
Rose kini membawa Mamah Berta ke rumah sakit untuk di cek kesehatannya.
"Dok, bagaimana kondisi mamah saya? apakah dia baik-baik saja, karena baru saja menjadi korban penculikan." Tanya Rose pada dokter yang biasa merawat Mamah Berta.
Dokter tersebut tidak stand by di villa karena dia juga buka praktek di rumah sakit dimana saat ini, Rose membawa Mamah Berta ke sana.
"Iya, nona. Saya juga sempat mendengar kabar tersebut. Puji Syukur sejauh ini kondisi mamah anda baik-baik saja tidak ada yang serius. Tidak terlihat rasa ketakutan atau trauma." Tukas dokter.
"Syukurlah, lega rasa hati ini. Oh ya, dok. Bagaimana bila mamah di rawat di rumah sakit saja ya? tapi saya akan berdiskusi dengan suami saya terlebih dulu," Tukas Rose.
Dia langsung meraih ponselnya dan menelpon suaminya. Michelson yang kebetulan sudah terbangun dari tidurnya, lekas meraih ponselnya.
"Mommy, kamu ada dimana kok aku bangun nggak ada di kamar? kebiasaan banget suka menghilang!"
"Daddy lekas ke rumah sakit A, nanti aku jelaskan kalau Daddy sudah sampai di rumah sakit saja."
Mendengar kata rumah sakit, Michelson langsung panik. Dia langsung mematikan ponselnya dan berlari kecil ke arah pelataran rumah.
"Roy, lekas ke rumah sakit A!" perintahnya, Roy sempat menatap heran pada majikannya yang terlihat begitu paniknya.
"Aduh, bagaimana bisa Rose ada di rumah sakit? apa yang sebenarnya terjadi, semoga janinnya tak apa-apa."
Kepanikan terus saja melanda hati Michelson, karena Rose tak menjelaskan secara langsung siapa yang ada di rumah sakit. Gelisah terus saja melandanya hingga sampai di rumah sakit Michelson langsung mencari Rose.
"Mommy, apa kamu tak apa-apa? mana yang luka, mana yang sakit? kamu kenapa bisa ada di sini?" serentetan pertanyaan keluar dari mulut Michelson.
Rose memicingkan alisnya melihat kepanikan terlihat pada wajah suaminya.
"Daddy, aku sehat dan tak sakit apa-apa. Aku memintamu datang kemari karena ingin meminta pendapat darimu dan izin. Bolehkah jika mamah di rawat di rumah sakit ini?"
Kemudian Rose menceritakan apa yang sempat terjadi beberapa menit yang lalu. Michelson sama sekali tak menyangka jika di saat dirinya tidur pulas, istrinya malah sedang bertarung dengan bahaya.
"Mommy, sudah aku katakan berapa kaki padamu supaya jika ada hal yang penting bicara padaku, jangan kamu tangani seorang diri. Aku itu suka khawatir dengan kandunganku, mommy."
Michelson merasa geram karena istrinya keras kepala tak pernah dengar segala nasehatnya.
"Aku minta maaf, Daddy. Waktu itu aku nggak ingin menggangu waktu istirahat, Daddy. Jadi aku memutuskan untuk mengatasinya sendiri. Yang terpenting semua masalah sudah kelar. Kini Tian Diego sudah di bawa aparat polisi."
"Jangan lagi-lagi menggampangkan sebuah perkara..Dan selalu beranggapan kamu mampu hadapinya sendiri tanpa perlu bantuan ku!"
"Daddy, sudahlah jangan di perpanjang toh ini bukanlah suatu masalah." Tukas Rose mencoba menenangkan hati suaminya yang sedang emosi.
"Hem, baiklah. Sekarang kan sudah aman tidak ada lagi Om Jason dan Reyhan. Jadi sebaiknya di rawat di rumah sakit ini nggak apa-apa. Hem tapi menurutku, lebih baik di rawat di rumahku saja. Supaya lebih aman juga."
Akhirnya di putuskan jika, Mamah Berta akan di rawat di Mension Michelson. Sesuai dengan keinginan Michelson. Rose pun tak membantah kemauan suaminya yang terpenting adalah yang terbaik untuk mamah mertuanya.
