
Tidak ada jawaban sama sekali pada Michelson hingga, Rose kembali berkata.
"Daddy, tak perlu khawatir. Sebentar lagi Jason dan Reyhan akan mendapatkan balasannya, mereka akan mendekam di penjara."
Rose mencoba menenangkan Michelson yang hatinya sedang panas.
"Den, apa yang Non Rose katakan ada benarnya. Biarkan aparat hukum yang memberikan hukuman pada mereka."
Bi Surti ikut pula menasehati Michelson.
"Terimakasih, mom. Kamu telah menyelidiki semuanya dan membantuku menghukum pelaku kejahatan tersebut. Kalau kamu tak membantuku menyelidikinya mungkin saat ini aku akan tetap menjadi orang bodoh yang tak tahu apa-apa." Michelson memeluk istrinya seraya mengecup pucuk rambutnya.
"Jangan berterima kasih, aku melakukan itu karena awalnya ikut membantu mencari mamah. Ternyata hal ini ada sangkut pautnya juga dengan apa yang menimpa pada, mamah."
"Kini bukti sudah cukup untuk menjerat Jason dan Reyhan. Kita tak perlu lagi menunggu hingga mamah pulih."
"Mommy, aku sungguh tak menyangka mempunyai seorang istri yang sangat hebat, cerdas seperti dirimu ini."
"Iya dengan bertambahnya bukti dari, Bi Surti. Kira tak perlu lagi menunggu bukti saksi dari mamah. Aku rasa ini juga sudah cukup untuk menjerat, Jason dan Reyhan."
Setelah mengetahui semuanya, Michelson memutuskan untuk menemui pengacaranya. Dia teringat aset yang ada di luar negeri yang sempat diambil alih oleh Jason. Dia ingin mengambil alih semua harta milik Jason yang sejak awal adalah miliknya. Ia akan membuat Jason dan anaknya kehilangan harta dan juga kehormatannya sebagai balasan atas apa yang telah Jason lakukan.
"Jadi bagaimana pak, apakah saya bisa mengambil alih kembali semua aset yang seharusnya milik saya itu yang ada di Luar Negeri?" tanya Michelson ketika menemui salah satu pengacara keluarganya.
"Tentu saja, Tuan. Karena sejak awal memang aset yang ada di luar negeri akan di serahkan oleh almarhum papah anda pada anda, sementara Tuan Jason hanya sebagai pengganti sebelum anda benar-benar mampu memimpin perusahaan yang ada di luar negeri."
Ucap pengacara tersebut menjelaskan kesepakatan awal yang telah Jason setujui pada saat mengambil alih perusahaan di luar negeri.
"Kalau begitu saya minta secepatnya anda mengurus pemindahan nama hak milik perusahaan yang ada diluar negeri tersebut. Karena saya tak ingin perusahaan tercoreng akibat penangkapan Jason dan anaknya."
Perintah Michelson di sertai anggukan sang pengacaranya.
"Kalau begitu saya akan mengurusnya secepat mungkin, Tuan. Anda tinggal menunggu hasilnya saja. Saya pamit undur diri ya, Tuan. Masih ada beberapa hal yang harus saya urus."
Pengacara tersebut bangkit dari duduknya di ikuti oleh Michelson yang ikut berdiri pula. Keduanya saling berjabat tangan, dan pengacara tersebut berlalu pergi dari hadapan Michelson.
"Daddy, aku baru tahu jika perusahaanmu yang ada di luar negeri itu di ambil alih oleh, Jason. Tapi kenapa dia beberapa hari ini aku lihat selalu stand by di kantormu?"
"Entahlah, dia bilang lelah mengurus perusahaan ingin istirahat sejenak. Dia hanya sekedar bermain ke kantor."
"Hem, seperti itu ya Daddy. Berarti masalahnya sudah selesai kan?" Rose menyereahkan satu cup cofee pada Michelson sedangkan satunya lagi untuk sendiri.
"Sudah, aku senang sekali dan lega rasanya. Karena semuanya akan kembali padaku lagi," senyum sumringah terpancar pada wajah Michelson.
"Apa kamu masih ingin membunuhnya?" goda Rose terkekeh.
