
Sementara Rose di pindahkan ke ruang rawat, Michelson mengikutinya.
"Daddy, aku lega karena kondisi anak kita baik-baik saja. Tapi dokter menyarankan supaya aku dirawat inap untuk beberapa hari," tukas Rose menyunggingkan senyum.
"Iya, mommy. Puji syukur, anak kita kuat sekuat mommynya. Bagaimana dengan kedua pergelangan tanganmu?" tanya Michelson melihat kedua pergelangan tangan Rose yang ternyata sudah di balut perban.
"Sudah di obati kok, Daddy. Sama perawat, pasti sebentar lagi akan sembuh."
"Mommy, bagaimana kok mantan pacarmu dan pamanmu itu bisa menculikmu?" tanya Michelson penasaran.
Rose pun menceritakan awal mula kenapa dia bisa diculik oleh kedua orang tersebut.
Michelson hanya berhooh saat mendengar cerita dari istrinya, karena dia bingung harus berkata apa lagi. Otaknya sempat tegang melihat istrinya di culik. Kini giliran Rose yang bertanya pada Michelson.
"Deddy, bagaimana bisa jadi tahu tempat lokasi di mana aku diculik?" Rose bertanya balik.
"Celine yang menghungi aku," jawab Michelson.
"Bagaimana dia tahu, padahal pada saat aku berada di toilet dia tak mengikuti aku. Karena aku melarangnya. Nanti aku tanyakan hal ini padanya, jika situasi sudah tak tegang seperti ini. Dan aku akan pastikan, Raymond dan Paman Sam akan mendapatkan balasan setimpal dariku karena mereka mencoba membunuh anakku!" batin Rose.
Dia akan membalas semua yang di lakukan oleh Paman Sam dan Raymond.
Beberapa jam kemudian, Celine dan Roy datang ke rumah sakit dengan beberapa aparat polisi. Mereka akan meminta kesaksian dari, Rose tentang kasus penculikan tersebut.
"Celine, terima kasih ya. Atas bantuannya, jika tidak entah bagaimana dengan nasib anakku ini."
"Sudah jadi tanggung jawab saya untuk menjaga anda, Nona Rose." Celine menyunggingkan senyum.
"Bagaimana kondisi janin yang ada di dalam kandungan anda nona? ini pak polisi ingin menanyakan beberapa hal pada anda selaku adanya kasus penculikan terhadap anda ini." tukas Celine menjelaskan kedatangan beberapa aparat polisi ke rumah sakit tersebut.
"Puji syukur, janin aku baik-baik saja karena pertolongan kalian datang tepat pada waktunya," Rose mengulas senyuman seraya mengusap perutnya.
"Syukurlah jika begitu, nona."
Lantas Rose menanyakannya bagaimana bisa Celine menemukan tempat lokasi penculikan dirinya. Sejenak Celine meminta kesempatan waktunya pada aparat polisi untuk menjelaskan bagaimana dia bisa menemukan tempat persembunyian kasus penculikan terhadap Rose tersebut.
Celine menceritakan semuanya dari awal mula dia menunggu Rose yang begitu lama tidak kembali pula dari toiletnya hingga Celine menanyakan pada resepsionis tentang video rekaman CCTV yang ada di depan toilet.
Setelah Rose paham dengan cerita dari Celine dan tak merasa penasaran kembali kini giliran aparat polisi menanyakan banyak hal terhadap Rose tentang kasus penculikannya tersebut.
Setelah mendapatkan banyak keterangan dari Rose selaku korban penculikan aparat polisi pun berpamitan untuk kembali ke kantor guna mempelajari kasus Rose tersebut.
Bahkan Michelson meminta kepada pihak yang berwajib supaya memberikan hukuman yang seberat-beratnya kepada kedua tersangka karena mereka nyaris saja membunuh janin yang ada di dalam kandungan Rose.
"Celine, sekali lagi aku ucapkan terima kasih. Jika tidak ada dirimu, entah bagaimana anakku," ucap Rose kembali.
