
Setelah Rose selesai makan siang, dia pun inisiatif mencari keberadaan suaminya. Tetapi baru sampai di pelataran rumah, tiba-tiba ponselnya berdering.
Kring kring kring...
"Siapa sih yang telpon, apakah Michelson? tapi nomor tidak terdaftar." Rose malas untuk melayani nomor ponsel yang tidak terdaftar. Hingga telpon tersebut tidak di angkat.
Drt drt drt drt
Masuk satu notifikasi chat pesan ke dalam nomor ponsel, Rose.
Kali ini Rose membukanya.
[Selamat siang, Nona Rose. Kami dari aparat polisi memberi tahukan bahwa suami anda mengalami kecelakaan tunggal. Mobilnya masuk ke dalam jurang dan meledak. Tapi kami tak menemukan keberadaan suami anda. Hingga kami belum memastikan apakah suami anda masih hidup atau tidak. Sebaiknya anda lekas ke lokasi kejadian saat ini juga.]
Rose sempat terhenyak kaget mendengar berita tersebut, tetapi dia mencoba untuk tidak lemah. Dia pun tak menitikkan air mata sama sekali.
"Aku yakin saat ini suamiku masih hidup, dan aku yakin pula ini pasti ulah seseorang yang tak suka dengan kami. Lihat saja aku tidak akan membiarkan semua ini terjadi begitu saja, akan aku balas orang yang telah menyakiti suamiku."
"Aku juga harus merahasiakan ini dari mamah, jangan sampai dia tahu kejadian ini. Aku tak ingin mamah khawatir dan terus memikirkan hal yang tidak-tidak yang hanya mengganggu kesehatannya saja."
Rose lantas melajukan mobilnya dan tak lupa menghubungi anak buahnya agar turut serta ke lokasi dimana Michelson alami kecelakaan.
"Andi bawa serta beberapa anak buahmu ke lokasi dimana suamiku alami kecelakaan tunggal, nanti aku share lokasinya. Aku juga sedang dalam perjalanan ke sana."
"Baiklah, bos. Kami juga akan segera berangkat."
Segera Rose melanjutkan perjalanannya lagi, setelah dia menelpon anak buahnya. Tak beberapa kemudian, sampailah Rose di lokasi kejadian dimana terjadinua kecelakaan tunggal.
"Selamat siang, Nona Rose. Silahkan anda bisa ikut kami ke lokasi kejadian. Siapa tahu justru anda bisa menemukan sesuatu yang penting yang bisa di jadikan sebagai bukti." Aparat polisi menyusuri tangga yang sudah di pasang dengan menyambung beberapa tangga untuk bisa sampai di dasar jurang yang terjal.
Rose turut serta dan beberapa anak buah Rose juga telah sampai, mereka juga turut turun ke dasar jurang. Tugas para anak buahnya untuk mencari keberadaan Michelson yang belum juga di temukan.
Setelah sampai di dasar jurang, Rose dan beberapa aparat polisi terus saja menyelidik daerah sekitar, begitu pula dengan para anak buah, Rose.
"Setelah kami selidiki, ada seseorang yang telah menyabotase rem mobil sehingga rem mobil tidak berfungsi dan mengakibatkan kecelakaan ini," ucap salah satu aparat polisi.
"Hem, berarti ini ada suatu unsur kesengajaan ya, pak. Saya mohon tolong di selidiki lebih lanjut kasus suami saya ini. Dan saya juga yakin, suami saya masih hidup. Satu hal lagi, pak polisi. Saya mohon kasus ini jangan di ekpos supaya mamah mertua saya tidak tahu kejadian ini. Jangan di beritakan baik di sosial media baik cetak maupun elektronik," pinta Rose.
"Baiklah, Nona. Kami akan menasehati para wartawan supaya tidak memberitakan hal ini."
Mereka terus saja menyelidiki dan mencari keberadaan, Michelson. Hingga pada akhirnya salah satu anak buah, Rose menemukan jejak adanya Michelson.
