Wonder woman

Wonder woman
Sakit Parah



Mendengar Rose yang tak percaya diri untuk menjadi seorang pemimpin perusahaan, Tante Lani langsung memberikan penghiburan.


"Soal itu tak perlu khawatir, asisten saya akan mengajarimu sampai bisa. Rose, saya tidak ingin dipanggil tante. Saya ingin dipanggil mamah seperti kamu memanggil Mamah kepada Berta."


"Baiklah, Mamah Lani. Terima kasih untuk segalanya, saya akan berusaha menjaga amanat dari Mamah ini dan semoga saya benar-benar tidak mengecewakan mamah," ucap Rose tersenyum hangat.


"Meo, tolong kamu hubungi dokter yang merawat saya sekarang juga. Karena saya sudah tenang, dan mau menjalankan operasi itu. Seandainya aku tiada setidaknya perusahaan ini telah aman dan berada di tangan orang yang tepat," ucap Tante Lani membuat dahi Rose berkerut bingung.


"Memangnya mamah sakit apa?" tanya Rose penasaran.


"Di sini sakit, aku sakit kanker hati. Dan harus segera di operasi tapi operasi itu tak menjamin aku sembuh. Keberhasilannya pun hanya beberapa persen saja, jadi peluang untuk hidup sangatlah tipis. Maka dari itu saya segera membuat surat wasiat sebelum saya meninggal dunia nanti," Ucap Mamah Lani seraya mencoba tersenyum.


Rose hanya diem di tempat dan tak bisa berkata apa-apa lagi. Rose merasa iba pada wanita tua itu, padahal dia sempat senang pada saat Lani memintanya untuk memanggilnya dengan sebutan mamah. Dia senang karena punya pengganti mamah yang telah meninggal.


Rose merasa sedih juga, di tengah usia wanita itu yang sudah tidak muda lagi. Masih berusaha mati-matian melindungi perusahaan dari sang menantu yang katanya sangat jahat dan sukanya berfoya-foya.


Ia juga kasihan karena wanita tua itu harus berjuang seorang diri melawan penyakit kanker hatinya. Sama sekali tak ada keluarga yang datang untuk memberinya semangat.


"Mah, apakah saya boleh menemani mamah ke rumah sakit nanti saat operasi mamah di jalankan. Saya ingin di samping mamah untuk memberikan mamah semangat," ucap Rose yang membuat Lani terharu.


Karena baru kali ini ada yang mau menemaninya ke rumah sakit dan itu bukanlah keluarganya.


"Terima kasih, tetapi kamu juga harus istirahat. Karena operasi saya akan di lakukan besok, jadi kita pulang dulu ke rumah kamu ya? maaf jika saya harus menumpang dulu tinggal bersamamu," ucap Lani pada Rose.


"Mamah kan sudah menjadi bagian dari keluarga saya dan suami saya. Jadi rumah kami rumah mamah juga, jangan pernah mengatakan jika mamah hanya menumpang. Saya malah sangat senang jika mamah bersedia tinggal di rumah kami, lagi pula bisa untuk teman Mamah Berta juga," ucap Rose sama sekali tak keberatan dengan permintaan, Lani.


"Terima kasih kalau begitu," ucap Lani tersenyum ramah.


Ia senang sekali bertemu dengan wanita cantik dan baik hati seperti Rose. Begitupun dengan Rose, dia juga merasakan hal yang sama. Dia seperti menemukan jati diri mamahnya yang tsh hiangi. Karena selama ini dia benar-benar kurang kasih sayang seorang mamah, sejak mamahnya meninggal karena bunuh diri.


"Maaf, nyonya. Ada perubahan jam operasi untuk anda," ucap Meo asisten pribadi Lani.


" Loh, memangnya kenapa ya?" tanya Lani mengerutkan dahinya.


"Karena, Dokter Santoso besok pagi tidak ada di tempat jadi operasi akan di adakan malam ini juga. Kata Dokter Santoso lebih cepat lebih baik. Dan nyonya harus puasa dulu hari ini sebelum nyonya menjalankan operasi."


