
Celine benar-benar menjaga kepercayaan dari, Rose. Dia sama sekali tak mengatakan rahasia tersebut pada, Michelson.
"Hem, hari ini aku akan mulai menyelidiki tentang keberadaan Tuan Jason."
Celine merasa tertantang dengan tugas yang diberikan oleh, Rose. Dia sangat antusias layaknya seorang detektif.
Saat ada waktu luang, dia gunakan untuk mencari tahu tentang, Tuan Jason. Sementara saat ini Rose sedang sibuk di garmen karena ada pesanan banyak.
Selagi sibuk mengamati para pekerja dalam bekerja, tiba-tiba ada seorang pria yang memakai seragam pabrik menyerang, Rose.
Pria tersebut bertujuan menusukkan pisau ke perut, Rose. Keberuntungan sedang ada di pihak, Rose. Sehingga dia sempat melihat gerak gerik mencurigakan pria tersebut. Hingga Rose terlebih dulu menangkis tangan pria tersebut, mengakibatkan pisau terjatuh.
Dengan gerak cepat pula, Rose memutar tangan pria tersebut.
"Auhhh, sakit...."
"Siapa yang menyuruhmu melukaiku!" ucap Rose lantang.
Pria tersebut tak mau menjawab hanya diam saja, membuat Rose semakin kesal saja.
"Cepat katakan! kenapa kamu diam saja!"
Pria tersebut tak lekas mengatakannya, dia malah menjatuhkan diri di dekat pisau yang terjatuh. Dan pisau tersebut sengaja di tusukan ke perutnya sendiri.
Kejadian ini membuat semua orang yang sempat melihat di garmen riuh ramai. Terutama kaum wanita ketakutan melihat darah segar pria tersebut mengalir dari perut.
Rose segera memerintahkan anak buahnya untuk melaporkan hal tersebut pada aparat kepolisian, supaya pihak keluarga tidak menyalahkan dirinya akan apa yang terjadi pada pria tersebut.
"Nona Rose, bagaimana hal ini bisa terjadi?" tanya salah satu aparat polisi menyelidik.
Rose menceritakan semuanya dari awal hingga akhir pada aparat kepolisian tersebut.
"Mommy, bagaimana kondisimu? apa kamu terluka?" tiba-tiba Michelson sudah ada di pabrik garmen milik Rose.
"Daddy, bagaimana tahu hal ini? aku nggak apa-apa kok, justru pria yang menyerangku langsung menusuk dirinya sendiri."
"Syukurlah, mommy. Kenapa bisa ada penyusup di garmen ini?"
"Entahlah, Daddy. Aku sendiri juga tak tahu. Pria itu di tanya atas perintah siapa, bukannya menjawab malah menusuk dirinya sendiri dengan pisau."
"Ya ampun, ini nggak bisa di biarkan mommy! aku akan memerintah anak buahku untuk selalu waspada di garmen ini, juga butikmu mommy."
"Sudahlah, Daddy. Tak usah di perpanjang lagi, yang terpenting aku baik-baik saja."
"Mommy, ini nggak bisa di anggap enteng. Bisa jadi besok ada yang berniat jahat lagi padamu, makanya kita harus lebih waspada."
"Hem, ya dech."
"Aku punya istri nggak ada takut-takutnya, padahal hampir saja dia alami celaka tetapi tak terlihat panik atau cemas. Wajahnya terlihat santai dan seolah tak pernah terjadi apa-apa," Michelson heran pada istrinya sendiri.
Begitu juga para pelanggan garmen dan karyawan serta karyawati yang sempat melihat kejadian tersebut sempat kagum pada, Rose.
"Mommy, mana Celine? dari tadi aku tak melihatnya sama sekali."
Michelson celingukan mencari keberadaan, Celine.
"Hem, dia sedang ada keperluan. Aku yang memerintahnya untuk mencarikan makanan yang sedang aku inginkan," terpaksa Rose berbohong.
"Hem, ya sudah. Aku akan kembali ke kantor, tetapi aku cemas denganmu mommy."
"Hem, baiklah. Jaga dirimu baik-baik ya, jangan sampai hal ini terulang kembali."
"Tenang saja, Daddy. Aku banyak pelindungnya kok, jadi nggak akan terjadi apa pun padaku," terus saja Rose mencoba meyakinkan suaminya.
