Wonder woman

Wonder woman
Hukuman Untuk Tedy



"Lepaskan aku, Rose! kalau tidak aku akan...."


"Aku akan apa, kamu mau mengancam aku lagi? Mau membunuh aku lagi,..iya....Asal kamu tahu gara-gara perbuatan orang bayaranmu yang melakukan bom bunuh diri di acara baby showerku, banyak korban nyawa yang tak bersalah!"


"Dan setelah kamu melakukan hal keji itu, kamu masih bisa tidur nyenyak. Makan enak tanpa sedikitpun rada bersalah. Enak saja kamu mau lepas dariku, sebelum mendapatkan balasan." Teriak Rose tepat di hadapan muka, Tedy.


"Perbuatanmu itu sungguh menjijikan, Tuan Tedy...cuih."


Ucap Rose meludahi muka Tedy seakan-akan jijik pada pria itu kemudian ia mengarahkan pisaunya kehadapan, Tedy.


Dengan otomatis, Tedy langsung memejamkan matanya ketakutan.


"Wajahmu sungguh tampan, bagaimana jika aku melukainya?" Rose mengusap-usap wajah Tedy dengan pisau yang dia pegang.


"Tapi bukan wajahmu tujuanku, aku juga tak akan membunuhmu. Tapi tujuanku yang sebenarnya adalah ini," Rose meremas dengan kuat sesuatu di bawah sana hingga Tedy memekik ketakutan.


"Akh.... apa yang kamu lakukan, lepaskan aku!" teriak Tedy meronta-ronta di tiang itu.


Bukannya iba, Rose malah tertawa terbahak-bahak.


"Hhhaaaa ... sekarang kamu memohon ampun untuk di lepaskan. Tak ingatkah dirimu pada saat mencoba meracuni aku dan memerintahkan anak buahmu untuk melakukan bom bunuh diri di acara baby showerku. Apa kamu tak tahu pekik para korban bom tersebut. Bagaimana nasib keluarga yang di tinggalkan, ini semua karena ulahmu!"


"Aku takkan melepaskanmu, Tedy. Karena kamu sudah banyak menghilangkan nyawa tak berdosa. Kamu harus merasakan balasan yang setimpal!"


"Aku akan membuatmu tak punya keturunan seumur hidup. Aku akan memotong adikmu ini sampai ke pangkalnya."


Rose mengarahkan pisaunya ke salah satu aset pribadi, Tedy.


"Tidak...." Terlambat pisau itu telah memisahkan aset milik Tedy dari tubuhnya.


Tedy menjerit kesakitan darah segar berceceran di lantai. Sementara Rose yang sudah merasa puas dengan apa yang telah dia lakukan pun membuang pisau di tangannya ke atas lantai setelah itu ia mengusap tangannya dengan sapu tangan miliknya.


"Andi, kamu bereskan sisanya!" perintah Rose dingin setelah itu wanita cantik ini berlalu pergi dari tempat itu dengan wajah penuh kepuasan. Andi hanya bisa memandang Tedy dengan ngeri.


Pria itu tak membayangkan jika Rose akan bertindak seperti itu. Masa depan Tedy sudah hancur, ia takkan mempunyai keturunan sampai kapanpun.


Dan Andi yakin tak akan ada wanita yang mau menikah dengannya karena ia tak memiliki burung lagi.


"Makanya jangan bermain-main dengan, Rose tapi kamu mengabaikan hal itu. Sekarang terimalah akibatnya, seumur hidupmu akan menderita," ucap Andi membantu melepaskan ikatan pria itu dan membawanya ke rumah sakit.


Karena ia tahu, Rose tak ingin Tedy mati karena kehabisan darah. Rose hanya ingin pria itu merasakan penderitaan seumur hidupnya jadi Andi takkan memberikan Tedy mati begitu saja. Karena ia harus merasakan penderitaan yang lebih sebelum maut Mei dirinya.


"Aku tak menyangka wanita semenyeramkan itu ketika murka," ucap salah satu anak buah, Andi yang sedang membersihkan bercak-bercak darah yang berceceran di atas lantai.


"Mungkin wanita lain tak seperti itu tapi tidak dengan bos kita. Jika kita tak boleh menyinggungnya karena dia bisa melakukan apapun untuk membalas kita jika kita menyakiti dirinya," ucap salah satu diantara mereka kembali sibuk membersihkan kekacauan itu.


