
Pada saat di jalan sepi, satu mobil dan beberapa pengendara motor menghimpit mobil yang di kemudikan, Roy.
Saat itu juga, mobil Roy terhenti. Dan pada saat, Rose akan keluar Michelson menahannya.
"Mommy, jangan keluar! ini terlalu berbahaya untukmu dan anak kita, biar aku saja yang keluar."
Michelson keluar bersama dengan Roy, terjadilah baku hantam antara keduanya. Akan tetapi musuh lebih banyak, hingga Michelson dan Roy kewalahan.
"Sialan, tadi aku tak mendengarkan apa yang di sarankan oleh Rose!" batinnya kesal.
"Daddy, awas!" Rose langsung menangkis pria yang akan menggoreskan pisau pada suaminya.
Hingga Rose yang terkena goresan pisau tersebut di lengannya. Tapi dia sama sekali tak gentar, dia ikut melawan pria-pria yang menyerang Michelson dan Roy.
"Mommy, sudah aku katakan tetap berada di dalam mobil!" teriak Michelson lantang.
Rose hanya diam saja, dia sibuk melawan musuhnya. Tak berapa lama datang para anak buah, Rose.
Saat itu juga Rose menarik paksa Michelson masuk ke dalam mobil.
"Daddy- Roy, cepat masuk ke mobil! biar mereka yang hadapi musuh."
Rose mendorong paksa Michelson masuk ke dalam mobil, dan Roy segera melajukan mobilnya.
"Ya ampun, apa aku nggak salah lihat? siapa yang tiba-tiba menolong?" batin Michelson.
Dia lekas menelpon beberapa anak buahnya untuk membantu anak buah, Rose. Dan menangkap salah satu dari mereka untuk mencari tahu pelaku utama di balik semua itu.
"Mommy, tanganmu pasti sakit sekali." Michelson menutup luka Rose yang terus mengalir darahnya dengan tisue.
Dia mengambil kotak obat, lantas perlahan mengobati luka Rose.
"Mommy, apa perutmu terasa sakit atau tidak?"
"Daddy, nggak usah khawatir. Anak kita kuat kok, aku sama sekali tak merasakan sakit."
"Mommy, aku tak ingin melihatmu seperti tadi! Ngeri sekali kamu berkelahi seperti itu!"
"Hem, baiklah." Rose hanya jawab sekenanya saja.
Tak berapa lama, Michelson telah sampai di Mension mewahnya. Dia pun lekas menelpon, Celine.
"Mommy, kenapa nomor ponsel Celine sering tak aktif? sebenarnya dia saat ini sedang ada dimana sih?" Michelson menatap menyelidik ke arah Rose.
"Biarlah, Daddy. Dia sedang ada kepentingan, sudah izin padaku kok."
"Roy, apa kamu tahu aktifitas adikmu di luaran sana?"
"Maaf, Tuan. Saya tidak tahu sama sekali."
"Hem, aneh. Masa kalian kakak adik tapi sama sekali tak tahu aktifitas satu sama lain," Michelson mengerucutkan bibirnya.
Roy sama sekali tak menjawab apa yang barusan di katakan oleh, Michelson. Dia hanya fokus mengemudikan mobilnya.
"Kring kring "
Ponsel Michelson berdering.
"Bagaimana, apa kalian berhasil menangkap salah satu dari mereka?"
"Maaf, Tuan. Kani tidak berhasil, mereka semuanya kabur."
"Bodoh sekali! padahal jumlah kalian banyak, dan sudah ada pula yang membantu kalian!"
"Tapi tiba-tiba ada beberapa orang yang membantu mereka, Tuan."
Michelson sangat kesal karena anak buahnya tidak berhasil menangkap salah satu dari musuh.
"Suamiku, sebenarnya aku telah tahu siapa pelaku utama di balik ini semua. Hanya belum waktunya saja aku berkata jujur padamu."
"Mommy, kamu harus istirahat loh! awas kalau kamu kabur seperti yang sudah-sudah!"
Rose masuk ke dalam kamar berserta Michelson. Akan tetapi Michelson keluar dan mengunci pintu kamarnya dari luar, dia melupakan jendela.
"Silahkan kamu kunci pintunya, Daddy. Tapi aku masih bisa kabur lewat jendela." Rose menyeringai sinis.
"Drt drt drt"
Ada satu notifikasi chat pesan masuk dalam ponsel Rose.
[Bos, bisakah ke villa sekarang? Nyonya Berta saat ini telah sadar.]
[Bisa, saat ini juga aku akan ke villa.]
"Wah, kemajuan yang sangat pesat. Aku harus hubungi, Celine supaya lekas datang menjemput.