"Hanya satu pinta saya, nona. Lain kali jika saya ingin mengikuti anda kemanapun janganlah di larang. Karena saya tak ingin ada kejadian seperti ini lagi terjadi pada, anda."
Sejenak Rose tersipu malu, kala ingat betapa dia berkeras hati pada saat Celine ingin mengikutinya ke toilet.
"Baiklah, Celine. Aku minta maaf ya."
"Nona tak perlu minta maaf, adanya saya ingin selalu berada di samping nona karena kondisi nona sedang berbadan dua. Jika Nona sedang tidak hamil, saya tidak akan mengkhawatirkan kondisi, nona," tukas Celine.
Rose merasa beruntung karena mempunyai anak buah setia dan sebaik, Celine. Dia kini tak akan berbuat ceroboh lagi, memang aoa yang di katakan oleh Celine ada benarnya.
Selama ini Rose terlalu menganggap gampang semuanya. Menganggap dirinya kuat dan tak perlu bantuan orang lain. Michelson yang mendengar pembicaraan antara Rose dak Celine ikut mengernyitkan dahi.
"Hem, jadi mommy yang tak mau di ikuti oleh Celine. Daddy kan sengaja mempekerjakan Celine supaya tidak ada hal buruk yang menimpa, mommy." Michelson memanyunkan bibirnya.
"Daddy, aku minta maaf ya. Mulai hari ini dan selamanya aku tak akan berpegang pada pendirian sendiri. Aku juga tak ingin hal ini terulang lagi. Aku benar-benar trauma karena hampir saja aku kehilangan anak ini," ucap Rose menatap sendu Michelson.
"Iya, sayang. Tapi aku minta jangan hanya di bibir saja kamu berkata. Sementara sikap dan perbuatanmu tak mencerminkan kata-katamu. Seperti yang sudah-sudah kamu katakan tak akan lagi lompat dari jendela tapi ternyata kamu berkali-kali melakukannya." Sindir Michelson.
"Mommy, tidak selamanya kita bisa melakukan semuanya seorang diri. Suatu saat pasti kita akan butuh bantuan orang lain. Makanya mommy jangan pernah melakukan apa-apa sendiri apa lagi kini mommy sedang hamil," nasehat Michelson.
"Iya, Daddy. Aku paham kok, aku pikir aku tak ingin menjadi beban dan merepotkan orang lain." tukas Rose.
"Baiklah, aku percaya dengan perkataanmu ini. Jadi jangan pernah berbuat ceroboh lagi. Ada kalanya kita harus selalu waspada pula. Kamu telah di jebak oleh, Raymond dengan dia berperilaku sebagai seorang yang ingin memesan pakaian padamu," tukas Michelson.
************
Beberapa jam kemudian, Mamah Berta datang ke rumah sakit di temani oleh Paman Mike dan beberapa anak buah Michelson serta perawat dari Mamah Berta.
"Sayang bagaimana kondisimu?" tanya Mamah Berta di suatu buku tulis yang dia bawa.
Dia tak ingin berkata dulu, karena dia belum lancar dan pulih dalam berkata. Dia merasa sungkan jika berkata karena terbata-bata.
"Mamah nggak perlu khawatir, aku dan cucu mamah baik-baik saja," tukas Rose tersenyum.
"Puji syukur, mamah sempat khawatir pada saat mendengar kamu masuk rumah sakit karena di culik orang," tulis Mamah Berta lagi pada sebuah buku.
"Terima kasih, mamah sudah peduli dengan aku dan anakku. Seperti yang mamah lihat aku baik-baik saja. Dan penculiknya juga sudah di bawa oleh aparat polisi." Tukas Rose kembali.
Mamah Berta tidak menanyakan hal lain lagi karena hanya itu yang ingin dia tanyakan. Setelah mengetahui jika Rose dan cucunya baik-baik saja, Mamah Berta sudah tak khawatir lagi.
"Puji Syukur, Terima kasih Tuhan, Engkau menjaga menantu dan calon cucuku. Sehingga mereka terhindar dari mara bahaya," batin Mamah Berta.
Sementara Michelson dan Paman Mike bercengkrama di luar ruang rawat Rose.