
Pagi menjelang, akan tetapi pagi ini tak seperti biasanya. Rose merasa kondisi kesehatannya sedang tidak baik. Biasanya dia tak merasaksn sakit kepala dan muntah-muntah. Kini rasa itu datang lagi.
"Hoek hoek hoek"
Michelson mendengar istrinya sedang muntah di wastafel kamar mandi.
Dia pun lekas bangkit dari pembaringan dan menghampiri istrinya, tanpa sungkan memijit tengkuk leher istrinya.
"Sayang, kamu sakit? setahuku selama kehamilanmu kamu mual muntah pada saat kita baru tahu kamu hamil, iya kan? setelah itu kamu tak pernah lagi seperti ini."
"Iya, Daddy. Pagi ini entah kenapa aku merasakan mual sekali dan kepala terasa sangat sakit."
"Pasti kamu sangat lelah, sudah pasti kamu kecapean sayang. Karena akhir-akhir ini kamu sudah melakukan hal-hal yang tak seharusnya kamu lakukan." Michelson merasa iba pada istrinya.
"Apa maksud perkataanmu, Daddy?"
"Ya kamu berhasil meringkus Om Jason dan anaknya, juga kamu telah bersi tegang dengan Om Diego. Ini kan bukan suatu hal yang seharusnya di lakukan oleh seorang wanita apa lagi kamu sedang hamil. Tapi kamu mampu melakukan hal ini."
"Kamu juga yang telah menguak misteri menghilangnya, mamah. Sayang, mulai sekarang kamu jangan terlalu cape seperti ini. Jangan segalanya kamu atasi sendiri, tetapi kamu pinta saja aku yang melakukan semuanya."
Rose tersenyum tipis mendengar perkataan suaminya. Dia tak mungkin mengganggu aktifitas suaminya yang begitu padatnya, makanya dia menyelesaikan segala urusan sendiri.
"Daddy, sudahlah semua kan sudah terselesaikan. Dan tak terjadi hal buruk padaku, Dede bayi juga tetap sehat kan. Hanya pagi ini aku terasa seperti ini." Rose mencoba meyakinkan pada suaminya bahwa dirinya tidak apa-apa.
"Aku akan menelpon dokter untuk datang kemari, supaya lebih jelas mengetahui kondisi kesehatanmu."
Saat itu juga Michelson menelpon dokter keluarganya untuk segera datang ke rumah memeriksa kondisi Rose.
Hanya beberapa menit saja, dokter telah datang. Dan lekas memeriksa Rose.
"Michel, istrimu ini kelelahan. Seharusnya wanita hamil itu tak boleh kelelahan. Apa kamu membiarkan dirinya terus bekerja, sementara kamu ini kaya raya hartamu tak habis untuk tujuh turunan?" sindir Dokter Elsa.
"Elsa, kamu kalau berbicara itu yang benar saja. Aku sama sekali tak pernah meminta istriku untuk bekerja, dia sendiri yang menginginkan aktivitas."
Seperti biasa jika Michelson bertemu dengan Dokter Elsa pasti selalu terjadi perdebatan.
"Cepat kamu tulis resepnya, dan lekas pergi dari sini!" pinta Michelson ketus.
Rose yang melihat perdebatan antara dokter dan suaminya hanya tersenyum tipis.
"Rose, semoga sifat suamimu tak arogant seperti sifatnya padaku. Aku pikir dulu tidak akan ada wanita yang mau menikah dengannya karena dia terlalu arogant dan dingin. Ternyata kamu mau ya, Rose." Elsa mengejek Michelson seraya terkekeh.
Setelah itu dia menulis resep obat untuk Rose, dan lekas pergi dari mension Michelson.
"Daddy, kenapa kamu galak sekali pada Dokter Elsa?" tanya Rose penasaran.
"Sudahlah tak usah membahas dia, sekarang intinya kamu bedress. Jangan kemana-mana karena kamu harus banyak istirahat. Jika perlu aku akan jaga kamu di sini, dan tak kan masuk kantor. Karena khawatir kamu kabur lewat jendela." Pesan Michelson.
"Hem, baiklah. Aku tidak akan kemana-mana kok. Di rumah saja sama mamah. Aku juga ingin memijat kondisi mamah saat ini bagaimana."
