
"Sayang, lain kali kalau ada apa-apa jangan langsung cemburu tapi tanyakan terlebih dahulu," Michelson duduk di sebelah Rose dan merapikan rambut istrinya yang sempat menutupi wajahnya.
"Siapa yang cemburu?" Rise tak mau mengaku jika dia cemburu.
"Siapa ya, aku juga tak tahu siapa yang cemburu. Cie cie Yeng cemburu," goda Michelson mengedipkan matanya.
"Diam nggak, kalau nggak diem aku sumpal mulutmu itu pakai kain lap," ucap Rose ketus.
"Jangan pakai kain lap, tetapi sumpal saja pakai bibirmu itu yang selalu membuatku candu," goda Michelson kembali.
"Sudah kan drama cemburunya, sekarang sarapannya di makan ya sayang."
Rose pun menerima makanan yang di berikan oleh Michelson. Makanan yang barusan di masak penuh cinta oleh suaminya tersebut.
Michelson sangat senang melihat cara makan Rose yang begitu lahapnya.
"Kalau makan tuh yang pelan-pelan, masa sampai belepotan seperti ini?" Michelson mengusap bibir Rose dengan jarinya.
"Ini gara-gara kedua anakmu, dia sepertinya begitu merindukan masakanmu, buktinya aku memakannya dengan lahap hingga tak tersisa. Sejak daddy koma, aku sampai rindu ingin makan masakanmu, dad."
Rose begitu semangat makannya.
"Haduh, mommy. Kenapa anak-anak aku yang di salahkan, bilang saja kalau memang masakanku enak iya kan?" ucap Michelson menaikkan turunkan alisnya.
"Hhhuuhh, Daddy mah suka kepedean dech. Oh iya, tolong Daddy hubungi Rika dan tanyakan kira-kira meeting akan di laksanakan paginya jam berapa? supaya aku tak terlambat dan tak gugup pula," pinta Rose meminta tolong pada suaminya.
"Ah, nanti kamu cemburu lagi dengan Rika," goda Michelson lagi.
"Enggaklah, Daddy. Tadi kan aku nggak tahu jika itu nomor ponsel, Rika."
"Berarti kamu ngaku kan tadi sempat cemburu?" terus saja Michelson menggoda Rose.
"Sudah cepetan hubungi, Rika. Eh Daddy, apakah Rika lupa ya jika hari ini kan hari libur kantor?"
"Bisa jadi dia memang lupa, ya sudah aku telpon Rika tapi kamu saja yang ngobrol dengannya aku tak ingin jika kamu cemburu lagi."
Setelah tersambung dengan Rika, Michelson memberikan ponselnya pada Rose.
"Rika, apa kamu lupa ya? jika hari ini adalah hari libur kantor, kenapa kamu kirim pesan seperti itu?"
"Hhee iya maaafkan saya nona. Barusan saya juga akan menelpon anda untuk mengatakan jika aku salah nulis, tetapi nona malah sudah menelepon dulu."
"Aku pikir ini hari Senin, nona. Itu laporan meeting untuk hari Senin pagi."
"Ya sudah nggak apa-apa, nanti malam kamu ingatkan aku lagi jika besok ada meeting di pagi hari dengan tiga klien yang berbeda."
"Siap, nona. Sekali lagi saya minta maaf."
"Iya nggak apa-apa."
Saat itu juga baik Rose maupun Rika mematikan panggilan telepon mereka.
"Mommy, apa sebaiknya kita healing saja supaya kamu terhibur. Kamu pasti lelah sekali kan, selama enam hari terus saja bekerja?" saran Michelson.
"Malas, Daddy. Liburan aku ingin di rumah saja untuk istirahat. Karena perut sudah sebesar ini, malss untuk jalan-jalan," ucap Rose.
"Daddy, apa itu surtaling?" tanya Rose mengerutkan alisnya.
"Surtaling itu kasur bantal dan guling," Michelson terkikik pelan.
"Ih, sama sekali nggak ada lucu-lucu dech."
