Wonder woman

Wonder woman
Semakin Cinta



Semua orang yang melihat itupun terharu, mereka pun membubarkan diri dan membiarkan Rose serta Michelson menikmati waktu berdua.


"Aku tak menyangka kalau Daddy begitu cengeng."


Ucap Rose mencairkan suasana haru diantara mereka.


Michelson yang mendengarkan itu langsung melepaskan pelukannya.


"Ckckck....kamu masih bisa bercanda, setelah kamu hampir mati karena tenggelam hah."


Michelson kesal pada istrinya.


"Apa kamu khawatir, Daddy?" Rose mengernyitkan kedua alisnya.


"Ya aku khawatir.....tentu saja aku khawatir karena kamu kan istriku."


Michelson mengerucutkan bibirnya.


Sejenak Rose hanya terdiam, membuat Michelson penasaran.


"Kenapa mommy diam...apa mommy keberatan jika aku mengkhawatirkanmu? apa lagi di perutmu ada darah dagingku."


Michelson mengusap pipi Rose pelan.


Mendapatkan usapan di pipinya, tentu saja langsung membuat tubuh Rose menegang. Rose merasa panas dengan sikap manis yang Michelson berikan.


"Aku kedinginan ..aku ingin mengganti bajuku."


Rose berusaha mengalihkan pembicaraan mereka.


"Baiklah, ganti bajulah. Jika mommy butuh bantuan untuk mengganti baju, panggil aku kapan saja."


Michelson mulai bercanda lagi dengan Rose.


"Ckckck....dasar mesum. Aku tak butuh bantuan Daddy, aku masih sanggup mengganti pakaian aku sendiri."


Rose bangkit dari duduknya dan berjalan ke arah ruang ganti. Rose tak ingin berlama-lama dengan Michelson.


"Dia tak seperti habis tenggelam. Lihatlah dia bahkan memiliki tenaga untuk berjalan sendirian ke kamar mandi."


Michelson menggelengkan kepalanya perlahan.


Setelah punggung, Rose tak terlihat. Michelson mengalihkan perhatiannya untuk menatap lautan di hadapannya. Ia memegang dadanya yang terasa sakit mengingat kejadian tadi.


Ia sungguh tak ingin kehilangan Rose istrinya, kini ia mengerti jika ia benar-benar telah jatuh cinta pada istrinya itu.


*********


"Aku sudah memutuskan tak akan mengizinkan dirimu berenang di laut lagi."


Ucap Michelson ketika dirinya dan Rose sudah ada di dalam mobil.


"Ckckck...ayohlah itu tadi aku hanya sedang sial, Daddy. Kakiku tiba-tiba saja keram, mungkin karena aku tak pemanasan dulu saat berenang tadi."


Rose tak suka jika Michelson melarang ini dan itu.


"Tetap saja aku tak ingin kejadian yang sama terulang lagi pada dirimu."


Ucap Michelson pelan.


Wajahnya masih mengisyaratkan rasa takut dan kekhawatirannya. Rose yang melihat raut wajah itupun sekita ingin langsung mengalah.


Entah kenapa ia tak ingin pria di sampingnya ini sedih karena terlalu mengkhawatirkan dirinya.


"Baiklah, aku tak kan berenang lagi di laut."


Mendengar penuturan Rose, seketika senyum mengembang dengan sempurna di bibir Michelson. Pria ini sungguh senang, Rose menuruti dirinya.


Tak berapa lama, sampailah mereka di Mension Michelson yang sangat megah dan mewah.


Michelson merangkul istrinya dan membawanya melangkah masuk ke dalam rumah.


"Mommy, kamu langsung istirahat saja. Pastinya kan kamu lelah apa lagi setelah kejadian tadi."


"Hem, aku nggak mau Daddy. Aku lapar sekali, dari tadi di laut aku tak di beri makan olehmu. Dasar suami kejam." Goda Rose terkikik.


Michelson hanya bisa menghela napas panjang melihat tingkah istrinya. Dia pun baru menyadari jika saat ini sudah waktunya makan siang.


"Yuk kita makan sekarang. Maafkan aku, mommy. Aku sampai melupakan jika saat ini adalah waktunya makan siang."


Michelson merangkul istrinya melangkah ke ruang makan.


Untung saja para asisten rumah tangga sudah mengerti akan tugas-tugas mereka. Hingga di meja makan sudah tersedia berbagai menu makan siang.


