Wonder woman

Wonder woman
Bahaya Kembali Mengancam



"Ka Elsa....Ka Elsa.." teriaknya mencari kakaknya semua sudut ruangan di dalam rumah tersebut di jelajahinya. Dia menemukan kakaknya sedang bersiap-siap akan ke rumah sakit, karena ada jadwal praktek siang.


"Ada apa sih, kok wajahmu pucat seperti itu?" tanya Elsa mengernyitkan alisnya menatap wajah adiknya.


"Ka, aku takut sekali." Ucap gadis kecil itu.


"Rasya, kamu ini kenapa ngos-ngosan seperti habis di kejar hantu saja? duduk dan coba ceritakan yang jelas, biar kakak tahu apa yang membuatmu takut." Tukas Elsa menenangkan adiknya.


Rasya gadis kecil yang saat ini masih duduk di bangku sekolah menengah atas tepatnya baru kelas satu SLTA, menceritakan semua yang dia alami barusan.


Dia bercerita bahwa saat dia akan pulang dari rumah temannya, dia di hadang oleh dua preman dan di tolong oleh seorang wanita cantik yang sedang hamil. Sejenak Elsa sangat fokus mendengarkan cerita dari adiknya tersebut.


"Rasya, ini pelajaran buatmu. Makanya kakak selalu menyarankan supaya kamu di antar jemput oleh, Mang Udin. Tapi kamu nggak mau kan? jaman sekarang ini marak sekali kejahatan, jadi kamu harus segera waspada dan berhati-hati selalu." Nasehat Elsa


"Lantas apa kamu sudah mengucapkan terima kasih pada kakak yang telah menolongmu itu?" tanya Elsa penasaran.


"Belum, ka. Aku keburu panik dan sangar takut apalagi pada saat melihat darah dari tangan wanita itu dan dari mata salah satu preman yang di lukai oleh wanita itu, ka."


"Pada saat dia menolongku, dia mengatakan supaya aku menuggu dia dan dia akan mengantarkan aku pulang sampai rumah, tapi aku sudah terburu panik. Ka Elsa kan paham, jika aku ini paling takut kalau sudah melihat darah."


Mendengar perkataan dari adiknya yang masih terlalu polos, membuat Elsa menggelengkan kepalanya dan tak bisa berkata lagi.


"Ka, kenapa malah hanya geleng-geleng kepala tanpa merespon perkataan aku?* tanya Rasya heran.


"Ya kan kamu sudah di beri mandat olehnya supaya menunggunya. Tetapi kamu malah main pergi saja tanpa ucap terima kasih. Jika kamu takut darah, kan kamu bisa bersembunyi di tempat yang sekiranya kamu tak melihat darah itu," tukas Elsa.


"Aku kan panik ka, makanya aku sama sekali tak terpikirkan hal itu. Lagi pula gang itu juga sempit, lantas mau bersembunyi di mana?" Rasya masih saja membela diri.


"Rasya, kamu itu berhutang budi pada wanita itu. Karena kamu sudah di tolongnya tapi kamu belum mengatakan rasa terima kasih padanya," tukas Elsa.


"Ya semoga saja lain waktu aku bisa bertemu lagi dengannya, ka. Supaya aku bisa berterima kasih padanya," tukas Rasya.


"Ya sudah sana masuk ke kamarmu dan jangan keluyuran lagi. Kakak pulangnya agak malam jadi kamu harus tetap ada di rumah," pesan Elsa.


"Ya ka, hati-hati ya."


Saat itu juga Elsa melangkah ke luar dari kamarnya begitu pula dengan Rasya. Elsa tak lupa mengunci kamarnya. Dan Rasya melangkah ke kamarnya, sementara Elsa melangkah ke garasi.


Dia segera melajukan mobilnya arah ke rumah sakit tempat dia praktek.


"Hem, ada-ada saja. Di pagi menjelang siang kok ya ada yang nekad berbuat jahat. Aku kok jadi penasaran dengan wanita hebat itu. Siapa namanya dan dimana pula rumahnya. Jika aku tahu pasti aku juga akan ikut mengatakan terima kasih atas pertolongan dirinya," gumamnya seraya mengemudikan mobilnya.