"Drt drt drt"
Satu notifikasi chat pesan tersebut berhasil masuk ke nomor ponsel, Celine.
Tanpa sepengetahuan, Michelson. Celine memiliki dua nomor ponsel, dan hanya Rose yang tahu. Celine segera membalas chat pesan dari, Rose.
[Otw, Nona.]
Celine mempercepat laju mobilnya, untuk lekas sampai di depan pintu gerbang.
"Untung saja aku sudah selesai di acara pesta itu, jika tidak aku akan kerepotan untuk bisa keluar dari sana." Gerutunya.
Tak berapa lama, Celine telah sampai di depan pintu gerbang. Rose juga telah berhasil keluar dari kamar lewat pintu jendela seperti biasanya.
"Kita ke villa sekarang!"
"Siap, nona."
Sementara Michelson kembali ke kamarnya, setelah dia sejenak dari ruang kerjanya menelpon beberapa anak buahnya.
"Sialan! istriku pergi lagi! aku lupa, jika tak mengunci jendelanya. Sekarang aku harus mereparasi jendelanya, supaya istriku tak bisa kabur-kaburan lagi!"
"Apa dia tak merasakan jika tangannya sedang sakit karena terluka! ampun dah, punya istri terlalu berani seperti ini!"
Michelson mengacak-acak rambutnya sendiri, dia lantas menelpon nomor ponsel Rose.
"Mommy, kamu kemana lagi sih? tanganmu kan sedang terluka, kenapa kamu pergi?"
"Daddy, aku lapar sekali. Bukannya tadi kita belum makan, sudah keburu di kepung musuh."
"Oh iya, aku lupa. Maafkan aku, mommy."
"Daddy, nggak usah khawatir. Saat ini aku sedang bersama, Celine."
"Iya, Tuan. Tenang saja ya, saat ini Nona bersamaku."
"Hem, baiklah. Apa nggak sebaiknya....
Tut...tut...tut...
"Haduh, belum juga aku selesai berbicara susah di matikan! dasar istri kurang ajar, awas kamu kalau aku pulang pasti aku hukum!" Michelson menepuk jidatnya sendiri seraya menghela napas panjang.
"Gara-gara penyerangan secara mendadak, aku lupa jika kita belum makan sama sekali. Kasihan sekali istriku harus mencari makan sendiri."
"Aku heran, sebenarnya siapa yang telah menyerangku barusan?" Michelson terus saja berpikir.
"Aku juga heran, siapa pula yang mengirim bala bantuan? jika tadi tidak datang bantuan tersebut, entah bagaimana nasib aku dan istriku."
Sementara saat ini, Rose telah sampai di villanya. Dia langsung menemui dokter dan perawat serta, mamah mertuanya.
"Mamah, puji syukur akhirnya mamah sadar juga."
Nyonya Berta telah membuka matanya, tetapi dia belum bisa berbicara sama sekali. Tangannya juga masih belum bisa di gerakkan.
"Dokter, bagaimana kondisi mamah mertua saya?"
"Seperti yang anda lihat, nona. Dia sudah sadarkan diri, tetapi belum bisa berkata. Harus menjalani beberapa terapi lagi, nona."
"Hem baiklah, dok. Lakukanlah yang terbaik untuk mamah mertua saya. Untuk biaya, dokter tak usah khawatir."
Rose sejenak duduk di kursi samping pembaringan dimana saat ini, Nyonya Berta berbaring lemah.
"Mah, ini Rose. Istri dari, Michelson anak mamah. Mamah jangan takut lagi ya. Rose pasti akan balaskan dendam, mamah. Dan sebentar lagi, mamah pasti bertemu Michelson."
Rose menggenggam jemari tangan, Berta.
Berta menatap haru pada, Rose. Dan dia mengangguk pelan seraya menitikkan air matanya.
"Mah, kenapa mamah menangis? tak perlu sedih, saat ini mamah aman kok. Dan aku juga akan selalu menjaga Michelson dari ancaman bahaya, Jason dan Reyhan."
Rose mengusap air mata, mamah mertuanya dengan sangat lembut.
Berta menyunggingkan senyum kecil, dan tangannya menggenggam erat tangan, Rose.
"Sabar ya, mah. Sebentar lagi kejahatan Jason dan Reyhan akan segera terbongkar."
"Mah, sebentar lagi mamah juga akan punya cucu."
Rose meletakkan salah satu tangan mamah mertuanya ke perutnya.
"Ya Tuhan, aku bersyukur masih di beri napas kehidupan dah bertemu dengan menantu sebaik ini," batin Berta senang.