Rose langsung pulang ke rumah karena doa tak ingin Michelson khawatir jika dia pergi terlalu lama, pasti akan menjadi tanda tanya. Dia telah puas membalas dendam pada, Tedy.


"Dia pikir aku tak akan berani bertindak kasar dan nekad padanya. Dia terlalu meremehkan nyaliku. Dia pikir aku ini wanita lemah yang tak bisa apa-apa."


Sepanjang perjalanan pulang, Rose terus saja menggerutu di dalam hatinya. Dia berubah menjadi wanita kejam dan galak sejak dia mengalami kepahitan di campakkan oleh Raymond dan di hianati oleh adik tirinya.


Kini dia tak akan memaafkan siapa pun juga yang telah menyakiti dirinya.


Tak berapa aku, sampailah Rose di mension Michelson. Dia pun langsung membersihkan badannya karena tak ingin di curigai oleh suaminya jika ada sedikit bau anyir darah pada tubuhnya.


Rose senyam senyum sendiri pada saat dia mandi. Dia sudah membayangkan masa depan Tedy yang suram karena dirinya.


"Salah sendiri bermain-main denganku." Rose masih saja menyalahkan Tedy, dan ia pun merasa apa yang ia berikan untuk Tedy, ia kira pelajaran itu setimpal dengan apa yang pria itu telah perbuat.


Beberapa menit kemudian, Rose telah selesai melakukan ritual mandinya. Dia langsung menuju ke arah ruang makan untuk makan siang bersama dengan, Mamah Berta, Paman Mike, dan Tuan Rangga. Karena Michelson belum juga pulang.


Sementara saat ini Michelson sedang dalam kondisi gawat, karena mobil yang dia tumpangi melaju dengan begitu cepatnya. Rem tak bisa di kendalikan karena blong.


"Sial, kenapa hal ini bisa terjadi? kenapa pula mendadak rem blong seperti ini," gumamnya terus saja mencoba mengendalikan mobilnya.


Karena kebetulan memang Roy sedang tidak bersamanya, saat ini Roy sedang ada urusan di luar kota itu pun Michelson yang memerintahkannya.


Braakkkkkk.....Duar.....Bumm...


Mobil Michelson meluncur tak terkendali. Dari pada dia menabrak banyak kendaraan yang sedang berlaku lalang. Dia pun membelokkan mobilnya ke arah jurang. Dan saat itu juga mobil Michelson jatuh ke jurang dan tak berapa lama, terdengar bunyi ledakan yang amat kuat.


"Prang...." Rose menjatuhkan piringnya tanpa di sengaja.


"Rose, ada apa denganmu?" tanya Mamah Berta penasaran.


"Nggak apa-apa, mah. Hanya piringnya tiba-tiba tergelincir lepas dari pegangan tanganku" jawabnya.


"Kenapa perasaan aku tak enak hati ya, memikirkan suamiku?" batin Rose.


Apa ya sedang di rasakan oleh, Rose ternyata di rasakan pula oleh Mamah Berta. Apa lagi hari nurani seorang ibu begitu kuat, seolah ada ikatan batin dengan, Michelson.


"Rose, coba kamu telpon suamimu. Ini sudah jam makan siang kok dia belum sampai rumah? biasanya kan sepuluh menit sebelum makan siang, dia sudah sampai duluan," pinta Mamah Berta.


"Baiklah, mah."


Saat itu juga, Rose menelpon nomor ponsel Michelson.


Namun nomor ponsel tak aktif, hingga akhirnya Rose menelpon bagian kantor. Dan salah satu orang kantor mengatakan jika Michelson telah keluar dari kantor sepuluh menit yang lalu.


"Bagaimana, Rose? kenapa kamu diam saja?" tanya Mamah Berta menjadi bertambah penasaran.


"Kata orang kantor, dia sudah pulang sepuluh menit yang lalu. Seharusnya kan dia sudah dia di rumah," ucap Rose.


"Lantas tindakan apa yang akan kamu lakukan?" tanya Mamah Berta.


"Aku akan makan dulu, mah. Karena aku sudah tak bisa menahan rasa lapar lagi. Setelah makan barulah aku akan mencari, Michelson," ucap Rose.