Saat itu juga Michelson berangkat ke kantor. Akan tetapi seperti biasa, sejak ada Mamah Berta, dia berpamitan terlebih dulu pada Mamah Berta.
Sepertinya Michelson, Rose menyambangi kamar mamah mertuanya. Dimana sudah ada perawat pribadi yang khusus merawatnya.
"Sus, apakah ada kemajuan pada mamah saya?" tanya Rose menyunggingkan senyum.
"Hem, syukurlah jika begitu."
Rose menghampiri mamah mertuanya yang sedang duduk di kursi roda berada di depan jendela kamar.
"Mah, selamat pagi. Semoga mamah lekas pulih ya, supaya kita bisa bercanda ria." Rose berjongkok di hadapan mamah mertuanya.
"Rose, mamah juga sudah ingin sekali bisa berbicara supaya bisa bertujar cerita dengan menantu mamah yang baik ini. Mamah sangat bersyukur masih di beri kesempatan bertemu anak dan menantu mamah," batin Mamah Berta.
Mamah Berta hanya tersenyum pada Rose, tetapi perlahan dia menggerakkan tangannya dan mengusap surai hitam, Rose dengan lembut.
"Kenapa aku jadi terharu, aku ingat mamahku. Jika dulu papah tak selingkuh, pasti saat ini mamahku masih hidup," batin Rose menahan rasa haru.
"Mah, sudahkah sarapan?"
Mamah Berta mengangguk pelan.
"Sus, jika mamah merasa bosan berada di dalam kamar. Sebaiknya ajak berkeliling Mension. Asal jangan di ajak keluar dulu, karena kondisinya belum sehat benar." Tukas Rose menatap perawat.
"Baiklah, nona."
"Mah, aku tinggal dulu ya. Aku sedang kurang sehat, aku akan tidur sebentar." Tak lupa Rose mengecup jemari tangan mamah mertuanya.
"Aku beruntung punya menantu secantik dan sehebat, Rose. Dia begitu cerdas dan tak pernah takut apa pun. Jika tidak ada dia, mungkin sampai saat ini aku tidak bisa berkumpul dengan anakku. Dan kejahatan Jason takkan terungkap selamanya," batin Mamah Berta.
"Semoga aku lekas bisa bicara supaya aku bisa ngobrol dengan semua orang yang ada di rumah ini. Terutama dengan anak dan menantuku."
Saat ini Berta belum juga bisa bicara, itu semua juga karena ulah jahat Jason.
**********
Sudah beberapa hari Rose tak melakukan aktifitas apa pun. Dia benar-benar patuh pada suaminya.
Akan tetapi pagi ini dia berniat untuk memulai aktifitasnya kembali, karena dia merasa kondisinya sudah baik.
Rose tengah terduduk di atas ranjangnya. Wanita itu menatap Michelson yang telah siap dengan pakaian kantornya.
Padahal Rose berniat akan bangun pagi dan berniat akan menyiapkan segala kebutuhan suaminya.
"Daddy, kenapa bangun kok nggak bilang-bilang?" tanya Rose kesal karena suaminya tak membangunkan dirinya.
Michelson yang tengah memakai sepatunya di atas sofa kamarnya pun menghentikan aktivitasnya dan menatap Rose bingung.
"Eh kamu sudah bangun, mommy?" tanya Michelson setelah memakai sepatunya itu dan berjalan mendekati Rose.
"Iya, kenapa nggak bangunin aku?" Rose menatap tajam Michelson. Michelson hanya bisa mengerutkan dahi melihat istrinya menatap tajam dirinya.
"Memangnya aku biasa bangunin kamu ya, mommy? kan biasanya kamu bangun sendiri kenapa sekarang minta di bangunin, Hem?" tanya Michelson mengusap rambut panjang istrinya itu perlahan.
"Aku hanya ingin bangun lebih pagi, karena selama ini aku merasa belum menjadi istri yang baik, maka dari itu aku ingin mencobanya eh ..sebum aku mencoba malah aku kesiangan."
Rose kesal akan tetapi malah Michelson menertawakan dirinya seperti biasanya.