
Entah bagaimana sejak dirinya di nyatakan hamil, banyak sekali perubahan yang terjadi dalam dirinya.
Perasaan sensitif, mudah takut, dan banyak hal yang bukan asli sifatnya kini harus dia miliki.
"Sebenarnya jika aku tak mengkhawatirkan anak di dalam kandungan aku, semua akan aku terjang walaupun itu sebuah bahaya."
"Akan tetapi aku selalu ingat pesan dari suamiku untuk benar-benar menjaga anak ini. Aku tak ingin membuat kecewa dirinya yang telah mengangkat aku dari lembah kemiskinan."
Malam hari pun tiba, saat ini Rose telah terlelap dalam tidurnya. Michelson baru saja pulang dari kantor. Pria tersebut berjalan meletakkan tas dan juga jas kerjanya di atas kasur, matanya melirik ke arah Rose yang saat ini matanya memejamkan matanya dengan erat.
Tangan Michelson mengusap pipi Rose lembut, membuat wanita yang sedari tadi tertidur pulas itu pun langsung membuka matanya dan menatap tajam, Michelson.
"Ckck..beginilah kelakuanmu ketika aku tidur, Daddy?" tanya Rose saat dia baru membuka matanya.
Respon mendadak dari istrinya tersebut sungguh membuat Michelson salah tingkah.
Michelson langsung menjauhkan tangannya dari pipi Rose. Dia memberikan sebuah alasan untuk menutupi rasa malunya.
"Tadi ada nyamuk di pipimu, aku hanya membantumu mengusirnya. "
Jawab Michelson berbohong, dia berusaha terlihat setenang mungkin agar Rose tak mengejek dirinya lagi.
"Benarkah...?" tanya Rose dengan nada menggoda. Rose tahu jika Michelson sedang salah tingkah sekarang makanya dari itu dia senang menggoda, Michelson.
"Lupakan apa yang aku lakukan tadi."
Rose tak ingin membahasnya lagi. Dia mulai membuka dasi suaminya dengan perlahan.
Michelson tertegun pada saat melihat Rose yang begitu telaten melepaskan dasi yang menggantung di lehernya.
"Apa yang akan kamu lakukan, mommy?" tanya Michelson pada saat
Rose sudah selesai melepaskan dasinya dan sedang berusaha melepaskan kancing kemejanya satu persatu. Rose tersenyum melihat wajah heran suaminya, dia semakin tak ingin melepaskan tangannya.
Wajah panik dan tegang yang Michelson tunjukkan seakan menjadi tontonan yang menarik untuk Rose lihat.
"Daddy, kamu pasti pikirannya sudah traveling kemana-mana, iya kan? apa aku salah membantu suamiku melepaskan dasi dan kemejanya pada saat sepulang kerja?"
Sejak Rose hamil, banyak sekali tingkah aneh yang di lakukannya. Dan banyak sekali hal yang tak terduga yang selalu di kerjakan olehnya.
Pipi Michelson bersemu merah, dia pun berlalu pergi menuju ke kamar mandi meninggalkan, Rose yang masih tersenyum melihatnya.
"Aku tak menyangka, menggoda dia bisa membuatku senang seperti ini," ucap Rose terkekeh pelan.
"Sialan, kenapa sejak istriku hamil suka sekali bersikap aneh. Kenapa sekarang dia lebih berani terang-terangan menggodaku."
Gumam Michelson yang saat ini sedang berendam di dalam bathup.
Lima belas menit kemudian, Michelson belum keluar dari kamar mandi. Rose terkikik geli mengingat kejadian tadi, saat dia menggoda Michelson. Dia menatap kamar mandi yang masih tertutup rapat. Melihat hal itu Rose jadi ingin menggoda Michelson lagi dan lagi.
"Kenapa Daddy lama sekali apakah Daddy butuh bantuan menjinakkan adiknya yang telah berdiri karenaku?"
Teriak Rose menggoda Michelson yang masih ada di dalam kamar mandi.
"Dasar istri mesum... aku sama sekali tak butuh bantuanmu." Teriak Michelson dari balik kamar mandi membuat Rose tertawa terbahak-bahak.
