
Pagi menjelang, Rose ingin sekali datang menyambangi kantor Michelson.
"Entah kenapa pagi ini aku ingin datang ke kantor suamiku. Hanya ingin memastikan segalanya yang terjadi di kantor."
Rose menghampiri suaminya yang sedang memakai baju kantornya.
"Daddy, bolehkah aku ikut kekantor pagi ini?" Rose memasang dasi suaminya seraya menatap genit suami nya.
"Kenapa pula kamu pakai bertanya seperti itu, mommy. Jika kamu ingin ikut tinggal ikut saja."
"Aku kan khawatir jika ikut ke kantor mengganggumu. Makanya aku tanya terlebih dulu."
"Hem, jelas mengganggu. Paling yang ada aku ingin memakan dirimu dikantor nanti." Celoteh Michelson terkekeh.
Tak berapa lama, mereka pun berangkat ke kantor. Michelson sangat senang istrinya bisa ikut ke kantor.
Sesampainya di kantor, Rose langsung masuk ke ruang kerja Michelson. Sementara suaminya berada di ruang rapat pertemuan seluruh karyawan dan karyawati kantor.
Rose sengaja masuk ke dalam ruangan tersebut dimana ada ranjang untuknya berbaring.
"Kerek.."
Pintu ruangan yang di buka perlahan, membuat Rose yang sedang berbaring langsung bangkit dari ranjang. Dia melangkah ke depan dan pandangannya bertabrakan dengan, Jason. Pria tersebut gelagapan sementara Rose hanya tersenyum-senyum meremehkan.
"Om Jason, untuk apa kemari diam-diam seperti maling saja?" ucap Rose dengan suara lantang membuat Reyhan yang akan masuk ke ruangan Michelson ikut menghentikan langkahnya tepat di depan pintu ruang kerja, Michelson.
Akan tetapi dia penasaran juga dengan apa yang terjadi hingga dia pun memberanikan diri masuk pula ke rumah kerja, Michelson.
Reyhan langsung menatap Rose dengan dahi berkerut. Kemudian dia mengalihkan pandangan pada, Jason yang saat ini tengah menatap Rose dengan rahang mengeras dan tangan mengepal keras.
Melihat itu, Reyhan menjadi heran dengan perlahan dia menghampiri Jason yang saat ini masih berdiri di ambang pintu ruang kerja, Michelson.
"Apa maksud perkataan dia, pah?" tanya Reyhan meminta penjelasan pada papahnya.
Sementara Jason terlihat menghela napas panjang.
"Ayo ikut aku, biar aku jelaskan." Jason menarik tangan Reyhan pergi meninggalkan ruang kerja Michelson.
Dia membawa Reyhan ke ruang kerjanya sendiri.
"Sebentar lagi pria tua itu pasti akan menangis di dalam penjara hingga mengeluarkan darah.....hhaa...aku senang sekali dan tak sabar melihat pria itu membusuk di penjara." Ucap Rose tertawa dengan begitu kerasnya.
"Astaga, aku kira siapa yang tertawa sekencang itu, ternyata istriku yang sedang bahagia," tukas Michelson yang baru saja masuk ke ruang kerjanya.
"Kenapa, apa kamu akan meninggalkan aku karena tawaku begitu keras dan tak anggun sama sekali. Kalau benar begitu aku akan membunuhmu terlebih dulu, Tuan Michelson."
Michelson langsung terkekeh mendengar hal tersebut kemudian dia menarik pinggang Rose dan mengajak wanita itu berjalan bersama menuju ke ranjang yang ada di ruang kerja tersebut.
"Kamu selalu mengejekku, pikun, bodoh, buta dan lain sebagainya tapi aku tak masalah. Aku menyukainya, itu yang membuat kamu berbeda dari wanita lain dan aku menyukai hal tersebut. Tetaplah seperti itu dan janganlah berubah," Ucap Michelson mencium pipi Rose penuh sayang.
"Kalau aku tetap berbuat barbar seperti ini , apa kamu akan tetap mencintaiku?" tanya Rose pada pria yang masih memeluk pinggangnya erat.
"Tergantung." tukas Michelson singkat.
"Tergantung bagaimana?" Rose meminta penjelasan pada Michelson.
"Kamu berubahnya seperti apa, kalau kamu berubahnya menjadi lebih baik aku tak masalah. Bahkan mungkin aku akan senang. Tapi apapun itu aku lebih suka kamu menjadi diri sendiri."
