Wonder woman

Wonder woman
Celine Mulai Beraksi



"Kenapa di pipi, aku lebih suka kalau kamu memberikan kecupan di bibir, sayang." Michelson mesam mesem membayangkan hal itu.


"Nah kan, di kasih hati minta jantung. Daddy, tunggu saja di luar nanti aku akan menyusul."


"Baiklah, aku akan menunggumu di luar. Lagi pula aku tak yakin jika aku terus berada di sini aku akan kuat menahan godaan di depan mataku ini. " Michelson menunjuk dengan dagu pada dada Rose yang mulai terlihat akibat handuknya yang di pakainya melorot.


Spontan Rose menaikkan handuknya ke atas. Wajah Rose sudah memerah karena malu, Michelson terkekeh pelan kemudian mencium kening Rose sebelum pergi meninggalkan wanita itu sendirian.


"Dasar pria mesum yang pintar menggoda," Rose tersenyum menatap kepergian suaminya.


Rose segera mengenakan pakaiannya karena tak ingin suaminya menunggu terlalu lama. Dia pun menyusul suaminya yang tengah menunggu di teras halaman.


"Mommy, kamu terlihat sangat cantik sekali dengan mengenakan gaun seperti itu? tumben mommy pakai gaun?" Michelson menatap terpesona pada istrinya.


"Hem, apakah suamiku ini sudah amnesia? katanya healing dan juga menghadiri acara ulang tahun sobat baikmu."


"Dari mana kamu tahu jika sobat baikku hari ini berulang tahun? seingatku hanya mengatakan kita akan healing saja."


"Waduh, kok aku lupa ya jika aku tak sengaja mendengar percakapan dia dan Rey pada saat telponan," batin Rose.


"Daddy, maaf ya aku tak sengaja mendengar percakapanmu dengan Rey di telpon. Jadi kamu nggak ada rencana untuk ajak aku ke acara ulang tahun sobat baikmu itu ya?"


"Bukan seperti itu, mom. Aku nggak ingin kamu terlalu cape karena sedang hamil. Ya sudah aku mandi dulu sebentar, aku pikir kita hanya sekedar healing. Ternyata kamu malah berdandan cantik seperti ini."


Michelson melangkah masuk lagi, dia pun bergegas ke kamar untuk mandi.


"Kamu nggak usah khawatir, mom. Aku mandinya sebentar nggak seperti dirimu lama banget."


Teriaknya terkekeh.


"Ini kesempatan aku untuk menghubungi, Celine."


Rose meraih ponselnya dan lekas menelpon Celine.


"Celine, ini waktu yang tepat untuk kamu beraksi. Saat ini Rey akan merayakan ulang tahun, bersiaplah kamu ke acara pestanya dan usahakan kamu bisa meluluhkan hatinya."


"Saya sudah siap kok, nona. Ini tinggal berangkat saja."


"Wah, cerdas kamu ya. Pintar sekali, ya sudah lanjutkan aksimu dan berhati-hatilah."


"Siap, nona."


Saat itu juga Rose mematikan panggilan telponnya pada, Celine.


"Hem, telponan dengan siapa kamu mommy?"


Teguran Michelson mengagetkan Rose.


"Dengan, Celine. Aku pikir dia sedang bersantai, ingin aku ajak sekalian."


"Sembarangan kamu, mom! masa mau ajak Celine? tugas dia menjagamu itu jika waktu jam kerja saja. Jika sudah denganku, biarkan dia bersantai."


Michelson mengerucutkan bibirnya.


"Hem iya, Tuan Michelson."


Kini mereka pun lekas melangkah ke arah mobil Michelson dimana saat ini telah menunggu, Roy.


"Roy, ayok kita jalan ke ulang tahun Reyhan."


Roy segera melajukan mobilnya arah hotel bintang lima di mana di adakannya pesta.


Tak berselang lama, sampailah Michelson dan Rose.


"Aku ingin tahu seperti apa rupa ayah dan anak yang ingin menusuk suamiku dari belakang," batin Rose sudah tak sabar ingin melihat musuh dalam selimut suaminya.


"Om Jason- Rey, kenalkan ini istriku. Bukannya waktu aku maried kalian kan sedang ada di luar negeri, sehingga tak tahu bagaimana rupa istriku?"


"Hay, Rose."


"Hay, juga. Selamat ulang tahun ya."