"Bos, kemari. Saya menemukan, Tuan Michelson!" teriak Andi.
Rose melangkah cepat bersama dengan beberapa aparat polisi. Kondisi Michelson saat itu tak sadarkan diri, dan sangat mengenaskan karena wajah dan tangan serta kakinya terluka parah.
Saat itu juga Michelson di angkat sudah payah ke atas oleh para anak buah, Rose dengan mengenakan tambang. Michelson di baringkan pada sebuah ranjang yang di bawa oleh aparat polisi di mobil ambulans. Dan ranjang tersebut di ikat di setiap sisinya dengan tali yang sangat kuat.
Setelah sanksi di atas, segera di larikan ke rumah sakit. Dan setelah sampai di rumah sakit, Michelson langsung di larikan ke ruang Instalasi Gawat Darurat.
"Andi, tolong kamu bersama anak buahmu berjaga di setiap sisi ruang IGD dimana suamiku sedang di rawat. Aku akan mengecek rekaman video CCTV di sekitar kantor suamiku, siapa tahu ada sebuah petunjuk untuk menangkao di pelaku," pinta Rose.
"Siap, bos."
"Begini saja, kamu di sini bersamaku. Sementara kamu perintahkan dulu anak buahmu seperti yang aku katakan tadi."
'Siap, bos."
Sejenak Andi menghampiri keempat anak buahnya dan memerintah untuk berjaga di semua sisi ruang IGD. Sedangkan dia menjaga Rose selagi Rose fokus mengecek rekaman video CCTV.
Rose begitu fokus mengecek rekaman video CCTV, pertama dia lihat CCTV lewat ponselnya di bagian tempat parkir. Karena dia mencurigai jika mobil Michelson di sabotase pada saat di parkiran mobil.
Rose memang cerdas, dia langsung menemukan sebuah titik terang.
"Hem, benar kecurigaanku. Jika ada yang bertindak jahat pada suamiku. Lantas siapa dua orang pria yang memakai penutup wajah ini?" batin Rose penuh tanda tanya.
Sejenak dia memperbesar foto kedua pria, dimana yang satu sedang menyabotase rem mobil Michelson dan yang satu pria sedang waspada menjaga sekitarnya dengan sesekali tengok ke kanan kiri dan keseluruh penjuru arah.
"Bagaimana aku bisa tahu dua orang ini siapa dan siapa pula yang membayar mereka?" batin Rose semakin penasaran.
Terus saja foto orang tersebut di perbesar dan Rose menemukan jka orang yang sedang berjaga ada sebut tato di punggung tangan dan bergambar burung elang.
"Andi, kemarilah. Apa kamu tahu tentang orang yang memakai taro elab di punggung tangannya?" tanya Rose menunjukkan foto yang dia zoom.
Sejenak Andi menatap foto tersebut dan dia teringat jika ada suatu perkumpulan yang memang semua anggotanya bertatto di punggung tangannya.
"Bos, mungkin ini salah satu anak buah yang ada di suatu perkumpulan elang hitam," ucap Andi.
"Jadi kamu tahu tentang orang yang bertato elang hitam ini?" tanya Rose.
"Sedikit, bos. Setahu saja memang masih ada hingga saat ini. Tetapi perkumpulan ini begitu tertutup, kalau nggak salah markas mereka di sebuah pegunungan," ucap Andi.
"Bagus, ada tugas baru untukmu. Selidiki berapa kekuatan lawan. Supaya kita bisa masuk ke markas mereka tanpa ada anak buah kita yang terluka!" perintah Rose.
"Maksud, bos. Kira akan menyerang markas mereka?" tanya Andi ragu.
"Bukan menyerang, tetapi kita akan bertamu dan mencari salah satu diantara mereka yang telah mencelakai suamiku. Karena tidak mungkin jika seluruh anggota elang hitam bersekutu," ucap Rose.
"Baiklah, bos. Saya akan menyelidikinya."