
Rose merasa semuanya terlalu cepat, karena baru kemarin dia baru saja bertemu wanita itu dan menyelamatkannya serta mendapatkan imbalan yang tak terkira. Dan kini wanita itu berjuang dan kondisinya pun sedang tidak baik-baik saja.
"Keluarga, Nyonya Lani?" panggil dokter Santoso sesaat setelah keluar dari kamar rawat Nyonya Lani.
"Saya asistennya, dok. Keluarganya sedang menuju kemari," ucap Meo pada dokter Santoso.
"Mohon maaf, pak. Nyonya Lani sudah menyerah dan dia sudah berpulang kepada Tuhan Yang Maha Esa," ucap Dokter Santoso membuat Meo terkejut kemudian pria itu tampak meneteskan air matanya yang segera ia usap dengan tangannya.
Sementara Rose masih terdiam, kali ini ia bingung tak seperti biasanya yang mudah mengatasi situasi dan kondisi.
"Baik dok terima kasih atas usaha dokter," ucap Meo pada Dokter Santoso sebelum dokter itu pergi dari hadapannya.
Tak lama setelah dokter itu pergi seorang wanita berpakaian glamour dengan sepatu hak tingginya datang dengan tergesa-gesa menghampiri, Meo. Rose yakin jika wanita itu adalah menantu dari, Nyonya Lani.
"Bagaimana, bagaimana kondisi mamah?" tanya wanita itu sama sekali tak menunjukkan rasa kekhawatirannya yang ada hanya wajah bahagia yang membuat Rose geram melihatnya.
"Maaf, nona. Nyonya Lani sudah berpulang ke Yang Maha Kuasa," ucap Meo lirih pelan saat mengatakan akan jal itu.
Bukannya menangis, menantu dari Lani malah justru semakin melebarkan senyumnya dan itu sangat membuat Rose emosi. Bahkan Rose sudah mengepalkan tangannya erat-erat bersiap-siap untuk menjambak rambut wanita di hadapannya itu.
"Em.. kalau begitu kapan warisan itu akan di bagikan, pastikan perusahaannya jatuh ke tanganku ya? nanti kamu akan saya beri imbalan yang banyak jika perusahaan itu jatuh ke tanganku," ucap wanita itu membuat Meo mental tak suka padanya.
Jelas tak suka bisa-bisanya wanita itu memikirkan warisan di saat baru saja Ibu mertuanya meninggal.
"Maaf Nona, tapi Nyonya Lani telah membagi warisannya tadi dan untuk perusahaan itu telah jatuh ke tangan, Nona Rose."
Ucap Meo menjelaskan yang tentu saja membuat menantu Nyonya Lani marah besar.
"Siapa itu, Rose?" teriak wanita itu membuat Rose tersenyum sinis.
"Saya," ucap Rose dengan suara lantangnya kemudian ia menghampiri menantu Nyonya Lani dan dalam hati ia berkata.
"Serangga sepertimu bukanlah apa-apa untukku."
"Oh ternyata kamu yang namanya, Rose. Kamu pikir kamu siapa hingga kamu mau menerima warisan itu ha. Asal kamu tahu saya yang berhak menerima warisan itu bukan wanita rendahan seperti dirimu!" teriak Linda pada saat Rose tepat berada di hadapan wanita itu.
"Ckck.. tak usah berteriak. telinga saya masih berfungsi dengan normal lagi pula dengan kamu berteriak seperti itu menunjukkan betapa tak berkelasnya dirimu. Dan asal kamu tahu perusahaan itu kapanpun tak akan jatuh ke tanganmu, karena akulah pemilik sah perusahaan itu." ucap Rose senyum tipis.
Tangan Linda terangkat saat mendengar perkataan yang Rose ucapkan tersebut. Wanita itu ingin menampar pipi mulus Rose, namun Rose terlebih dahulu mencekal tangan tangannya begitu kuat.
"Kamu yakin mau menamparku?" tanya Rose senyum tipis, wajahnya sungguh meremehkan Linda.
"Ya kenapa aku harus ragu." ucap Linda tanpa ada rasa takut tanpa tahu apa akibatnya yang akan ia terima nanti setelah menampar, Rose.