Hingga akhirnya, Michelson berangkat kembali ke kantornya. Untuk membuat hati tenang, dia pun memerintahkan beberapa anak buahnya untuk selalu berjaga di garmen tersebut.
Sementara Rose semakin penasaran dengan orang yang telah memerintah, pria tersebut menikamnya.
"Hem, siapa kiranya yang ingin mencelakai aku? beraninya lewat belakang saja, tak berani berhadapan langsung denganku."
"Padahal masalah yang sedang aku hadapi saja belum terselesaikan, kini telah bertambah permasalahan baru."
"Hem, harus lebih berhati-hati lagi. Karena musuh berkeliaran di mana pun. Aku sama sekali tak menyangka ada yang menginginkan nyawaku."
Rose sama sekali tak gentar dengan apa yang barusan telah menimpa dirinya. Dia bahkan sudah siap berperang melawan para musuh yang bersembunyi. Walaupun saat ini dia sedang hamil, tapi sama sekali tak mempermasalahkan hal itu.
Sementara di suatu tempat, seseorang tengah marah besar karena usahanya menyingkirkan Rose tidak berhasil.
"Sialan, ternyata wanita itu tak bisa di remehkan begitu saja! aku pikir dia hanya wanita manja, wanita biasa. Ternyata pintar bela diri juga."
"Hem, sudah pasti dia akan lebih berhati-hati setelah peristiwa ini! tidak bisa di anggap remeh jika begitu!"
"Aku harus menggunakan cara lain untuk bisa menyingkirkan dirinya. Jika dengan cara kasar tak bisa, aku harus gunakan cara halus."
"Pah, memangnya kenapa ingin menyerang istri Michelson? apa papah tak khawatir jika kedok kita ketahuan?"
"Rey, kamu ini terlalu bodoh dan lambat! bertahun-tahun, papah mempercayakan semuanya padamu, tetapi mana hasil nya? sampai detik ini kamu belum juga bisa menyingkirkan, Michelson atau setidaknya menguasai separuh hartanya!"
"Rey, kamu tidak tahu kan? Istri Michelson diam-diam mencari keberadaan, Berta yakni mamahnya Michelson."
"Dan menurut anak buah papah, dia telah sanggup menemukannya bahkan menemukan tempat persembunyian, asisten pribadi almarhum Mark yakni Mike."
"Pah, aku memang belum berhasil mengambil alih perusahaan Michelson ke tanganku. Semuanya tak semudah membalikkan telapak tangan, butuh kejelian dan prosesnya juga lama. Lawan kita bukan sembarang lawan, pah. Michelson sangat cerdas, makanya aku harus bertindak dengan penuh kehati-hatian."
"Reyhan, papah sudah tak percaya lagi dengan cara kerjamu! mending papah akan bertindak sendiri saja, supaya lekas bisa tuntas masalah ini!"
"Yang utama saat ini, kita harus bisa menemukan keberadaan, Berta dan Mike. Karena jika mereka berhasil bertemu dengan Michelson, habislah kita!"
"Hem, jadi papah ingin menyingkirkan Rose karena hal ini?" tanya Reyhan memastikan.
"Iya, Rey. Jika perlu kamu bantu papah menjebak, Rose. Atau perlu kita culik, Rose. Dan kita paksa dia menunjukkan tempat persembunyian, Berta dan Mike."
"Hem, baiklah pah. Tenang saja aku pasti akan hantu papah mendapatkan informasi tentang keberadaan, Tante Berta dan asistennya."
"Ya, sudah. Kali ini papah nggak ingin kamu gagal dengan misi yang satu ini! sebisa mungkin secepat mungkin harus berhasil!"
"Hem, kebiasaan sekali papah! selalu minta yang instan!"
Reyhan orangnya terlalu santai dalam hidup, berbeda dengan Jason papahnya. Dia selalu cepat dalam bertindak.
Reyhan sengaja berteman dekat dengan Michelson supaya memperoleh apa yang dia inginkan. Akan tetapi hingga saat ini, dia belum mendapatkan yang. dia inginkan.
Sementara saat ini, Celine telah berhasil menemukan dimana keberadaan Jason.
Dia berhasil memperoleh informasi akurat tersebut dengan mengecek situs internet, dan juga mencari tahu kesana kemari tentang ke akuratan informasi yang di dapatnya dari internet.