Wonder woman

Wonder woman
Kembali Berulah



Mata itu terus saja menatap keluar jendela, sedari tadi. Pandangannya lurus tak teralihkan, Rose yang melihat itupun menghela napasnya perlahan. Kaki-kaki jenjangnya melangkah menghampiri suaminya, kemudian menepuk pundaknya perlahan.


"Daddy, apa yang sebenarnya sedang kamu pikirkan?" Rose menautkan kedua alisnya.


"Aku merindukan, mamah. Tapi aku tak tahu saati ini dia entah berada di mana? masih hidup atau telah tiada?"


"Jadi, Daddy masih punya orang tua?"


"Iya, mom. Aku masih punya seorang mamah, tetapi sekarang ini entah ada dimana? bertahun-tahun aku selalu mencarinya, tetapi tak pernah berhasil bertemu dengan, mamah."


Jelas terlihat mata, Michelson berkaca-kaca.


"Daddy, kenapa dari awal tak pernah cerita padaku tentang hal ini? Daddy kan sering masuk acara televisi, masa iya mamahnya nggak pernah melihat, Daddy dan mencari Daddy?"


"Entahlah, mom. Aku memang sengaja melakukan hal itu, setiap mengadakan acara apapun aku sengaja mengundang beberapa wartawan supaya bisa di siarkan secara langsung, dengan harapan aku bisa bertemu dengan, mamah."


"Bahkan beberapa kali, aku juga mengadakan sayembara, yakni siapa saja yang bisa menemukan keberadaan mamahku akan aku hadiahi uang yang banyak. Tetapi tidak ada yang datang juga kemari."


Rose sangat fokus mendengarkan cerita dari suaminya. Dia pun memberanikan diri bertanya lagi.


"Daddy, maaf jika aku ingin tahu. Sebenarnya bagaimana kisahnya kok Daddy bisa terpisah dengan, mamah?"


Michelson menceritakan kisah masa lalunya.


Pada saat dirinya masih berusia balita, dia bersama dengan orang tuanya berlibur dengan naik pesawat.


Akan tetapi pesawat alami kecelakaan, dan meledak. Tetapi dirinya sempat keluar terlebih dulu dari pesawat bersama dengan papahnya.


Akan tetapi entah bagaimana dengan mamahnya. Karena jazadnya juga tak di ketemukan hingga saat ini. Hanya dirinya dan papahnya saja yang selamat. Karena pada saat itu, mamahnya mendorong papahnya dan dirinya terjun ke lautan lepas.


Rose merasa iba pada suaminya. Sebesar apapun kerinduannya takkan bisa terobati, karena dia takkan bisa bertemu dengan mamahnya lagi.


"Apa, Daddy merasa mamah masih hidup? karena sekian lamanya berpisah?"


"Aku masih berharap mamah hidup, karena bertahun-tahun tidak di temukan jazad mamah."


"Aku berharap, saat ini mamah hanya terdampar di pulau lain. Tapi hingga kini pencarianku belum juga membuahkan hasil."


"Sabar ya, Daddy. Sebentar lagi pasti Daddy bisa bertemu dengan, mamah." Rose mencoba menghibur hati suaminya.


"Entahlah, mom. Aku hampir putus asa."


"Jangan begitu, Daddy. Putus asa itu dosa, jika Daddy berkeyakinan mamah masih hidup. Yakini jika kalian akan segera bertemu."


"Terima kasih, mommy. Aku beruntung punya istri seperti dirimu. Walaupun kadang suka membuatku cemas dengan sikap yang aneh."


Michelson mengalihkan pembicaraan, supaya dia tak berlarut dalam kesedihannya. Dia pun memeluk erat istrinya.


*******


Malampun tiba, Rose dan Michelson telah terlelap dalam tidur nyenyaknya. Akan tetapi, tiba-tiba ponsel Rose bergetar. Ada satu notifikasi pesan masuk ke dalam ponsel.


"Drt drt drt drt drt"


"Haduh, siapa lagi yang tengah malam kirim chat pesan?"


Rose langsung membuka chat pesan tersebut.


[Lihat saja, Rose. Aku telah membakar rumah peninggalan orang tuamu! Itu semua karena ulahmu padaku yang tak mau menurut!"]


"Siapa ini, apa Raymond lagi? apa iya rumah peninggalan orang tuaku di bakar? ah aku kok jadi penasaran?"


Rose memakai jaketnya untuk mengecek kondisi rumahnya. Dia tak rela rumah yang penuh kenangan bersama orang tuanya terbakar begitu saja. Walaupun saat ini telah di tempati oleh, mamah tiri dan adik tirinya.


"Aku harus cepat sebelum, Michelson bangun."


Kemudian Rose membuka jendela kamarnya, dan segera keluar dari sana.


Di gerbang rumah sudah menanti, Celine yang akan membawanya mengecek kondisi rumahnya.


"Nona, sebenarnya kita akan kemana di tengah malam seperti ini?"


"Jalankan saja mobilnya sesuai arahanku, nanti kamu juga tahu!"


"Baiklah, nona."


