Wonder woman

Wonder woman
Kembali Lagi Rose Menolong Orang



Setelah kemarin Rose telah berhasil menangkap dalang dari sabotase rem mobil, Michelson. Rose tak henti-hentinya senang karena dia akan berbuat yang sama pada, Bobby di lapas nanti. Seperti yang dia lakukan pada musuh-musuhnya yang lain. Karena di dalam lapas dia juga punya anak buah.


Rose berjalan menyusuri trotoar dan gang yang ada di kota itu. Tiba-tiba suara gaduh di gang buntu tak jauh dari tempatnya berdiri mengalihkan perhatiannya.


"Tolong lepaskan saya, saya bisa melaporkan kalian kepada polisi! apa kalian tidak melihat kalau saya ini sudah berumur. Jangankan melawan kalian untuk berdiri pun saya tak sanggup."


ucap seorang wanita paruh baya saat ini sedang digeromboli oleh pria berjas hitam yang Rose yakini mereka adalah bodyguard.


"Kami akan melepaskan anda, nyonya. Tapi tolong secepatnya tanda tangan ini."


ucap bodyguard itu menyerahkan sebuah map di tangannya kepada wanita paruh baya itu.


Namun tangan wanita paruh baya itu yang sudah keriput merobek map itu tanpa melihatnya terlebih dulu.


"Gila kalian ya, mana mungkin aku menandatangani surat itu! lebih baik aku mati daripada menandatanganinya," teriak wanita paruh baya itu terhadap kedua pria itu.


"Menarik," ucap Rose yang masih diam menonton perdebatan itu.


Hingga akhirnya salah satu diantara mereka, ingin melayangkan sebuah tamparan di pipi wanita paruh baya itu. Rose langsung mengeluarkan ruyungnya, dan melemparkannya tepat mengenai kepala pria itu. Seketika tangan yang hendak mendarat di pipi wanita paruh baya itu, langsung berhenti karena rasa sakit yang ada di kepalanya. Tangannya berpindah posisi memegang kepalanya yang terlempar ruyung.


"Akhhh.... sialan, siapa yang berani-beraninya mencampuri urusanku!" teriak orang itu mencari-cari keberadaan orang yang telah melempar kepalanya dengan ruyung.


"Aku orangnya, memangnya kamu ingin membalasnya, Tuan?" tanya Rose mendekati mereka dengan langkah tak kenal takut walaupun ia hanya sendirian sedangkan para pria itu ada dua orang.


"Siapa kamu beraninya kamu mencampuri urusanku, ha?" teriak salah satu bodyguard yang membuat Rose terkekeh pelan kemudian Rose menghampiri wanita paruh baya itu yang menatapnya dengan penuh harap.


"Tolong saya, Nona," ucap wanita paruh baya itu hingga membuat Rose merasa iba dan tak tega.


"Pasti, Nyonya tak perlu khawatir, serahkan saja pada saya," Rose tersenyum ramah.


Wanita paruh baya itu menatap bodyguard yang ada di hadapannya dengan tatapan penuh kebencian.


"Apa kalian tak malu, yang ngakunya jantan tetapi padahal sebenarnya adalah banci!" ejek Rose tersenyum sinis, dua bodyguard itu tak terima terutama bodyguard yang terluka di kepalanya karena sabetan ruyung milik Rose.


"Kenapa tak terima aku bilang kalian itu banci, bukannya kenyataannya seperti itu. kalian itu pria dan berdua pula sedangkan ibu ini hanyalah seorang wanita yang duduk di kursi roda. Tetapi kalian malah mau mengeroyoknya, apa itu namanya kalau tidak banci. Kalau kalian mau mencari lawan itu yang sepadan bukan malah mencari lawan seperti ibu-ibu tua ini," ucap Rose mengepalkan tangannya erat sementara matanya menatap tajam ke arah dua bodyguard di hadapannya.


"Banyak omong, menyingkir lah dan biarkan kami membawa wanita tua itu atau kami akan menghabisimu sekarang juga!" ancam salah satu bodyguard kepada, Rose.


