.


"Karena anda telah melakukan penculikan terhadap, mamah mertuaku. Dan jika hukum tidak menindak lanjuti anda, aku khawatir suatu saat nanti anda melakukan hal yang sama lagi. Pak, silahkan bawa saja, Tuan Diego."


Saat itu juga aparat polisi membawa Diego beserta para anak buahnya untuk di proses hukum. Sementara Rose membebaskan, Sherlly.


"Nona Rose, aku mohon maafkan kesalahan papah. Tolong jangan tuntut dia. Hanya dia yang aku punya di dunia ini."


Tapi Rose sama sekali tak menghiraukan permohonan, Sherlly. Justru dia lekas membawa mamah mertuanya pergi dari tempat itu.


"Ya Tuhan, ternyata menantuku wanita yang sangat hebat," batin Mamah Berta.