Wonder woman

Wonder woman
Celine Terluka



"Aku mau ini..ini dan ini, tolong di bungkus ya mbak," ucap Rose saat dirinya ada di sebuah mall yang terkenal di kota tersebut.


"Baiklah, Nona. Kami akan segera membungkusnya."


Ucap pelayan toko tersebut dengan sangat ramah padanya.


Rose hanya tersenyum saja pada pelayan tersebut. Kemudian dia duduk di salah satu kursi tunggu yang berada di sana, di dampingi oleh Celine.


"Ini Nona pesanannya," ucap salah seorang pelayan toko tersebut.


Rose menerimanya dan mengajak Celine kembali ke dalam mobilnya. Tetapi pada saat dirinya akan ke mobil, mendadak perut Celine mules.


"Nona Rose, saya minta maaf. Tiba-tiba perut saya mulas sekali. Bagaimana jika nona masuk dulu ke dalam mobil, biar aman nona kunci dulu dari dalam. Hingga aku datang kembali."


"Hem, tak perlu sampai sebegitunya kali. Di sini kan ramai banyak orang. Lagi pula aku ingin di sini saja menunggumu, sudah sana pergi saja ke toilet. Nanti keburu keluar di celana," canda Rose terkekeh.


"Aduh, Nona. Tapi...


"Sudahlah, percaya saja padaku. Kamu tak perlu khawatir, aku pastikan di sini aman dan aku akan baik-baik saja."


Dengan berat hati, Celine segera berlari mencari toilet karena kondisi perut sudah tak bisa di ajak kompromi.


Namun kesialan sedang berpihak pada, Celine. Seluruh toilet penuh, hingga dia harus mengantri terlebih dulu.


"Aduh, pake acara antri seperti ini. Jika aku tahan sudah benar-benar tak tahan. Semoga saja, Nona Rose aman."


Celine merasa tak tenang meninggalkan Rose seorang diri.


Sementara dari tempat tunggu, Rose asik dengan ponselnya. Dia sama sekali tak sadar ada beberapa pasang mata menatap tajam ke arahnya.


"Bos, tarjet kebetulan sedang sendiri. Apa kita lancarkan sekarang aksinya?"


"Cepat lancarkan, pake izin dulu! dasar bodoh!"


Secepat kilat pria tersebut mematikan panggilan telponnya. Dan dia mengajak satu rekannya segera menghampiri, Rose yang kebetulan sedang duduk sendiri.


Seketika itu juga, Rose terbelalak kaget pada saat di hadapannya telah ada dua sosok pria bertubuh tinggi kekar. Dia yang semula asik menunduk memainkan ponselnya, kini menengadah dengan rasa khawatir.


"Siapa kalian dan mau apa kalian?"


"Ikut kami, Nona. Karena kami akan mengirimkan nona ke alam baka!"


Rose tak hilang akal, dia diam-diam mengambil parfum yang ada di dalam tas dan di semprotkan ke muka dua pria tersebut secara cepat.


"Sialan, beraninya kau!"


Kedua pria tersebut mengucek matanya yang keperihan.


Sementara, Rose sudah berhasil kabur dari mereka. Dia bersembunyi di balik sebuah mobil yang terparkir di depannya.


"Nona, keluarlah. Aku tahu kamu ada di balik mobil. Jangan sampai kami paksa anda, nona."


Sementara, Celine telah selesai dari toilet. Dia melihat ada dua pria sedang mengamati sebuah mobil yang terparkir.


'Aduh gawat, mana Nona Rose?"


Celine sempat melihat bayangan Rose dari kaca spion.


"Sialan! Nona Rose dalam bahaya!"


Dengan keberaniannya, Celine menghampiri dua pria yang bertubuh tegap tersebut.


"Heh, pergi kalian! kalau tak ingin aku celakai!" usirnya dengan lantang.


Dua pria tersebut serentak menoleh ke sumber suara.


"Hhhaaa, punya nyali juga kamu ya? apa kamu tak lihat, kami berapa? sedangkan kamu hanya seorang diri?"


"Kalian pikir aku takut, sini maju kalian berdua!" tantang Celine.


Secepat kilat, Celine melempar kontak mobil ke arah Rose.


"Nona, masuklah dulu ke dalam mobil!"