"Ayo maju, kita satu lawan satu akan aku tunjukkan kehebatan seorang wanita yang kalian anggap lemah dan tak bisa apa-apa," Rose menggertakan giginya serta merenggangkan otot-otot tangannya.


Karena tak ingin di anggap banci, mereka pun akhirnya maju satu persatu. Rose dengan sigap menghindari dan membalas serangan mereka satu persatu. Hingga keduanya terkapar di atas tanah karena keahlian bela diri Rose yang luar biasa.


"Terima kasih, nona terima kasih."


Ucap wanita paruh baya itu, mendorong kursi rodanya mendekati Rose kemudian mencium punggung tangan, Rose.


"Eh...tak perlu seperti ini, apakah Nyonya tak apa-apa?" tanya Rose khawatir pada wanita paruh baya di hadapannya itu.


"Tidak, saya tidak apa-apa berkat bantuan nona," ucap wanita paruh baya itu merasa telah berhutang budi pada Rose.


"Tak usah di pikirkan saya ikhlas membantu, nyonya.Oh iya ngomong-ngomong kenapa nyonya bisa berurusan dengan dua pria tadi?" tanya Rose tiba-tiba penasaran.


"Mereka ingin mendesak saya menandatangani pemindahan aset dan juga saham perusahaan agar jatuh ketangan menantu saya yang jahat. Saya tak bisa memberikan perusahaan saya kepadanya. Saya takut perusahaan yang saya rintis dengan susah payah dari nol akan hancur di tangan wanita yang sukanya shopping shopping berfoya-foya jadi saya berkeras hati tidak mau menandatangani surat pemindahan aset dan juga saham tadi itu, tapi mereka memaksa dan malah berusaha mencelakai saya di sini," ucap wanita paruh baya itu menjelaskan masalahnya kepada, Rose. Rose pun merasa iba padanya.


"Lalu sekarang Nyonya mau apa, apakah mau saya antar pulang?" Rose bertanya pada wanita paruh baya itu.


"Tidak, bawa saya bersamamu saja Nona. Saya tak mau pulang ke rumah. Saya hanya wanita tua yang lemah dan mereka semua mendesak saya untuk menandatangani surat itu. saya tak mau perusahaan saya jatuh kepada tangan orang yang salah," ucap wanita paruh baya itu menatap memelas kepada, Rose.


"Baiklah, Nyonya. Mari ikut saya pulang ke rumah. Biar nanti saya bantu menyelesaikan permasalahan anda. Untuk sementara waktu supaya anda aman memang sebaiknya tinggal bersama saya dulu," ucap Rose.


"Terima kasih, nona. Kamu bukan hanya saja cantik wajahmu pintar bela diri tapi juga cantik hatimu. Padahal kamu sedang hamil tapi kamu masih mampu melawan dua pria jahat tadi." Wanita ini menatap Rose dengan mata berkaca-kaca.


Saat itu juga Rose mendorong kursi roda yang di naiki wanita paruh baya itu menuju ke arah dimana saat ini mobil Rose terparkir. Dia dengan sangat pelan membantu wanita paruh baya tersebut masuk ke dalam mobilnya.


Dan dia pun melajukan mobilnya arah pulang. Hanya beberapa saat saja telah sampai di pintu gerbang mension, Michelson.


"Wah, ini rumahmu nona? megah sekali bagaikan rumah anak dari teman sahabat saya. Tapi entah bagaimana kabarnya sekarang masih hidup atau tidak," ucap wanita paruh baya ini.


"Memangnya siapa nama sahabat, nyonya?" tanya Rose penasaran.


"Berta, dia sahabat saya yang paling baik. Tapi sejak saya alami kelumpuhan saya kehilangan komunikasi dengannya. Dan terakhir saya dengar dia alami kecelakaan pesawat terbang sudah sekian tahun lamanya. Tapi saya masih ingat betul jika rumahnya seperti ini, dia punya satu anak dan bernama, Michelson," ucap nya lagi.