"Kalau ada kesempatan aku mau menghabisinya, kini aku sangat membencinya. Bayangkan saja mereka telah membunuh papahku yang sudah begitu baik pada mereka! dan nyawa mamahku juga hampir hilang pula! bukannya berterima kasih dengan apa yang telah orang tuaku berikan, malah berbuat keji pada orang tuaku!" Michelson kembali menggertakkan giginya seraya mengepalkan tinjunya.
"Sudahlah, Daddy. Biarkan hukum yang bicara, jadi kita tak usah mengotori tangan kita sendiri kecuali jika hal itu terpaksa. Misalnya jika kita dalam kondisi terjepit dan kita harus melakukan tindakan tersebut untuk membela dirinkita sendiri," tukas Rose.
Tiba-tiba Michelson terus saja menatap Rose tanpa berkedip membuat Rose salah tingkah di buatnya.
"Kamu cantik," ucap Michelson jujur membuat pipi Rose bersemu merah.
"Aku memang cantik, kalau aku nggak cantik memangnya kamu masih mau sama aku?" tanya Rose membuat Michelson terkekeh.
"Oke dech oke cantik..
Ucap Michelson mengacak-acak rambut Rose karena gemas.
"Daddy, kenapa kamu mengacak tatanan rambutku?" Rose melotot pada Michelson.
Dia sangat kesal rambutnya berantakan karena ulah Michelson.
"Ce ilee marah nih ye, aku gemas padamu mommy," Michelson tiba-tiba mengecup bibir Rose yang membuat Rose tersentak kaget.
Setelah menemui pengacara keluarganya di cafe, kini Michelson dan Rose sedang dalam perjalanan pulang menuju rumah mereka. Sepasang suami istri ini hanya saling diam sama sekali tak ada obrolan atau sepatah kata yang keluar dari mulut mereka hingga sampai di rumah.
"Daddy"
"Ada apa, mommy?'
"Terima kasih karena sudah mencintai ku dan terima kasih sudah berada di sisiku dan tak akan meninggalkanku. Aku juga berterima kasih, karena kamu sudah membuat hidupku selalu berwarna." Ucap Rose senyumnya tulus.
Sejak Rose menjadi istri Michelson hidupnya memang bahagia. Tak ada lagi beban berat di pundaknya. Ia bisa tersenyum bebas saat bersama laki-laki itu. Ia juga bisa merasakan cinta tulus yang tak pernah ia rasakan. Baik itu dari seorang laki-laki ataupun dari ayahnya sendiri. Karena sejak mamahnya meninggal dan papahnya menikah dengan Merry, yang di perhatikan oleh papahnya sejak dulu adalah Merry dan Siska.
Hatinya yang beku dapat mencair karena Michelson, ia menjadi memiliki rasa peduli kasih sayang dan juga cinta. Dan ia berterima kasih akan hal itu.
Michelson yang mendengar akan hal itu, langsung memeluk istrinya erat-erat. Tiba-tiba saja Rose menangis di pelukan Michelson. Tentu saja hal ini membuat suaminya mengerutkan dahinya. Sejenak Michelson melepaskan pelukannya.
"Mommy, kenapa kamu menangis seperti ini? apa aku telah melukai hatimu? jika iya, aku minta maaf."
Michelson menghapus air mata Rose dengan ibu jarinya.
"Mana wanita tangguh yang pemberani yang aku kenal selama ini? wanita yang kerap kali suka pergi lewat jendela?" Michelson sengaja menggoda Rose supaya tak bersedih lagi.
Dia memang sangat tahu bagaimana kehidupan Rose sebelum menikah dengan dirinya. Hingga dia tak menyalahkan Rose pada saat menangis.
Rose memukul-mukul bahu Michelson karena kesal dirinya di goda terus olehnya.
"Auh, sakit mom. Nah ini mommy aku yang paling aku suka seperti ini. Suka memukul diriku, tapi nggak sekeras ini juga kali...ini sakit sekali mommy ..
"Sukurin dech, salah siapa menggodaku." Rose mengerucutkan bibirnya.
"Aku pikir mommy nggak bisa menangis, eh ternyata bisa juga hheee...."
Kembali lagi Michelson menggoda istrinya.
*******