Sementara saat ini, Rose telah sampai di butik. Dia pun meminta tolong salah satu karyawannya untuk mengobati luka sayatan pisau di tangannya.


"Sebenarnya apa yang terjadi pada, Nona Rose ya? sebenarnya aku ingin bertanya padanya tetapi aku tidak berani," batin karyawan yang sedang mengobati luka di pergelangan tangan Rose.


Segera Rose mengecek semua yang ada di butik, dia begitu cekatan hinggatak ada yang terlewatkan satupun.


"Mommy, kita makan siang bersama yuk? aku jemput ya ke rumah, kebetulan aku sedang Ingin makan di luar bersama denganmu."


"Hem, boleh Daddy. Kebetulan aku juga sedang merasakan lapar sekali. Tetapi Daddy jemput aku di butik saja ya".


"Hah, kamu sedang ada di butik? padahal aku sudah mengatakan supaya kamu tetap di rumah saja. Apa lagi saat ini tidak ada Celine yang melindungi dirimu."


"Daddy, aku suntuk di rumah saja makanya aku ke butik. Lagi pula aku bisa kok jaga diri. Buktinya hingga kini aku tak apa-apa kan?"


"Hem, dasar keras kepala. Mau di nasehati sampai seribu kalipun pasti tetap seperti ini. Ya sudah, kamu tunggu aku datang dan jangan kemana-mana."


"Ya, Daddy sayang."


Sejenak keduanya mematikan panggilan telepon. Sementara Rose terkikis sendiri dan saat ini Michelson sedang dalam perjalanan ke butik, Rose.


Hanya beberapa menit saja telah sampai di butik, dan Michelson merasa kaget pada saat melihat salah satu pergelangan tangan, Rose di balut perban.


"Mommy, kenapa dengan lenganmu? kenapa kamu bisa terluka seperti itu?" tanyanya menyelidik.


"Nggak usah panik, Daddy. Aku hanya tergores sesuatu benda saja tadi. Ini hanya luka kecil kok, besok juga pasti sembuh," tukas Rose tanpa mengatakan dirinya telah berkelahi dengan dua preman.


"Hem, yang benar? kamu sedang tidak berbohong padaku, kan?" mata Michelson menatap tajam ke arah Rose.


Seolah dia sedang mencari sesuatu pembenaran di mata istrinya. Rose malah menggoda Michelson dengan memainkan bola matanya, membuat Michelson terkekeh dan mencium Rose secara tiba-tiba.


"Hem, kamu itu paling bisa buat aku terkekeh seperti ini." Michelson segera merangkul istrinya melangkah keluar dari butik menuju ke mobilnya.


Mereka pun segera masuk ke dalam mobil dan Michelson langsung melajukan mobilnya menuju ke cafe langganan mereka. Hanya beberapa menit saja mereka telah sampai di cafe tersebut.


Namun Rose melihat seseorang yang tak asing lagi baginya. Dia pun sudah mengira-ngira akan terjadi hal buruk pada mereka. Akan tetapi orang tersebut tak tahu jika Rose telah melihat dia di balik persembunyiannya.


"Hem, Tedy. Aku yakin sekali dia pasti akan berbuat buruk padaku dan suamiku. Lihat saja, aku tidak akan membuat rencanamu itu akan berhasil. Aku akan menggagalkannya," batin Rose.


Karena posisi Michelson membelakangi Tedy yang ada di balik persembunyiannya. Hingga hanya Rose yang melihatnya.


Sesaat keduanya memesan makanan. Tetapi Rose merasa tak tenang jika mereka aman di cafe tersebut. Dan pada saat makanan datang, Rose melarang Michelson memakannya.


"Daddy, tunggu! jangan kamu makan makanan ini, karena aku sangat yakin jika makanan ini mengandung racun," cegah Rose.


"Mommy sayang, kamu ini ada-ada saja. Mana mungkin makanan yang baru matang dan masih hangat ini mengandung racun," Michelson terkekeh dan tetap akan menyuapkan makanan tersebut ke dalam mulutnya.


Tetapi belum juga sampai masuk ke dalam mulut, Rose menampik tangan Michelson hingga sendok yang berisi makanan itu jatuh ke lantai.


"Sayang, kenapa sih? aku ini sudah sangat lapar."