
Mendengar apa yang di katakan oleh, Rose. Tuan Kenand sama sekali tak keberatan dia menyanggupi persyaratan untuk kerjasama dengan, Rose.
"Baiklah, Nona Rose. Saya akan penuhi persyaratan untuk kerjasama kita. Saat ini juga saya akan pecat, Siska. Dan saya harap anda juga tidak ingkar janji akan melanjutkan langkah ke depan untuk kita bekerjasama," ucap Tuan Kenand.
"Saya tak butuh janji, tapi bukti Tuan. Saya inginkan saat ini juga Tuan pecat dia. Jika sudah benar-benar dia tak ada di kantor anda, barulah saya bersedia melanjutkan pembicaraan kerja sama kita," ucap Rose tegas.
Tuan Kenand pun pamit untuk segera mengurus Siska terlebih dulu. Barulah dia akan kembali besok ke kantor Rose lagi. Setelah beberapa menit perjalanan, sampai juga Tuan Kenand di Perusahaannya sendiri.
Dia langsung meminta Siska untu menemui dirinya di ruangannya.
"Ada apa ya, Tuan?" Siska menjatuhkan pantatnya di sofa depan Tuan Kenand saat ini duduk.
"Kenapa kamu gagal untuk merayu Nina Rose mengadakan kerjasama dengan perusahaan ku?" tanya Tuan Kenand menyelidik.
"Saya juga tak tahu alasan jelasnya apa, Tuan. Saya juga sudah membujuknya tetapi dia berkeras hati tak mau melanjutkan pembicaraan kerja sama kita," ucap Siska tanpa ada rasa bersalah.
"Hem, apa kamu sebelumnya kenal dengannya? hingga dia seperti tak suka padamu?" tanya Tuan Kenand lagi menyelidik.
"Kenal, saya sama sekali tak mengenalnya Tuan. Ketemu saja baru tadi pagi," ucap Siska berbohong.
"Siska, ternyata kamu ini bukan wanita yang baik. Aku salah telah menilai dirimu, aku pikir kamu ini lain dari pada yang lain, tetapi ternyata hanyalah seoran LG pembohong kecil," sindir Tuan Kenand.
"Maaf, tuan. Saya tidak paham dengan arah pembicaraan, Tuan. Saya berbicara apa adanya tetspi kenapa saya di katakan sebagai pembohong?" tanya Siska menahan amarahnya.
"Ya kamu pembohong dengan mengatakan jika kamu tidak kenal dengan, Nona Rose. Dia telah menceritakan semua tentang dirimu."
"Jadi tadi Tuan dari perusahaannya? kenapa Tuan percaya padanya begitu saja, kenapa tidak percaya padaku?" ucap Siska memelas.
"Sudahlah, Siska. Kamu tak perlu banyak bicara, saat ini juga saya putuskan untuk merumahkan kamu. Dan ini uang pesangon untukmu."
Tuan Kenand memberikan amplop putih berisikan sejumlah uang pada Siska.
"Tuan, kenapa saya di rumah kan? selama saya bekerja di sini tidak pernah melakukan kesalahan fatal," ucap Siska menolak di rumahkan.
"Justru kesalahan kamu ini sangat fatal, yakni kamu berbohong padaku dan tak jujur padaku. Sudahlah, aku tak ingin banyak bicara lagi denganmu. Ini terima saja uang pesangon dariku, dan carilah kerja di tempat yang lain. Ini surat pemecatan untuk dirimu."
Setelah itu Tuan Kenand meminta Siska untuk segera keluar dari ruang kerjanya. Siska pun tak bisa membunuk Tuan Kenand lagi. Hingga dengan langkah yang penuh keterpaksaan, Siska beranjak pergi dari ruang kerja Tuan Kenand.
"Sialan, Rose. Selalu dia yang menggagalkan aku untuk menjadi orang kaya! kenapa selalu saja aku bertemu dirinya di saat usahaku baru aku mulai. Seperti ini aku gagal untuk bisa menikah dengan Tuan Kenand," batin Siska kesal.
Dia sama sekali tak bisa berkutik jika sudah berhadapan dengan, Rose. Dia juga tak bisa mengalahkan Rose sama sekali.