"Daddy, bukannya Rey sudah lama menjadi sekretarismu?"


Jason menyeringai senyuman pada, Rose. Tetapi Rose hanya tersenyum tipis.


"Daddy, tapi kita jangan lama-lama di sini. Ingat janjimu akan mengajakku healing, kita makan tapi jangan makan di acara ulang tahun ini aku nggak mau." Bisik Rose lirih.


"Baiklah, sayang."


"Hey, kenapa kalian bisik-bisik sih?" celoteh Reyhan.


Sementara Jason lekas melancarkan aksinya dengan meminta anak buahnya membubuhkan obat tidur pada makanan yang akan dia berikan pada Rose dan Michelson.


"Nona Rose, ini ada cemilan enak loh. Biasa wanita hamil suka sekali cemilan. Kamu juga nech, Michelson. Cicipi kue ini."


Pada saat Michelson akan mencicipi kue pemberian dari, Jason. Rose menahan tangannya.


"Tuan Jason, hem bisakah saya minta tolong?"


"Apa itu, Rose?"


"Kebetulan saat ini saya sedang ngidam ingin makan yang manis-manis. Tapi saya ingin melihat anda mencicipinya dulu kue itu, saya paling suka kalau melihat seseorang makan sehingga selera makan saya pun meningkat."


Jason langsung panik karena kue tersebut sudah di bubuhi obat tidur.


"Tuan Jason, kenapa anda diam? coba anda makan kue itu sedikit saja di depan aku supaya aku jadi berselera."


"Hem, Rose. Kebetulan saya tak suka makanan manis."


"Oh ya sudah, kalau begitu saya juga tak berselera untuk memakan makanan itu."


"Kalau kamu tak berselera, biarkan Michelson yang memakannya. Supaya kamu jadi berselera."


"Tuan Jason, bukannya anda pernah mengalami pada saat istri anda ngidam?"


"Ya jelaslah, Rose. Pada saat istri saya hamil, Reyhan."


"Nah, pasti sudah tahu kan bagaimana egoisnya jika wanita sedang hamil apa lagi ngidam. Jadi seperti saya juga, saya tak izinkan Michelson untuk mencicipi kue itu. Tapi saya ingin anda yang cicipi, jika anda tak mau ya sudah tak usah memaksa suami saya."


"Daddy, sebaiknya kita pergi dari sini. Ingat janjimu padaku!"


"Tapi, mom?"


"Sudahlah, turuti mauku atau aku patahkan lehermu sekarang juga!"


Michelson menuruti kemauan Rose, dia pun pergi meninggalkan acara ulang tahun Reyhan.


"Rey, maaf ya aku tak bisa berlama-lama. Biasa kalau wanita hamil banyak maunya dan harus di turuti."


Reyhan hanya menyunggingkan senyumnya. Sementara Jason merasa kesal karena usahanya gagal total.


"Sialan, sepertinya Rose telah tahu apa yang aku rencanakan. Ternyata dia cerdas juga, ini lawannya yang tak bisa di anggap enteng," batin Jason seraya membuang kue tersebut.


Dia pun melancarkan rencana B dengan menelpon beberapa anak buahnya untuk mengikuti kemanapun mobil Michelson pergi. Dan untuk menyerangnya di tempat yang sunyi.


Berbeda dengan Rey yang sibuk dengan pesta ulang tahunnya. Sesaat dia dan beberapa pria terkesima melihat kedatangan seorang wanita yang sangat cantik sekali.


Wanita ini menghampiri, Reyhan.


"Apakah anda yang bernama, Tuan Reyhan?" ucapnya menatap genit kearah Reyhan.


"Iya, Nona. Anda benar sekali."


"Ini kado dari saya, selamat ulang tahun ya."


Wanita tersebut memberikan sebuah kado dan mencium tangan Reyhan.


"Terima kasih, siapa nama anda? sepertinya saya baru pernah melihat anda."


"Benar sekali, saya memang pendatang baru dari kota lain. Saya belum lama tinggal di kota ini. Dan saya sempat mengagumi anda karena kepiawaian anda dalam bekerja. Perkenalkan nama saya, Angel. Tak perlu anda tanya saya tahu dari mana tentang anda. Intinya anda ini pria yang sangat hebat."


Reyhan langsung saja terpesona dan melambung tinggi mendengar pujian dari, Angel.


*********