Ucap Michelson membuat Rose sedikit merasa lega.
"Syukurlah, setidaknya jika aku masih suka lewat jendela dan suka berkelahi itu berarti tak masalah buatmu kan?" Canda Rose terkekeh, membuat Michelson melirik sinis.
"Daddy, kenapa kamu masih mempertahankan Reyhan dan Om Jason di kantor ini. Baru saja aku memergoki, Om Jason masuk ke ruanganmu secara diam-diam. Aku yakin dia punya rencana jahat."
"Mommy, kita belum punya bukti yang kuat untuk menyeretnya ke kantor polisi. Makanya aku tak bisa begitu saja memecat mereka. Kita tunggu sampai, Mamah benar-benar pulih. Karena tak cukup dengan adanya bukti dari Paman Mike dan beberapa anak buah, Om Jason yang kita tawan. Masih harus ada bukti lagi." Tukas Michelson.
"Daddy, itu sama saja kamu memelihara ular berkepala dua di perusahaanmu ini. Apa kamu nggak khawatir jika mereka bergerak lebih cepat darimu dengan mengambil alih tampuk kekuasaan perusahaan ini?"
"Heee, mommy jalan pikirmu terlalu jauh. Nggak mungkin mereka akan berani seperti itu."
Rose hanya diam, di dalam hatinya meras kesal pada suaminya yang terlalu menganggap enteng kekuatan musuh.
Sementara di ruang kerja, Jason tengah duduk seraya memijit kepalanya yang rasanya mau pecah akibat masalah yang saat ini telah menimpa dirinya. Sementara Reyhan yang dari tadi menunggu penjelasan dari Jason pun sudah tak sabar. Dia menghampirinya dan menggoncang lengan Jason perlahan.
"Jelaskan, pah. Apa maksud Rose tadi? Berita bagus apa yang ingin papah sampaikan padaku? tanya Reyhan mendesak papahnya untuk mengatakan yang sebenarnya kepada dirinya.
"Rahasia kita terbongkar dan mungkin sebentar lagi polisi akan datang membekuk kita. Karena saat ini bukti sudah ada pada Rose. Beberapa orang anak buah kita di tawannya, dan dia juga bisa dengan mudah membebaskan Paman Mike. Serta saat ini dia pula yang telah menyelamatkan, Berta. Jika Berta benar-benar pulih, tamatlah riwayat kita," ucap Jason dengan nada frustasi.
Pria itu tak punya pilihan lain selain mengatakan yang sejujurnya pada Reyhan karena cepat atau lambat, anaknya akan tahu tentang hal ini.
"APA, KENAPA BISA?" teriak Reyhan menatap papahnya itu tak percaya.
"Semuanya itu bermula dari anak buah kita yang bodoh itu kehilangan pengawasannya pada saksi mata kita. Bahkan beberapa anak buah kita saat ini menjadi tawanan Rose."
"Makanya tadi papah sengaja diam-diam ke ruang kerja, Michelson untuk mengambil semua berkas-berkas yang penting supaya kita lekas bisa menguasai perusahaan ini. Malah lagi-lagi Rose memergoki papah."
"Dia menertawakan papah, mengejek papah."
Reyhan hanya bisa menghela napas panjang.
"Papah terlalu ceroboh, pasti saat ini Rose telah mengadu ke Michelson tentang kelakuan papah barusan."
"Hem, iya juga. Tapi papah akan berusaha bergerak cepat yakni mencari keberadaan, Berta dan membunuhnya. Karena dia saksi kunci kejahatan papah."
"Dan papah minta, kamu juga bergerak cepat mencuri semua berkas milik Michelson. Supaya perusahaan ini menjadi milik kita."
Mendengar hal itu, Reyhan hanya melirik sinis pada papahnya.
"Apa aku nggak salah dengar, pah? setelah papah mengusir aku, kini papah meminta aku membantu papah?" Reyhan mengernyitkan dahinya.
"Reyhan, ini demi kira berdua. Papah minta maaf atas kemarahan papah, kamu boleh kok kembali ke rumah. Asal kamu bantu papah dengan mencuri semua berkas penting perusahaan ini."
Reyhan tidak menjawab apa yang di katakan oleh Jason, dia diam seolah sedang berpikir.
******