"Awalnya aku bisa mengalahkan dia dengan merebut Raymond. Tetapi setelah itu aku selalu saja di kalahkan olehnya. Belum pernah aku unggul darinya. Kenapa keberuntungan tusak berpihak padaku?" batin Siska semakin kesal.
"Kamu pikir aku akan membiarkan dan memaafkan apa yang telah mamahmu dan kamu lakukan pada mamahku dan aku? sampai kapanpun aku pastikan kamu akan selalu hidup sengsara. Aku tak rela jik kamu hidup bahagia," batin Rose
Dia tripikal wanita keras dan pendendam. Jika dia di sakiti orang, dia takkan gampang untuk memaafkannya. Apalagi menyangkut dengan orang tuanya.
********
Esok menjelang, Tuan Kenand sangat antusias untuk lekas bertemu dengan, Rose. Diam-diam dia mengagumi sosok Rose yang sangat tegas.
"Tegar sekali, Rose. Padahal dia sedang hamil dan dengar-dengar suaminya juga sedang alami koma susah cukup lama. Tetapi semangatnya sungguh pantas di acungi jempol."
"Satu orang memimpin dua perusahaan besar dan juga dia butik serta garmen. Itu menurut aku tidaklah mudah, apa lagi dia hanya seorang wanita hamil."
"Tuan, apa sudah bisa kita mulai pembicaraan kerja sama kita?" tanya Rose membuyarkan lamunannya.
"Bisa, Nona Rose. Biarkan saya jelaskan dulu cara kerja di perusahaan saya supaya anda paham," ucap Tuan Kenand.
Rose hanya mengangguk pelan seraya tersenyum tipis. Saat itu juga Tuan Kenand menjelaskan segalanya. Dan Rose begitu seksama mendengarkan apa yang sedang di jelaskan oleh, Tuan Kenand. Sementara Rika bertugas untuk mencatat semua yang penting yang sedang di katakan oleh, Tuan Kenand.
Setelah beberapa menit Tuan Kenand menjelaskan semuanya, dia pun mengakhiri penjelasannya.
"Bagaimana, Nona Rose? apakah ada yang kurang di pahami, biar saya jelaskan lagi," Ucap Tuan Kenand.
"Hem, saya rasa cukup Tuan. Saya sangat paham dengan apa yang barusan anda ucapkan tadi. Jadi tak perlu di ulang," ucap Rose seraya dia meniru apa yang di katakan oleh Tuan Kenand.
"Anda memang cerdas, Nona Rose. Hanya sekali saja saya menjelaskan, anda telah paham dan bisa meniru semua yang saya katakan tadi," puji Tuan Kenand.
"Hem, tak usah berlebihan dalam memuji saya. Baiklah, kita langsung saja dengan pokok kerja sama kita. Ada beberapa berkas yang harus anda tangani, Tuan Kenand. Tapi sebelum anda tanda tangani, tolong anda baca dulu rinciannya, supaya tidak gagal paham. Dan supaya suatu hari nanti tidak ada selisih paham." Rose meletakkan beberapa berkas di hadapan, Tuen Kenand untuk di tandatangani.
Sejenak Tuan Kenand membaca masing-masing berkas tersebut dan satu persatu dia tanda tangani dengan menyunggingkan senyumnya di bibir. Dia sangat puas karena berhasil menjadi salah satu klien di perusahaan milik, Rose.
"Hem, akhirnya aku berhasil juga. Aku setia hari jadi bisa bertemu dengan wanita cantik di hadapanku ini. Walaupun dia sedang hamil, tetapi kecantikannya sungguh paripurna."
"Untung saja ada kasus, Siska. Jika tidak pasti aku akan menyerahkan semua urusan kerja sama ini pada Siska dan aku tak bisa melihat wajah ayu, Rose."
Tuan Kenand terus saja berkata di dalam hatinya. Seraya terus saja menandatangani beberapa berkas tersebut.
"Sudah selesai, Nona Rose. Semua sudah saya tanda tangani. Kalau begitu saya permisi pulang."
"Terima kasih anda telah bersedia bekerja sama dengan perusahaan kecil punya saya."
Keduanya saling berjabat tangan. Rise pun tersenyum ramah pada, Tuan Kenand.