Lagi-lagi Michelson menggelengkan kepalanya dengan tindakannya g di lakukan oleh istrinya yang menurutnya sangtlah pemberani.
"Aku punya istri terlalu berani hingga akhirnya aku kadang merasa diriku ini tidaklah ada artinya sama sekali. Karena dia apa-apa merasa sanggup di atasi sendiri,"batin Michelson kesal.
********
"Aduh, kenapa aku ingin sekali makan nasi goreng buatan Michelson. Aku nggak tega karena dia sudah tertidur dengan pulasnya. Tapi kenapa nggak bisa di tahan sih, kepengen banget," Rose berbicara sendiri.
"Pengen apa sih, mommy sayang?" Michelson terbangun karena mendengar Rose berbicara sendiri.
"Eh, Daddy bangun?" Rose menatap Michelson yang saat ini sudah duduk di ranjang dan beberapa kali mengusap-usap matanya.
"Iya, karena kamu gerak-gerak terus ngomong sendiri lagi. Apa tadi kamu bilang pengen... pengenalan sih sayang? pengen anu ya?" Michelson tersenyum seraya mengedipkan sebelah matanya.
Rose mengerutkan dahinya, bingung tak mengerti dengan kode mata yang di berikan oleh Michelson.
"Kenapa kedap kedip begitu, Daddy kelilipan atau bagaimana?" Rose heran dengan tingkah suaminya.
"Sayang...aku ngasih kode kamu loh ini, masa kamu nggak peka sih mommy." Michelson kesal.
Sementara Rose semakin tak paham. Masalah yang dia hadapi membuatnya sedikit lemot.
"Apaan sih, sudah lah mumpung kamu bangun, aku mau nasi goreng dong, Daddy. Tetapi kamu yang masak ya?" Rose merayu Michelson dengan mengusap dada suaminya.
"Kamu lapar?" Michelson mengusap kepala Rose dengan penuh kasih sayang.
"Iya, masakin ya Daddy... please.."
Rose memohon dengan wajah memelas, Michelson sungguh tak tega melihat muka memelas istrinya itu akhirnya ia pun mengangguk perlahan.
"Apa sih yang nggak buat, mommy?" Michelson mencolek dagu Rose.
"Nggak usah gombal dech, Daddy. Cepat masakin, aku sudah lapar sekali." Rengek Rose.
"iya, mommy sayang. Aku mau cuci muka dulu." Michelson mengecup pip Rose sejenak, lalu dia berlalu menuju ke kamar mandi.
Krekkk....
Tak lama kemudian pintu kamar mandi pun terbuka, Michelson datang menghampiri Rose dan menarik tangan istrinya itu perlahan keluar dari dalam kamarnya.
"Kamu mau di masakin apa, mommy?" tanya Michelson seraya berjalan berdampingan dengan Rose menuruni anak tangga satu persatu.
"Ckckck..apa Daddy sudah pikun, tadi aku sudah katakan jika aku pengen nasi goreng bukan." Rose Sewot.
Sedangkan Michelson bukannya kesal di katakan pikun, tetapi malah terkekeh.
"Kamu itu memang beda dari yang lain, mommy. Mana ada orang minta di masakin sama suaminya tapi masih sempat-sempatnya mengatai suaminya, seharusnya kamu rayu aku dong. Tapi nggak apa-apa aku suka kamu yang seperti ini. Terlihat berbeda dari orang lain dan aku sangat mencintaimu.
Cup ...
Sebuah kecupan manis Michelson berikan di bibir Rose. Rise tak protes, dia hanya tersenyum. Kemudian mereka melanjutkan langkahnya lagi, hingga akhirnya mereka sampai di dapur.
"Kamu duduk manislah di sana, mommy. Aku akan tunjukkan keahlian memasakku. Ucap Michelson yang saat ini sudah mengeluarkan nasi dari ruce cooker.
Rose menurut, wanita itu hanya duduk diam memperhatikan Michelson yang mulai sibuk dengan peralatan dapur di hadapannya.