
"Nak, kamu tak bisa melakukan ini. Ingat kami juga membantu perusahaanmu hingga maju seperti saat ini."
Teriak Jason walaupun polisi sudah mulai membawanya masuk ke dalam mobil. Sementara Reyhan hanya diam dan sepertinya dia pasrah karena ia membantahpun percuma saja. Semua bukti sudah terkumpul.
"Dasar tak tahu malu, bisa-bisanya dia mengemis maaf padahal dosanya sendiripun tak bisa di ampuni!" tukas Michelson saat melihat mobil polisi itu menghilang dari pandangannya.
"Sabarlah, Daddy. Lagi pula mereka kan sudah pergi."
Ucap Rose tak ingin suasana hati Michelson semakin buruk lagi di saat ia masuk ke kantor dengan posisi yang baru saja ia ambil alih.
"Iya, mommy. Terima kasih selalu berada di sisiku dan mengungkap kejahatan mereka."
Michelson mengusap pipi Rose perlahan.
"Sama-sama, ayok kita masuk ke dalam dan kita cek ruang kerja yang sempat di pakai oleh, Reyhan dan Jason." Rose bergelayut manja di lengan suaminya. Dia mengajak suaminya melangkah masuk ke dalam kantor.
[Bagaimana, apakah kamu sudah menempatkan anak buah kita di dalam penjara kan? hari ini Jason dan anaknya di jebloskan ke penjara. Jadi tolong siapkan penyambutan yang meriah untuk mereka berdua.]
Tulis Rose, pada sebuah pesan yang akan dia kirimkan lewat ponselnya kepada, Celine.
[Ya, saya sudah mempersiapkan semuanya sesuai dengan perintah anda, nona.]
Satu balasan chat pesan dari, Celine.
Sejenak Rose tersenyum, dia sangat senang karena akan ada kejutan menarik di dalam sel untuk Jason dan Reyhan.
**********
Jason dan Reyhan terdiam di meja makannya. Saat ini seluruh penghuni lapas dimana mereka di penjara tengah makan siang bersama dengan para napi lainnya. Mereka yang selalu bergelimang harta sejak kecil dan selalu makan makanan enak kini tak bisa merasakannya lagi.
Nasi yang di suguhkannya begitu sedikit dengan lauk tahu tempe yang mendampingi nasi itu membuat mereka tak berselera makannya. Mereka jadi ingat dulu saat mereka bergelimang harta, mereka begitu tak peduli dan selalu membuang-buang makanan.
Kini mereka merasa makanan itu begitu berharga, mereka sangat menyesal. Setidaknya dulu mereka menghargai makanan. Mungkin ini teguran untuk menyadarkan diri mereka untuk menghargai makanan yang mereka makan. Karena belum tentu orang lain mampu memakannya.
Tak ingi melakukan kesalahan yang sama, karena membuat makanan di hadapannya mubazir akhirnya Jason dan Reyhan pun berniat untuk memakan makanan itu.
Namun belum sempat makanan itu masuk ke dalam mulut mereka, dua orang sudah lebih dulu duduk di samping mereka dan menarik nampan makanannya itu.
"Eh, kok di ambil sih! itu kan jatah makanan kami." Ucap Jason, seakan tak terima makanannya di ambil oleh dua pria yang ada di samping mereka.
"Mulai sekarang jatah makan kalian harus menjadi milik kami! jika kalian ingin makan, maka tunggu bekas makan kami, paham kalian!" Ucap pria di sampingnya dengan nada tinggi.
"Mana bisa seperti itu, kita kan sudah di beri jatah sendiri-sendiri. Kalian tak bisa mengambil jatah kami, karena kalian juga sudah memiliki jatah kalian sendiri." Protes Reyhan berusaha merebut nampan yang saat ini sedang di pegang oleh salah satu pria yang ada di sampingnya.
Sementara satu pria yang lain memegang nampan milik Jason. Dia tak berkutik sama sekali hanya melihat Reyhan yang mencoba melawan pria yang mengambil nampan anaknya.