"Sialan, aku telah di tipu orang!" Rose mengepalkan tangannya erat-erat marah, kesal, dan benci berbaur menjadi satu di dalam hatinya.


Sementara itu di dalam kamar, Michelson terbangun dari tidurnya. Ia ingin mengambil air minum untuk mereda tenggorokannya yang kering. Akan tetapi ia mengurungkan niatnya, saat di sampingnya tidak ada keberadaan istrinya.


"Kemana lagi, Rose tengah malam seperti ini?" Ia melihat jaket istrinya tak ada di tempatnya.


Hati Michelson semakin gelisah pada saat nomor ponsel, Rose tak bisa di hubungi. Michelson coba menelpon Celine juga tak aktif nomor ponselnya.


Michelson bertambah panik, dia khawatir terjadi apa-apa pada istrinya di luar sana.


"Kemana dia sebenarnya, apa dia ada masalah hingga harus pergi tengah malam begini?" tanya Michelson pada dirinya sendiri.


Dia duduk di atas kasur seraya mengepalkan tangannya erat.


"Kenapa dia tak membangunkan aku, aku kan bisa mengantarnya jika dia memintaku!" Michelson sangat kesal.


"Sialan, dia membuatku khawatir saja! apa aku harus mencarinya, tetapi dimana aku harus mencarinya, sedangkan aku tak tahu dia pergi kemana?" Michelson mengusap wajahnya dengan kasar.


Ia sungguh bingung harus bagaimana sekarang.


Sementara saat ini, Rose sedang dalam perjalanan pulang. Dia khawatir suaminya telah terbangun.


Sesampainya di rumah, Rose berusaha memanjat jendela kamar miliknya, ia tak tahu jika Michelson sudah bangun dan menunggunya di sofa yang tersedia di kamarnya.


Berbekal keahliannya Rose pun berhasil masuk ke dalam kamar itu dengan sangat mudahnya. Ia semakin heran dan tak percaya dengan kelakuan istrinya akhir-akhir ini.


"Apa aku salah melihat, aku tak salah melihat kan? " tanya Michelson pada dirinya sendiri.


Rose yang melihat Michelson tengah duduk di sofa sama terkejutnya dengan pria itu. Jantungnya merasa mau copot, ia memejamkan matanya erat bersiap menerima ocehan dari suaminya.


"Kamu dari mana saja? sudah aku katakan jangan lewat jendela! tetapi kamu masih saja melakukan hal itu!"


Seketika tubuh Rose menegang , wanita itu gugup dan bingung harus menjawab apa.


"Ternyata, Daddy sudah bangun?" Rose berusaha mengalihkan pembicaraan.


Michelson semakin menatap tajam Rose.


"Jawab pertanyaan aku, kamu tidak tahu ya? aku di sini khawatir setengah mati. Ingin mencarimu tapi tak tahu harus mencarimu kemana."


Rose menghela napas panjang, dia tak mungkin menceritakan kemana barusan dia pergi. Hingga ia memutuskan untuk meminta maaf.


"Daddy, aku minta maaf. Tadi aku ada urusan mendadak."


Rose tak berani menatap wajah Michelson, dia mah tertunduk.


"Urusan apa tengah malam begini, kenapa kamu tak membangunkan aku dan memberi tahu aku terlebih dahulu. Sebenarnya kamu menganggap aku ini apa?" teriak Michelson membuat Rose menarik napas panjang.


Dia tak ingin hal ini menjadi masalah yang berkelanjutan. Tetapi jika dia cerita juga pasti semuanya terbongkar.


Bagaimana dia membebaskan Celine dari cengkraman, Raymond.


"Aku harus bagaimana, jika aku katakan telah mendapat teror dari Raymond. Pasti dia akan memburu Raymond. Dan pasti pula, Raymond akan cerita kejadian waktu itu. Aduh, serba salah jadinya."


Batin Rose semakin gelisah.


"Daddy, bukankah aku telah meminta maaf. Kenapa Daddy masih saja marah? jujur saja tiba-tiba aku ingin makan di luar, makanya aku pergi begitu saja."


"Aku nggak ingin merepotkanmu, Daddy. Nggak tega jika tengah malam aku membangunkanmu. Dan aku juga gugup makanya aku lewat jendela supaya lekas sampai di pagar halaman."


Rose terus saja menundukkan kepalanya. Sementara Michelson merasa tak tega dengan istrinya.


"Oh iya, dia kan sedang hamil. Mungkin dia pengen sesuatu tetapi tak ingin mengganggu tidurku."


"Mommy, tolong lain kali jangan seperti ini lagi. Aku kan sudah katakan, aku akan selalu jadi suami siaga. Jadi entah itu tengah malam ataupun dini hari, jika kamu inginkan sesuatu tak usah sungkan. Masa dengan suami sendiri kamu seperti ini?"


Michelson memeluk tubuh, Rose dan mengecup pucuk rambutnya.


"Mommy, aku itu khawatir denganmu. Apa lagi kamu saat ini sedang hamil."


"Iya, Daddy. Aku minta maaf ya."


Saat itu juga, Michelson mereda marahnya.