Wonder woman

Wonder woman
Celine Risgn



Pada acara baby shower, banyak sekali yang datang. Acara sangat meriah bantuan yang menebak kelak anak Rose lelaki, akan tetapi ada pula yang menebak jika anak Rose kelak perempuan.


Semua seolah tahu dan yakin akan jenis kelamin anak Rose. Akan tetapi bagi pasangan Rose dan Michelson tak mempermasalahkan kelak jenis kelamin anaknya. Jika lelaki atau perempuan mereka akan senang dan bahagia.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata menatap tak suka ke arah mereka. Seorang pria berperawakan tinggi dan berkumis tebal serta berkaca mata hitam.


Diam-diam pria ini mendekati ke arah Michelson dan Rose. Dengan menggenggam sebuah remote kontrol.


Saat Rose tak sengaja melihat ke arah pria tersebut, dia sudah agak curiga.


"Daddy, pria yang sedang melangkah ke sini itu siapa? apakah salah satu rekan kerja Daddy juga, tapi kok rasanya aneh orangnya?" bisik Rose seraya sesekali menatap ke arah pria tersebut.


"Hem, aku sama sekali tak kenal dia mommy. Sepertinya memang pantas di curigai dari gerak geriknya," ucap Michelson.


"Daddy, lekas perintah anak buahmu! sepertinya dia memegang remote bom!" ucap Rose tak sengaja menatap ke arah salah satu tangan pria itu.


"Semuanya menyingkir yang jauh ada bom..!" tiba-tiba Rose berteriak lantang.


Sementara Rose menyeret Michelson menjauh, dan pria tadi semakin mendekati mereka. Tetapi naas pada saat bom yang dia kenakan di tubuhnya berdetik untuk yang terakhir. Dia tersandung sebuah kursi.


"Bummmmmm.."


Meledak lah bom yang ada di tubuh pria itu. Ada beberapa orang yang berada di sekitar orang ini menjadi korbannya.


Pria yang melakukan bom bunuh diri ini, tak berhasil mengenai sasaran. Karena aksinya telah terlebih dulu di ketahui oleh Rose. Hingga Rose mampu menyingkir bersama Michelson.


Kondisi sekitar porak poranda, berantakan tak karuan. Para penganut di hotel tersebut terutama kaum wanita ketakutan.


"Mamah, nggak apa-apa kan?" tanya Rose yang melihat mamah mertuanya sedang kepanikan memeluk dirinya."


Mamah Berta hanya menggeleng pelan, sementara saat ini Michelson sedang mengurus kekacauan ini. Dia mengerahkan seluruh anak buahnya dan juga Roy.


Bahkan banyak aparat polisi yang datang di lokasi kejadian. Sementara di balik sebuah mobil, ada seorang lelaki yang melihat hal itu sempat tersenyum. Dia tak tahu jika Rose dan Michelson saat ini selamat.


"Hhaa, akhirnya caraku yang ini benar-benar berhasil. Matilah kamu Michelson dan Rose. Pasti Om Jason dan Ka Reyhan bahagia di alam sana melihat kejadian ini."


Saat itu juga Tedy melajukan mobilnya menuju arah pulang.


"Siapa sebenarnya di balik semua ini, Tedy, Sherly, ataukah Siska? hanya tiga itu yang terang-terangan bermusuhan," batin Rose.


"Aku sampai saat ini belum juga melakukan apa pun pada Tedy. Secepatnya aku harus membuat dia jera dan menderita!" batin Rose kesal.


Entah kenapa hati Rose tertuju pada Tedy. Dia sangat curiga pada Tedy.


*******


Pagi menjelang, Michelson pagi-pagi sekali pergi untuk mengurus pemakaman para korban bom bunuh diri. Bagaimana pun beberapa orang meninggal di acara yang dia buat itu.


"Mommy, ternyata surprise yang aku berikan bukan hanya membuat dirimu terkejut tetapi juga semua yang ada di pesta baby shower. Aku pamit untuk mengurus kekacauan yang kemarin," Michelson mengecup kening istrinya.