"Sudah, tak perlu khawatirkan aku. Aku mampu hadapi mereka berdua."


Rose menangkap kontak mobil yang di lemparkan oleh Celine. Dia menuruti perintahmya dengan lekas masuk ke dalam mobil terlebih dulu.


Tetapi hatinya tak tenang karena dia melihat lawan yang tak seimbang untuk, Celine.


"Masa Celine melawan dua orang bertubuh tinggi kekar hanya seorang diri. Aku harus memberi tahukan hal ini pada suamiku. Setidaknya supaya Roy datang kemari membantu, Celine."


Dengan gemetaran, Rose menelpon Michelson.


"Ha-halo, da-daddy. Cepat suruh Roy kemari untuk membantu Celine melawan orang yang akan mencelakai aku. Di tempat parkir mobil di mall S."


Belum juga Michelson membalas panggilan telpon dari, Rose. Dia sudah mematikan panggilan telponnya.


"Roy, cepat kita pergi ke mall S tepatnya di parkiran. Kondisi darurat!"


Saat itu juga Michelson dan Roy berlari kecil ke arah parkiran, dan dengan cepat Roy melajukan mobilnya.


Sementara Celine sedang baku hantam melawan dua pria tersebut. Dia sama sekali tak terlihat kewalahan, karena dia sudah terbiasa melakukan hal extri seperti itu.


Hanya Rose saja yang terlalu khawatir dengan kondisi, Celine.


Kresss


Pisau yang di pegang oleh salah satu pria tersebut menggores kulit mulus, Celine. Menyobek dan mengoyak daging segar itu hingga mengeluarkan air berwarna merah.


Celine meringis sesaat, rasa perih mulai ia rasakan akan tetapi ia masih bisa menahan rasa itu.


Rose yang sempsr melihat Celine terluka, ikut merasakan iba.


"Ih, pasti sangat sakit sekali."


Tak berapa lama datang Roy dan Michelson. Roy melihat adiknya terluka langsung berlari membantunya. Dan kini lawan mereka seimbang satu lawan satu.


Michelson tak menyia-nyiakan kesempatan itu, dia langsung menelpon aparat polisi. Supaya bisa menangkap dua pelaku tersebut dan menangkap pelaku utamanya.


Tak lama datanglah aparat kepolisian, kedua pria tersebut lari terbirit-birit. Akan tetapi kali ini keduanya tercekal oleh polisi. Masing-masing mendapati tembakan timah panas din kaki masing-masing.


Roy menuntun adiknya masuk ke dalam mobil tetapi adiknya justru menepis tangan Roy.


"Ka, aku bisa kok hadapi mereka berdua. Jadi seharusnya kakak tak perlu datang untuk membantuku!"


"Hadeh, di bantu bukannya berterima kasih malah ngomel-ngomel! aku datang kemari karena, Nona Rose yang menelpon jika kamu dalam bahaya!"


Celine hanya diam saja, sementara Rose keluar dari mobilnya menghampiri Celine.


"Lukamu perlu di obati, Celine."


"Tak masalah, aku sudah terbiasa mendapatkan luka seperti ini."


Ucap Celine sejenak melihat lengah tangannya yang terluka dan masih mengeluarkan darah segar itu.


Michelson mengajak Roy ke kantor polisi untuk mengusut dua pria yang telah menyerang Celine tersebut. Sementara Celine dan Rose pulang ke rumah.


Rose memberikan kotak obat pada Celine untuk mengobati lukanya sendiri. Karena Celine tak mau di bantu oleh, Rose.


Celine menoreh luka tersebut dengan kapas yang telah di baluri alkohol.


"Sialan...pisau itu dalam juga menggores lukaku. Ah tak masalah, bukankah aku sudah pernah terluka lebih parah dari pada ini."


Gerutu Celine di dalam hatinya seraya menghela napas panjang. Kemudian ia kembali membersihkan lukanya itu dan membalutnya dengan perban.


"Celine, kamu yakin tak perlu ke rumah sakit?"


"Hheee, tak perlu Nona Rose. Aku baik-baik saja kok."


"Tapi lukamu itu sepertinya sangat parah loh."


"Ngga lah, Nona. Beberapa hari lagi pasti luka ini akan sembuh dengan sendirinya."


Rose sempat heran dan terperangah dengan sikap tegar Celine dan keberaniannya.