Saat itu juga, Rose beralih keluar dari kamar. Dia berinisiatif untuk jalan-jalan mengelilingi halaman tanpa mengenakan alas kaki. Michelson dengan setia mendampingi istrinya. Sembari berjalan santai, mereka saling bercengkrama satu sama lain.
Sementara saat ini Linda masih saja belum bisa menerima kekalahan dirinya. Dia masih saja ingin berurusan dengan, Rose.
"Aku tidak rela jika wanita barbar itu merebut perusahaan yang seharusnya menjadi milik aku. Tapi hingga saat ini aku belum juga menemukan cara Yeng jitu untu menyingkir wanita bar-bar itu;*
"Gara-gara dia juga aku harus kehilangan rambut indahku begitu saja. Padahal aku jerawatnya dengan bersudah payah."
"Sebaiknya aku segerakan melancarkan aksiku, karena aku tak ingin wanita bar-bar itu lebih lama lagi berada di kantor, Tante Lani."
Sejenak dia mondar-mandir seolah sedang berpikir cara apa yang tepat untuk bisa menyingkirkan Rose dari perusahaan Almarhumah Lani.
Kini dia harus terus menutupi rambutnya jika sedang berada di luar rumah karena merasa malu dengan rambut botaknya. Bahkan dia juga sungkan ke salon untuk merapikan potongan rambutnya yang berantakan sekali.
Linda mencari-cari informasi tentang orang yang mau membantu usahanya untuk menyingkirkan Rose. Dia berhasil menemukan dua orang pria yang dia yakini akan berhasil menjalankan misinya tersebut.
"Ingat ya, kalian harus berhasil dalam menjalankan misi ini..Jika tidak aku tidak akan membayar kalian. Aku bayar kalian separo dulu sisanya aku bayar jika tugas kalian benar-benar sudah berhasil," ucap Linda pada dua anak buahnya.
"Baik, bos. Kami pastikan jika kamu akan berhasil menyingkirkan tarjet," ucap satu anak buahnya dengan sangat yakin.
"Ya sudah, secepatnya aku tunggu kabar baik dari kalian. Dan ini bayaran awal untuk kalian."
Linda menyershkan amplop coklat di hadapan ke dua anak buahnya.
Setelah itu dia pun berlalu pergi dari hadapan anak buahnya tersebut. Seperginya Linda, dua orang pria ini cekikikan.
"Heh, bodi sekali dia di kelabui oleh kita. Untuk apa pula kita pertaruhkan nyawa untuk mencelakai orang."
"Ya benar, lagi pula jika orang yang kita celakai mati. Pasti arwahnya akan terus mengikuti kita hingga kemanapun."
"Makanya kita tak usah melakukan apa yang Wanita tadi perintahkan. Sebaiknya kita cari lagi mangsa yang baru. Dan jangan lupa kita blokir nomor ponsel dia."
"Wah usul yang sangat bagus sekali. Mati kita segera pulang dan kira bagi rata uang ini," ajak salah satu pria tersebut.
Kedua pria ini sama sekali tak mengindahkan pesan dari, Linda. Padahal mereka susah mendapatkan imbalannya. Mereka malah memutuskan prgi jauh dari kota tersebut dan mencari mangsa baru di kita lain.
*****
Pagi menjelang hingga siang dan tak terasa sudah sore lagi. Tetapi Linda belum juga mendapatkan kabar tentang anak buahnya yang telah dia beri imbalan separo bayarannya untuk menyingkirkan, Rose.
"Sudah seharian tetapi dua orang itu tidak terlihat sana sekali. Dan aku jga tak bisa menghubungi nomor ponsel keduanya. Sebenarnya apa yang sedang terjadi?" Linda terus saja bertanya-tanya di dalam harinya.
Untuk menghilangkan rasa penasaran, Linda mendatangi rumah salah satu preman tadi. Tetapi juga tak membuahkan hasil sama sekali. Dia semakin emosi ingin melakukan sesuatu tapi tak bisa.
"Ya ampun, kemana pria itu? padahal aku telah memberinya banyak uang?'"