Wonder woman

Wonder woman
Tinggal Di Mension Michelson



Namun Rey belum. bisa menjawab iya atau tidak hingga Mamah Berta ikut pula berkata.


"Cu, ayohlah. Kerumah nenek sebentar saja, sebagai ucapan terima kasih nenek."


Hingga pada akhirnya Rey pun luluh dan ikut dengan Rose, Michelson, dan Mamah Berta. Entah kenapa hati Rose tergerak untuk mengetahui lebih dalam kenapa pula anak ABG ini ingin pergi dari rumah.


Tak berapa lama, sampailah mereka di depan rumah yang sangat mewah. Rey sempat terpana melihat rumah mewah bak istana raja tersebut.


Mamah Berta menuntun Rey, sedangkan membawakan kopernya.


"Duduklah, de" pinta Rose.


Kemudian tak lupa Rose meminta salah satu asisten rumah tangganya untuk membuatkan minuman bagi mereka. Sejenak Rey menatap ke arah foto yang tak asing lagi baginya.


"Nenek kenal dengan Oma aku?" tanya Rey dengan mata berkaca-kaca.


"Oma?" tanya Mamah Berta mengerutkan dahinya.


"Iya, bukankah itu foto Oma Lani? ataukah hanya mirip saja dengan omaku ya?" ucap Rey menunjuk ke arah foto Mamah Berta dan almarhumah Lani pada saat awal mereka di pertemukan lagi.


"Nah kan, pantas wajahmu itu tak asing lagi bagi tante. Kamu ini anaknya Linda?" tanya Rose.


"Iya, Tante. Aku jadi merasa bersalah dan sedih jika melihat foto almarhumah Oma Lani, karena pada saat masa terakhirnya aku tidak di izinkan untuk datang ke rumah sakit, juga pada saat Oma meninggal pun aku tak di izinkan datang. Aku di kurung di dalam kamar di kunci dari luar."


"Aku mencoba keluar dari jendela juga tak bisa, karena jendela juga di paku dari luar pula sehingga tidak bisa di buka sama sekali."


Rey tak sadar mencurahkan isi hatinya, dengan luapan air mata. Selama ini Rey dekat dengan, almarhumah Lani. Hanya saja setiap Rey sedang bersama Omanya, pasti dia di tarik paksa untuk tak mendekat dengan Omanya oleh Linda.


"Astaga, jadi seperti itu sifat mamahmu?" Mamah Berta merasa iba dengan cucu dari almarhumah sahabat baiknya.


"Tante pikir, tidak ada satu kerabat pun yang mau datang pada saat pemakaman Oma kamu, termasuk kamu juga," ucap Rose.


"Tante, aku sayang sama Oma. Bahkan kami sangat dekat. Tetapi mamah sering memisahkan kedekatan kami. Mamah sangat jahat, padahal aku selalu saja menasehatinya supaya tidak berbuat jahat."


"Bahkan aku ingin pergi seperti ini juga karena aku kesal dan malu punya mamah teramat jahat."


"Aku hanya tak ingin mamah aku berbuat semakin jauh saja. Pada saat itu aku dengar jika mamah ingin mencelakai pemilik perusahaan yang baru milik almarhumah Oma."


"Tadi aku menasehatinya tetapi malah mamah marah-marah padaku. Hingga akhirnya aku putuskan untuk pergi di saat mamah sedang tidur pulas."


Rey semakin tak sadar dia menceritakan alasan kenapa dia kabur dari rumah. Rose dan suaminya serta Mamah Berta menjadi Iba mendengar cerita Rey.


"Oh iya, siapa namamu?" tanya Rose.


"Namaku Reynaldi, Tante. Tetapi aku biasa di panggil dengan sebutan, Rey."


"Aku juga tidak tahu, Tante. Aku hanya berpikir kabur gitu saja, tanpa aku tahu aku harus kemana lagi," ucap Rey tertunduk malu.


"Lantas bagaimana dengan sekolah kamu jika kamu kabur seperti ini?" tanya Michelson.