"Nyonya juga harus datang ke rumah sakit saat ini juga untuk melakukan tes darah dan sebagainya untuk keperluan operasi." ucap asisten pribadinya menjelaskan.


"Baiklah, sepertinya saya tidak akan bisa bermalam lagi di rumahmu yang sudah nyaman bagiku."


Lani mencoba tersenyum, dia mencoba untuk tetap tegar dan pasrah dengan kondisinya saat ini.


Akhirnya mereka pun bersama-sama ke rumah sakit, dan tak lama para dokter pun memeriksa kondisi Lani untuk memastikan bahwa kondisi wanita tua itu aman untuk di operasi malam nanti.


"Dari hasil pemeriksaan semuanya bagus. Tak ada kendala untuk melakukan operasi malam nanti, jadi persiapkan diri nyonya dan banyaklah berdoa," ucap Dokter Santoso memberi tahukan hasil tes darah dan pemeriksaan Nyonya Lani padanya.


"Tapi operasi itu akan berhasil kan, dok?" tanya Rose harap-harap cemas.


Dokter itu hanya tersenyum tak mengangguk atau pun menggeleng.


"Entahlah, hanya Tuhan yang tahu," ucap dokter itu tersenyum.


Kemudian ia berlalu pergi setelah pemit terlebih dahulu pada, Nyonya Lani.


"Sudahlah, Rose. Kamu tak perlu mengkhawatirkan mamah. Mamah tak masalah jika operasi itu gagal yang penting perusahaan mamah berada di tangan orang yang tepat."


"Yang harus kamu pikirkan adalah dirimu sendiri. Mamah lihat wajahmu sangat pucat dan mamah yakin kamu belumakan sedari tadi kan. Ingat kamu sedang hamil, tapi kita kan baru sarapan tadi saja."


"Cepat pergilah dan cari makan untuk isi perutmu. Pasto saat ini anak yang ada di dalam perutmu juga sudah merasakan lapar."


"Aku tak ingin kamu dan calon cucu mamah kenapa-kenapa hanya karena kamu mengkhawatirkan wanita tua ini."


Berkali-kali Mamah Lani mengusap perut Rose ya g sudah terlihat buncit.


Rose terdiam mendengar perintah dari Mamah Lani. Sebenarnya dia tak tega meninggalkan mamdh lagi seorang diri, tapi ia juga ingat jika anaknya juga butuh asupan makanan. Ia pun akhirnya menurut dan mencari makanan untuk mengisi perutnya yang sedang keroncongan.


"Kasihan sekali, Mamah Lani. Aku harap ketika aku tua nanti hidup tak semenderita dirinya. Aku harap anak ini mau mengurus Mamahnya nanti, ketika mamahnya sudah tak sekuat saat masih muda."


Ucap Rose seraya menyantap makanan yang sempat dia pesan di kantin rumah sakit.


Setelah selesai menghabiskan makanannya, Rose pun segera kembali ke ruangan dimana saat ini ada Mamah Lani di rawat. Namun saat ia tiba dirinya terkejut karena banyaknya dokter dan perawat yang keluar masuk kamar rumah sakit itu


"Loh, ada apa ini?" tanya Rose ikut panik sementara asisten pribadi, Nyonya Lani yang sudah mengetahui semuanya hanya bisa diam dan membiarkan dokter menyelamatkan nyawa wanita tua itu terlebih dahulu.


"Pak, sebenarnya ada apa ini?" tanya Rose pada Meo asisten pribadi Nyonya Lani.


Pria itu menghela napas perlahan kemudian ia menggelengkan kepalanya yang semakin membuat Rose kebingungan dan semakin membuat penasaran.


"Nyonya Lani anfal. Tadi setelah Nona Rose pergi tiba-tiba kondisi beliau memburuk. Dokter sedang berusaha menyelamatkan beliau di dalam sana," Ucap Meo yang membuat Rose diam. Ia sangat terkejut, semua begitu cepat untuknya.