Wonder woman

Wonder woman
Sangat Sibuk



Satu bulan telah berlalu dari Rose memimpin perusahaan milik almarhumah Lani. Kini usia kandungannya juga sudah memasuki enam bulan, tetapi Michelson belum juga sadarkan diri.


"Lelah sekali."


Ucap Rose yang langsung melepaskan pakaiannya dan berendam dalam bak mandi miliknya.


Aroma terapi sangat menenangkan pikirannya. Selama sebulan ini, ia benar-benar bekerja keras memimpin dua perusahaan dan juga memimpin garmen serta butiknya.


Meski rasa lelah begitu terasa akan tetapi terbayarkan pada saat melihat perusahaan itu semakin maju, dan ia mulai bisa menguasai bagaimana cara mengurus perusahaannya. Karena pada awalnya dia di ajari oleh asisten pribadi almarhumah Lani.


"Anak mommy sehat-sehat ya nak, lusa mommy tengok kamu lagi, kita pergi ke dokter kandungan." Rose mengusap perutnya yang saat ini berusia enam bulan.


Kadang Rose sangat merindukan suaminya, rindu aroma tubuhnya dan pelukannya. Mungkin juga itu perasaan sang anak yang rindu dengan daddynya juga.


Rindu itu sangat menyiksa sebenarnya namun Rose mencoba menahannya. Karena saat ini Rose hanya bisa memandang sosok yang di rindukannya tergolek tak berdaya. Kadang kala jika dia sedang rapuh, dia pun menitikkan air matanya di kamar. Karena dia tak ingin kesedihannya terlihat oleh banyak orang, termasuk oleh mamah mertuanya dan yang lain yang ada di dalam rumah tersebut.


"Mommy tahu, saat ini kamu rindu dengan daddy. Sabar ya nak, sebentar lagi pasti Daddy akan pulih dan sehat. Kita akan bahagia seperti dulu lagi." gumamnya seraya terus mengusap perutnya.


Kadang kala Rose merasa lelah menjalani hidupnya seorang diri, mengurus semuanya seorang diri tanpa ada bantuan dari suaminya. Tetapi dia tak ingin rapuh, dia tak ingin membuat kecewa suaminya. Hingga selelah apa pun dirinya, dia tetap mengurus perusahaan milik suaminya selagi belum juga sadarkan diri.


Tak terasa air mata Rose menetes kembali, tetapi dia langsung mengusapnya. Ia tak ingin terlihat lemah di hadapan anaknya. Meski anak itu belum bisa melihatnya menangis namun ia tahu bayi dalam kandungannya itu dapat merasakan kesedihannya.


Iapun mencoba memejamkan matanya karena sudah terasa lelah sangat. Sementara saat ini, Mamah Berta justru sedang berada di dalam kamar di mana Michelson di rawat.


Dia duduk di samping ranjang dimana anaknya saat ini berbaring di dalam tidur panjangnya.


"Nak, lekaslah kamu sadar. Kasihan istrimu harus melewati hari-hari sendirian. Dia sangat lelah setiap hari pulang malam mengurus perusahaanmu perusahaan almarhum Tante Lani, dan juga usahanya sendiri. Walaupun istrimu tak pernah mengeluh tetapi mamah tahu, pasti saat ini dia sangat lelah sekali."


"Bangunlah, nak. Bukan hanya demi istrimu, tetapi demi anakmu yang beberapa bulan lagi akan lahir di dunia ini."


Sambil menggenggam jemari tangan anaknya, tak terasa air matanya meleleh.


"Nak, kira baru saja bertemu dan berkumpul dari perpisahan kita yang cukup lama. Kenapa kamu harus alami hal seperti ini, ayohlah bangun demi istri dan anakmu. Juga demi mamahmu ini."


Terus saja Mamah Berta membujuki Michelson untuk lekas sadar dari komanya, hingga tak terasa dia pun tertidur pulas.


Dia jam berikutnya, Rose terbangun dari tidurnya. Dia merasa sangat panas dan dia pun berniat untuk mandi kembali. Beberapa menit kemudian, Rise telah keluar dari kamar mandi.