Bahkan saking kerasnya dia tertawa sampai perutnya sakit karena itu. Michelson yang merasa di tertawakan pun langsung keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya.
"Mommy menertawakanku?" tanya Michelson seraya berkacak pinggang.
"Jangan pedean, ah sudahlah...lebih baik aku ambil minum dulu, tenggorokanku rasanya kering karena terlalu lama menggodamu."
Ucap Rose pada akhirnya memilih pergi dari kamar itu dan berlalu menuju ke dapur.
Michelson hanya bisa mengusap dada seraya menghela napas panjang melihat tingkah usil istrinya. Sering sekali Rose melakukan hal di luar nalar sejak dirinya hamil.
Pernah pula, Rose dengan sengaja mendandani wajah Michelson seperti seorang wanita di saat dia sedang tidur nyenyak. Dan pagi harinya, seluruh penghuni rumah tak bisa menahan tawanya melihat wajah Michelson.
"Apa memang seperti ini jika wanita sedang hamil? bertolak belakang dengan watak aslinya? padahal sebelum hamil, Rose tak pernah bercanda seperti ini."
"Dia juga selalu serius dan bahkan sangat terlihat dingin. Tetapi sekarang sejak hamil, dia begitu lebay dan penakut. Sering membuat jantung ini berdebar karena rasa khawatir yang di buatnya."
Michelson menyusul istrinya yang masih ada di dapur.
"Mom, kok lama sekali?"
"Hem, mendadak aku lapar Daddy. Ini sedang buat nasi goreng sama ceplok telor."
"Hemm...wanginya menggoda mom. Bagi dongg..."
Michelson langsung duduk menemani istrinya yang sedang membuat nasi goreng.
"Taraaaaa....sudah siap di santap.."
Rose menyajikan tiga piring nasi goreng, dengan menu telor ceplok dan sosis goreng.
"Sayang, ini kok ada tiga piring? satu piring untuk siapa?"
"Untuk anak kita dong, Daddy."
Jika malam seperti ini, Rose suka kelaparan semenjak hamil. Ada saja yang di santapnya di tengah malam.
"Mom, dulu aku pikir kamu nggak bisa masak karena kamu terlihat seperti seorang cowo dengan penampilan tomboy."
"Hem, tapi nyatanya aku bisa masak kan?" Rose menyantap nasi goreng dengan sangat lahap.
Begitu pula dengan Michelson. Semenjak istrinya sering bangun tengah malam, dia juga suka ikut makan seperti istrinya.
"Mom, kini perut kita saingan. Semenjak aku menikah denganmu dan semenjak kamu ngidam makan di tengah malam. Aku semakin hari semakin gemuk."
Michelson terkekeh pada saat memegang perut sendiri yang terlihat sudah agak gemuk.
"Syukuri saja, Daddy. Dari pada kurus nanti nama aku juga yang jelek, di kira aku ini tak mengurus mu dengan baik."
Keduanya makan dengan sangat nikmat seperti orang yang telah lama tak makan. Hanya dalam sekejap saja, nasi goreng tersebut ludes jenis tak bersisa. Kini mereka melangkah ke kamar lagi untuk beristirahat.
Sudah menjadi kebiasaan, sehabis makan menonton acara televisi bersama. Dan tak sadar nanti tertidur sendiri, dalam kondisi televisi masih menyala. Seperti yang terjadi pada malam ini.
Pagi menjelang, seperti biasa Rose pasti bangun lebih dulu. Dia selalu rutin menjalankan aktifitas paginya. Tak lupa dia juga suka berkeliling Mension yang luas di pagi hari sebelum suaminya terbangun.
Dia sengaja melakukan hal itu dengan tanpa mengenakan alas kaki. Berolah raga jalan sehat di sekeliling Mension memandang pepohonan yang rindang.
Rose sangat menikmati hari-harinya menjadi seorang istri pengusaha kaya raya dan dermawan.
"Hem, entah bagaimana nasibku jika dulu aku tak bertemu dengan pria dingin sedingin es seperti suamiku ini."
"Aku pikir sifatnya yang dingin pada semua orang akan berlaku pula padaku. Tetapi ternyata aku salah. Sifatnya sungguh romantis padaku."