Rose langsung makan dengan lahapnya seperti seseorang yang telah beberapa hari tak makan. Michelson tersenyum melihat cara makan istrinya yang begitu cepat dan lahap.


Michelson terkikik menggoda istrinya.


"Daddy tak tahu banget sih, anak Daddy juga sangat lapar. Makanya aku mempercepat makan supaya lekas masuk ke dalam perut dan anak kita tak terlalu lama menunggu."


Michelson heran dengan istrinya yang selalu saja bisa menjawab apa pun yang dia katakan.


Sejak hamil, Rose makan dengan porsi yang banyak hingga sekali makan bisa tiga porsi piring habis. Hal ini kadang membuat Michelson heran.


"Apakah semua wanita hamil seperti istriku ini? jika makan sampai porsi tiga piring sekaligus ya?" tanyanya dalam hati.


Michelson terus saja menatap istrinya yang sedang makan, dia malah tak fokus dengan makanannya yang ada di piringnya. Sejenak Rose melihat Jika suaminya terus saja menatap dirinya.


"Daddy, kenapa malah terus bengong melihatku? kapan Daddy akan makan jika terus menatap aku?"


Teguran dari Rose mengagetkan dirinya. Hingga dia pun mulai menyantap makanan yang sudah ada di dalam piringnya.


"Nah begitu, Daddy. Berikan contoh yang baik untuk calon anak kita."


Kembali lagi Rose menggoda Michelson.


Kini keduanya sama-sama asik menikmati hidangan yang ada di hadapannya. Tanpa ada pembicaraan lagi.


Beberapa menit setelah makan siang, kini mereka memutuskan untuk sejenak bersantai di kamar. Mereka merebahkan badan seraya melihat acara televisi. Dan tanpa mereka sadari mata mereka mulai terkatup karena rasa kantuk yang sudah tak tertahan lagi.


*********


Waktu cepat berlalu, kini telah pagi saja. Sudah waktunya untuk bekerja kembali.


Seperti biasa Rose selalu bangun terlebih dulu untuk mempersiapkan segala kebutuhan kantor suaminya.


Setelah semuanya siap barulah dia membangunkan suaminya untuk segera mandi pagi.


"Daddy, sayang. Sudah waktunya kita aktifitas kembali. Ayok bangun, ayam jago telah berkokok tanda waktu telah pagi."


Rose mengguncang tubuh Michelson pelan untuk membangunkannya. Seketika itu juga Michelson membuka matanya seraya menguap dan seperti biasa merentangkan kedua tangannya ke samping kanan dan kiri.


"Selamat pagi, mom."


Satu kecupan mendarat di kening Rose.


"Pagi juga, Daddy. Bagaimana tidurnya nyenyak kan?"


"Hem, nyenyak sekali sampai tak mimpi apa pun."


Michelson menyambar handuk yang telah di siapkan oleh Rose.


Dengan langkah gontay dan mata masih mengantuk, Michelson masuk ke dalam kamar mandi.


Dia berendam air hangat yang telah di siapkan oleh Rose, di dalam bathup.


Beberapa menit kemudian, Michelson telah keluar dari kamar mandi. Dan lekas mengenakan seragam kantor.


Rose dengan telaten memasangkan dasi padanya. Selagi memasang dasi, Michelson terus saja memandang wajah cantik istrinya.


"Mommy, ternyata aku sangat cinta padamu. Dan tak ingin kehilangan dirimu."


Michelson memegang kedua pipi istrinya.


"Hem, pagi-pagi sudah ngegombal."


"Mommy, ini serius dari dalam hati kok malah di kira ngegombal?"


"Iya, Daddy. Mommy percaya kok. Yukk kita sarapan."


Terapi pada saat akan melangkah ke luar kamar. Seperti biasa Rose mulai alami morning sickness.


"Hoek hoek hoek."


Rose muntah di wastafel kamar mandi.


Michelson tak tinggal diam, dia mengambil minyak kayu putih dan di oleskan ke tengkuk leher, Rose.


Michelson memijit perlahan tengkuk leher istrinya dan sesekali memijit pelipisnya istrinya.


"Mommy, kamu istirahat saja di rumah. Tak usah bekerja dulu jika masih seperti ini."


"Aku nggak apa-apa kok, Daddy. Ini kan cuma terjadi setiap pagi saja. Itupun tidak setiap hari. Aku tetap akan ke garmen dan butik."


"Ya sudah terserah, mommy. Tapi ingat ya, jaga kondisi karena mommy sedang hamil. Jangan terlalu cape."


"Iya, Daddy."