"Sekolah aku sudah lulus, om. Bahkan aku berniat akan mencari pekerjaan seadanya asal aku bisa makan dan kost. Karena aku hanya punya ijazah SLTA," ucap Rey.


"Rey, bagaimana kalau kamu tinggal di sini saja sama nenek. Sama kami semua, lagi pula almarhumah Oma kamu adalah sahabat baik, nenek,' ucap Mamah Berta.


"Iya, Rey. Dan kamu tak perlu memikirkan pekerjaan, kami akan menyekolahkan kamu," ucap Michelson.


"Tapi om, biaya sekolah itu tak murah?" Rey merasa ragu.


"Rey, kamu tak perlu khawatir. Lagi pula pada saat terakhir Oma kamu beliau memberikan mandat pada Tante untuk memimpin dan mengembangkan perusahaan. Jadi hasilnya bisa untuk sekolah kamu juga," ucap Rose.


"Jadi Tante ini yang akan di celakai oleh mamahku? padahal aku berniat ke kantor untuk mengatakan supaya hati-hati pada Tante karena mamah sedang merencanakan hal buruk. Tante, aku minta maaf atas nama mamah ya?" Rey menangkupkan kedua tangannya di dada.


"Ya ampun, kamu memang anak baik. Pasti kebaikanmu mewarisi sifat almarhum papahmu ya. Sudah tak usah di pikirkan akan hal itu, Tante bisa kok jaga diri, lagi pula ada suami Tante yang sangat baik," puji Rose terhadap Michelson yang membuat hatinya berbunga-bunga.


"Tante-Om- Nenek, terima kasih kalian telah baik padaku. Padahal mamah aku jahat," ucap nya murung.


"Sudahlah tak usah sungkan lagi. Kamu mau ya tinggal di sini menemani nenek. Di kala anak dan menantu nenek kerja pasti nenek kesepian di rumah," bujuk Mamah Berta.


"Iya, Rey. Dari pada kamu juga belum tahu akan tinggal kemana kan? lagi pula di luaran sana banyak orang jahat. Mending kamu tinggal di sini saja. Nanti kamu sama om mencari kampus yang menjadi incaran kamu," ucap Michelson ikut membujuk Rey.


Sejenak Rey terdiam seolah sedang berpikir. Dan tak lama kemudian dia pun menyetujuinya.


"Baiklah, nenek-om. Aku mau tinggal di sini. Tetapi apa tidak merepotkan kalian?" Rey masih agak sungkan dan tak enak hati.


"Rey, anggap saja nenek ini pengganti Oma kamu. Apa lagi Oma kamu itu sahabat baik nenek. Nanti jika kamu sudah tinggal di sini, nenek akan bercerita tentang persahabatan nenek dahulu bersama almarhumah Oma kamu," ucap Mamah Berta antusias.


Hingga saat itu juga, Rey tinggal di mension Michelson yang sangat luas dan megah. Banyak sekali kamar di rumah tersebut sehingga tak perlu khawatir jika ingin tinggal di rumah megah bak istana raja ini.


Apalagi setiap kamar juga di lengkapi prasarana yang sangat lengkap, dari toilet pribadi, televisi dan juga sofa. Satu kamar begitu luas.


"Rey, kamu istirahat dulu saja. Pilih saja kamar yang ingin kamu tempati," ucap Mamah Berta.


"Mari, den. Biar saja tunjukkan kamar-kamarnya," ajak si Mamang.


Saat itu juga Mamang membawakan koper milik Rey. Dan Rey mengikuti langkah kaki si Mamang.


"Aku baru tahu, mah. Jika cucu almarhumah Oma Lani adalah cowok. Awalnya aku pikir cewe karena pada saat terakhir dimana aku menandatangani surat peralihan perusahaan, dia juga mewariskan uang dan perhiasan untuk cucunya," ucap Rose.


"Aku juga belum sempat tahu akan hal itu, Rose. Karena pada saat bertemu dengan almarhumah Lani juga tak lama. Kami hanya bercerita tentang masa lalu dan kehidupan dia tentang menantunya saja. Dia tak pernah cerita tentang cucunya yang sudah sebesar ini," ucap mamah Berta.