"Hem, iya Daddy. Kamu yang hati-hati ya, karena banyak musuhmu yang saat ini masih berkeliaran di luar sana," pesan Rose.


"Iya, mommy. Kamu juga tak usah berkeliaran, tinggallah di rumah saja bersama mamah dan yang lain.".


Seperginya, suaminya tak sengaja Rosw melihat Celine sedang mondar-mandir seperti orang bingung sambil sesekali garuk-garuk kepala dan sesekali *******-***** tangannya sendiri.


"Kenapa tuh bocah, sepulang dari luar negeri kok dia sering sekali gelisah dan banyak diam nggak seperti sebelumnya," batin Rose.


Dia pun mendekati Celine dan akan menanyakan tentang kegelisahan yang sedang melandanya.


"Celine.."


"Eh iya, nona. Apa ada yang bisa saya bantu?" tanyanya gelagapan.


"Celine, aku perhatikan akhir-akhir ini kamu seperti sedang gelisah. Sebenarnya apa yang sedang merisaukan hatimu, apa sedang ada masalah?" tanya Rose menatap tajam ke arah Celine.


Sementara yang di tatap malah celingukan beralih pandangan ke arah lain.


"Nggak ada apa-apa kok, nona." jawabnya bohong.


"Jangan bohong, Celine. Aku bukan orang yang bodoh, yang gampang kamu bohongi!" ucap Rose terus menatap tajam ke arah Celine.


"Begini, nona. Sebenarnya saya punya seorang kekasih yang memang berada di luar negeri. Kami berhubungan memang sudah cukup lama, kekasih dan orang tuanya meminta kami menikah secepatnya." Ucap Celine tertunduk.


"Ooohh, mau di nikahi. Kenapa kamu malah bingung seperti ini? seharusnya kan kamu senang dan bahagia ada pria yang serius mau menikahi dirimu," ucap Rose heran.


"Nah. itu, nona. Saya bingung karena saya tak tega jika risgn dalam menjaga, nona. Saya sudah sangat cocok dengan pekerjaan ini. Tetapi kekasih saya meminta saya untuk berhenti dan bekerja di luar negeri bersamanya yakni di salah satu perusahaan milik orang tuanya."


"Dia katakan jika pekerjaan saya ini terlalu beresiko tinggi. Padahal ini pekerjaan yang justru saya cari sejak dulu, nona."


Mendengar apa yang di katakan oleh, Celine. Rose terkekeh, membuat Celine mengerutkan keningnya.


"Nona, kenapa anda malah tertawa? apa yang saya katakan ini lucu?" tanya Celine bingung.


"Celine, jika kamu ingin risgn aku nggak apa-apa kok. Tak selamanya juga kamu harus menjagaku, lagi pula aku bisa kok jaga diri sendiri tanpa ada dirimu."


"Ada kalanya kamu janga terus memikirkan aku. Tapi pikiran kebahagiaanmu dan masa depanmu."


"Harta paling indah itu keluarga, bukan uang yang banyak. Kerjalah bahagiamu bersama kekasihmu itu. Aku akan selalu mendukung apa pun yang menjadi keputusanmu."


Celine menjadi terharu mendengar kata-kata dari Rose yang sangat bijak. Padahal awalnya dia berpikir jika Rose akan marah dan melarang dirinya untuk risgn. Pikirannya jauh dengan kenyataan yang sekarang sedang dia hadapi.


"Jadi, nona mengizinkan jika saya risgn?" tanya Celine untuk memastikan.


"Iya, Celine. Kejarlah masa depanmu bersama pria pilihan hatimu," ucap Rose tersenyum lebar.


"Tapi bagaimana dengan, Tuan Michelson?" tanya Celine bingung.


"Biar nanti aku yang bicara padanya, dia pasti akan mendengar apa yang aku katakan. Jadi aku minta kamu tak usah gelisah atau risau lagi." Rose menepuk bahu Celine.


"Terima kasih ya, nona."


"Sama-sama, Celine. Janganlah kita menyalahi kodrat sebagai seorang wanita. Jika kita memang harus menikah ya menikah. Apa kamu mau di katakan perawan tua jika kamu terus menunda hal sepenting ini?" goda Rose terkekeh.