"Kalau begitu tampar aku!" ucap Rose melepaskan tangan Linda.
Tanpa pikir panjang Linda langsung menampar pipi, Rose. Rose sama sekali tak kesakitan karena ia sudah biasa mendapatkan rasa sakit yang lebih dari pada itu.
Ros mencekal lengan Linda dan menyeretnya paksa membawanya ke gudang dekat rumah sakit tersebut.
"Lepaskan, kamu mau membawa aku ke mana hah?" teriak Linda namun Rose sama sekali tak peduli.
Wanita itu terus berjalan tanpa melihat orang-orang yang saat ini tengah memandangnya aneh. Saat ia melewati seorang perawat yang membawa gunting dan pisau, Rose mengambil itu tanpa meminta izin pada perawat yang membawanya.
Perawat itu terkejut dan berteriak pada, Rose, akan tetapi Rose lagi-lagi tak peduli. Sedangkan Linda mulai ketakutan saat melihat, Rose membawa gunting itu dan dirinya masuk ke dalam gudang yang cukup gelap dan pengap.
Rose menghempaskan tubuh Linda ke atas lantai. Kemudian wanita itu mengunci gudang tersebut dari dalam. Matanya menatap tajam pada wanita saat ini tengah menatapnya ketakutan.
"Kenapa, takut ya. Ke mana sifat angkuhmu tadi, nona? ke mana nada suaramu yang tinggi tadi, kenapa sekarang kamu hanya diam setelah kamu dengan beraninya menamparku, Hem?" Rose mencengkram dagu Linda.
"Lepaskan aku, keluarkan aku dari sini. Kenapa kamu membawaku ke sini, hah?" teriak Linda yang membuat Rose semakin geram dan lebih kuat lagi dalam mencengkram dagu, Linda.
"Akh, ini sakit sekali lepaskan aku," ucap Linda dengan air mata yang mulai membasahi pipinya.
"Kamu sudah salah mencari lawan, nona. Kali ini aku takkan melepaskanmu karena kamu sendiri yang mengajakku bermain bukan? jadi aku turuti kemauanmu. Sekali lagi kamu teriak dan berontak. Akan aku buat lidahmu terpotong dan aku jamin hidupmu takkan lama lagi."
"Tapi jika kamu tak berontak dan diam mungkin aku akan meringankan hukumanmu." Ucap Rose terkekeh pelan, karena takut Linda pun tak berontak lagi.
"Nah, begitu kan bagus aku jadi lebih leluasa bermain-main denganmu. Lagi pula kamu sepertinya senang sekali melihat mertuamu meninggal. Menantu macam apa kamu ini sebenarnya?"
Rose sedikit kesal karena sifat wanita itu yang lebih mementingkan harta dari pada mertuanya sendiri.
"Sudah tua ya wajar kalau mati, jadi untuk apa pula aku menangis," ucap Linda ketus yang membuat Rose semakin benci pada wanita di hadapannya itu.
"Em, begitu ya? bagaimana kalau aku buat kamu menyusulnya di akhirat?" tanya Rose dengan wajah polosnyaysng ia tunjukkan kepada Linda.
"Tidak, jangan bunuh aku," ucap Linda seketika ketakutan.
Wanita itu mundur, ia tak berani berdekatan terlalu lama dengan Rose, apalagi ia membawa gunting di tangannya.
"Kata siapa aku mau membunuhmu? justru aku akan merubah penampilanmu menjadi lebih menarik agar orang-orang tak henti-hentinya memandang wajahmu."
Tangan Rose terulur mengusap wajah lembut milik, Linda.
"Kulit wajahmu halus sekali, bagaimana jika aku merusaknya? Hem tidak-tidak, aku tak akan memberikan pelajaran yang berat padamu. Cukup dengan aku membalas tamparan yang sudah kamu berikan tadi kepadaku dengan cara yang sama."
Rose melayangkan tangannya ke pipi Linda dengan sangat keras hingga tamparan itu membuat pipi Linda memerah dan mengeluarkan sedikit darah dari sudut bibirnya.
"Aaahhh tolong lepaskan aku, aku mohon."
Teriak Linda memohon ampun namun tak di dengarkan oleh, Rose.