Mereka tentu saja langsung menjalankan tugas dan menyeret Reyhan ke pojok ruangan yang ada di sana dan memukulinya.
Jason merasa iba melihat anaknya di keroyok di pukuli rame-rame. Tapi dia sama sekali tak berani mendekat karena khawatir dia juga akan mendapatkan perlakuan yang sama. Dia malah ketakutan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"Heh, tua bangka! lain kali nasehati anakmu supaya tidak melawan kami, supaya dia tak babak belur oleh anak buah kami!" pria tersebut menepuk bahu Jason.
"Ba-baik, saya akan nasehati anak saya." Tukasnya dengan mimik ketakutan.
"Lepaskan..lepaskan...aku...papah tolong... kenapa papah hanya diam saja di situ....tolong aku, pah..."
"Tolong ..siapa saja tolong aku ..kenapa kalian hanya diam di situ .."
Teriak Reyhan meminta tolong pada Jason juga berharap ada orang yang mau menolongnya. Akan tetapi berteriak pun percuma. Semua sibuk dengan makanannya masing-masing begitu pula dengan para polisi yang seharusnya mengawasi mereka.
Merasa Reyhan sudah babak belur dan tubuhnya melemah, pria yang barusan memerintah tersebut menghampiri anak buahnya dan menyuruh mereka untuk berhenti.
Karena ia belum merasa sekarang waktu yang tepat untuk membuat Jason atau Reyhan mati. Mereka harus menderita dan mengakhiri hidup mereka sendiri.
"Sudah hentikan!"
Mendengar perintah itu, mereka langsung menghentikan aksinya. Reyhan meringkuk di atas lantai yang dingin karena merasakan sakit di sekujur tubuhnya.
Sreekkk....
Nampan yang di dorong itu tepat di hadapan, Reyhan. Kini nampan miliknya itu isinya tak lagi sama dari yang tadi. Tak ada lagi lauk di atasnya hanya ada nasi putih itupun hanya tinggal separuh saja. Reyhan menatap pria dihadapannya. Ia masih saja tak terima. Ia merasa jatah itu sangatlah kurang untuk memulihkan tenaganya akibat pengeroyokan yang di lakukan oleh bawahan pria tersebut.
"Apa melotot seperti itu, mau ku congkel ya matamu itu! sudah sana habiskan nasi itu sebelum aku mengambilnya lagi! beruntung aku masih menyisakan sedikit untukmu. Seharusnya kamu berterima kasih kepadaku, bukannya malah melotot seperti itu!"
"Kamu di sini hanyalah Nara pidana bukan konglomerat lagi, jadi ingat statusmu itu dan jangan bersikap sok di sini! paham kamu!"
Pria tersebut menginjak nasi itu tanpa bisa di cegah oleh, Reyhan. Setelah mengatakan hal tersebut, pria itupun berlalu pergi dari ruangan itu bersama dengan teman-temannya menuju ke sel tahanan mereka.
Barulah, Jason berani mendekat ke arah Reyhan. Dia berusaha membantu mengangkat tubuh Reyhan supaya bisa berdiri. Tetapi Reyhan justru menepis tangan, Jason.
"Pergilah, pah! tak perlu berpura-pura baik padaku!"
"Nak, maafkan papah. Tadi papah tak berani mendekat karena jumlah mereka banyak."
"Papah memang tak pernah sayang padaku, makanya diam saja pada saat melihat aku di hajar oleh mereka! tidak ada niatan untuk papah menolongku!" mata Reyhan berkaca-kaca, dia terus merintih menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
Sementara Jason tak bisa berkata lagi, dia hanya diam membisu melihat anaknya babak belur tak berdaya.
"Ini semua gara-gara papah! jika papah tak berbuat jahat, pasti aku tak alami hal ini! bahkan papah memaksaku untuk ikut berbuat jahat, walaupun waktu itu aku sudah menolaknya! papah telah membuat hidupku menderita seperti ini!"