"Segar sekali sehabis mandi."


Ucap Rose setelah berganti pakaian dan mengeringkan rambutnya kemudian ia membersihkan wajahnya sebelum naik ke atas tempat tidur.


Tak lupa ia mematikan lampu kamar itu sebelum dirinya membaringkan tubuhnya ke atas kasur. Ia mulai memejamkan matanya kembali serat berharap hari esok lebih baik dari hari ini.


Pagi menyapa hari ini, Rose sudah berangkat di kantor. Saat ini Rose sedang menunggu seorang klien barunya tetapi belum juga datang, hal ini membuat Rose merasa kesal.


"Ini bagaimana sih, belum kerjasama sudah telat. Apa lagi kalau sudah kerjasama, orang kok nggak disiplin banget," ucap Rose kesal karena klien yang mengajukan kerja sama perusahannya telat datang.


"Sabar, nona. Ini kan baru telat sepuluh menit, " ucap Rika sekretaris baru Rose di perusahaan milik almarhumah Lani.


"Tetapi saja aku nggak suka orang yang nggak tepat waktu seperti ini!"


Karena Rose adalah seorang wanita yang disiplin dan tak pernah membuang-buang waktu.


"Kita tunggu saja, nona. Tadi saya sudah hubungi beliau katanya beliau sedang dalam perjalanan dan sebentar lagi sampai," ucap sekretarisnya itu berusaha menenangkan Rose yang sedang marah.


Rose hanya bisa mendengus kesal, kalau saja tawaran yang di ajukan tak sangat menguntungkan untuk perusahaannya mungkin ia sudah tak mau lagi menunggu. Namun mengingat tawaran yang di ajukan sungguh menggiurkan akhirnya Rose mau menuggu sedikit lebih lama.


"Tok tok tok tok"


Bunyi pintu mengalihkan perhatian Rose dan juga Rika. Rose segera memberi kode pada Rika untuk membuka pintu ruang rapat itu dengan segera. Rika segera berdiri dan membuka pintu ruang rapat itu sementara Rose menundukkan kepalanya karena tengah mengamati layar laptop di hadapannya.


"Maaf, saya terlambat "


Suara berat dan bau parfum yang maskulin membuat Rose terdiam. Ia merasa familiar dengan suara wanita itu serta bau parfumnya.


"Apa aku mimpi, aku sedang berkhayal. Aku merasa suara dan bau parfum ini mirip dengan seseorang," batin Rose dalam hatinya.


"Nona, klien sudah datang."


Ucap Rika menyadarkan Rose kemudian ia mengangkat wajah dan betapa terkejutnya ia saat melihat wajah wanita itu, begitu pula dengan wanita di hadapannya. Keduanya sama-sama terkejut terdiam dan terpaku sementara mata mereka saling memandang satu sama lain penuh kebencian.


Rika yang melihat itupun menjadi heran, wanita itu menatap bosnya penuh tanya, sementara yang di tanya masih saja tak mengalihkan pandangannya dari wanita di hadapannya.


"Mereka ini kenapa, kenapa nggak ada yang memulai obrolan malah pandang-pandangan seperti itu. "


Ucap Rika pelan, yang tentu saja tak dapat di dengarkan oleh kedua wanita yang saling terpaku itu.


"Maaf, nona-nona. Apa kah sudah bisa mulai rapatnya?" tanya Rika membuyarkan pandangan mereka.


"Rika, tolong tinggalkan kami berdua terlebih dahulu. Karena kami ingin berbicara empat mata terlebih dahulu," pinta Rose seraya matanya terus saja menatap ke arah Wanita yang ada di hadapannya itu.


Sementara wanita yang ada di hadapannya itu tak bisa berkata apapun, dia ingin kabur dari hadapan Rose tapi tak mungkin. Karena Rose terus saja menatap tajam dirinya, hingga dia tak bisa berkutik sana sekali.


"Sialan, kenapa aku bertemu dengan wanita ini? padahal aku pikir aku akan mengadakan kerjasama dengan menantu yang punya perusahaan ini!" batin wanita di hadapan Rose merasa sangat benci padanya.