
Sore menjelang, Michelson telah pulang.
"Daddy, bagimana harimu di kantor?"
Rose, membawakan tas kerjanya.
"Baik-baik saja, mom. Kok tumben kamu sudah ada di rumah? biasanya masih ada di butik atau di garmen."
"Lagi ingin bersantai sejenak, Daddy. Daddy, juga biasa pulang larut tapi ini sore sudah pulang?"
"Aku juga sedang ingin pulang cepat. Oh ya, mom. Bagaimana kalau besok kita healing ke pantai, mom?"
"Hem, ok dech. Sekarang mandi dulu terus kita makan bareng. Anakmu sudah nggak sabar nech pengen makan." Rose mengusap perutnya sendiri.
"Eeeaallaaaahh Daddy sampai lupa nggak menyapa anak Daddy. Hallo boy eh kira belum tahu ya, anaknya cewe atau cowo. Hallo anak Daddy, bagaimana harimu?"
Michelson mengusap perut Rose yang masih rata dan mengecupnya.
Michelson merangkul istrinya melangkah masuk ke dalam rumah.
"Mom, jangan kamu ulangi lompat dari jendela. Ingat, jika saat ini kamu sedang hamil."
"Jangan menyalahkan aku, salah siapa pintu kamar di kunci."
"Hem, iya-iya maaf."
Michelson langsung membersihkan badannya dan beberapa menit kemudian ke ruang makan bersama dengan Rose.
*********
Tak terasa pagi menjelang, kini saatnya mereka healing ke pantai.
Setelah menempuh perjalanan setengah jam akhirnya mereka pun sampai di sebuah pasir putih yang sangat luas dan indah.
Rose memandang laut dengan pandangan biasa tak ada rasa kekaguman di raut wajahnya sama sekali.
"Menurutmu pantai ini bagaimana?" tanya Michelson menatap lurus hamparan laut biru di hadapannya.
"Biasa saja." Ucap Rose pelan yang tentu saja membuat Michelson terkejut.
"Kamu mau berenang bersama denganku?" tanya Michelson mengedipkan sebelah matanya menggoda Rose.
"Aku tak bawa baju ganti, Daddy. Jadi aku tak bisa ikut denganmu berenang," ucap Rose membuat Michelson tersenyum lebar.
Melihat senyum itu, Rose menjadi curiga. Mata Rose menatap Michelson penuh curiga.
"Kenapa Daddy tersenyum seperti itu padaku?' Rose memicingkan alisnya.
"Ini untukmu."
Michelson menyerahkan bungkusan berwarna coklat pada, Rose.
Rose mengerutkan dahinya, merasa heran dengan bungkusan yang Michelson berikan padanya.
Karena terus penasaran dengan bungkusan tersebut, akhirnya Rose membukanya dan betapa terkejutnya dia pada saat melihat isi bungkusan tersebut.
"Daddy, telah menyiapkan baju berenang untukku?" tanya Rose tak percaya. Ia tak tahu kapan dan dari mana Michelson menyiapkan baju untuk dirinya.
"Pakailah..aku tunggu mommy di sana!"
Michelson menunjuk sebuah pohon kelapa yang tak jauh dari tempatnya berdiri. Setelah itu Michelson berjalan meninggalkan Rose sendirian.
"Aku merasa suamiku sudah merencanakan semua ini." Rose tersenyum tipis seraya menatap punggung Michelson yang berjalan jauh di hadapannya.
Sesaat setelah itu, Rose berjalan melangkahkan kaki menuju sebuah ruang ganti baju yang tak jauh dari pantai itu.
**********
**********
Langkah kaki jenjang milik Rose menghampiri Michelson yang saat ini tengah memandangi lautan dengan sangat serius. Bahkan karena seriusnya, Michelson sampai tak menyadari jika Rose sudah ada di sampingnya.
"Apa laut lebih indah dari pada istrimu ini, Daddy?" tanya Rose membuat Michelson mengalihkan pandangannya, sesaat Michelson terpesona dengan penampilan wanita yang ada disampingnya.
"Mommy, sangat cantik." Ucap Michelson tanpa sadar saat melihat penampilan Rose yang begitu menawan dan juga seksi akibat baju renang yang dia berikan, Rose.
"Kamu baru sadar jika aku cantik, Daddy?" Rose tersenyum mengejek pada pria di sampingnya.
Rose berjalan cepat dengan kaki telanjangnya menuju hamparan laut di hadapannya. Michelson tersenyum tipis menyusul istrinya dengan hati berbunga-bunga.
"Itu takkan terjadi, Daddy. Aku kan ahlinya berenang."
Rose sangat percaya diri.
Michelson terkekeh mendengar perkataan istrinya yang terlalu kepedean.
"Orang yang ahli berenang juga bisa tenggelam kalau tak hati-hati, mommy."
Rose sama sekali tak menjawab, dia berenang menjauh dari suaminya. Michelson tersenyum melihat itu ia ingin menyusul, Rose masuk ke dalam air laut dingin.
Tak berselang lama, Rose merasa kakinya sulit di gerakkan.
"Sial kakiku keram, apa aku akan tenggelam? beginikah akhir hidup diriku?"
Semakin lemah ia berusaha melambaikan tangannya akan tetapi ia merasa tak ada yang melihat lambaian tangannya itu.
Ia semakin tenggelam ke dasar laut yang sebenarnya tak cukup dalam. Michelson yang melihat Rose tak terlihat lagi di permukaan pun merasa khawatir. Ia mulai mencari istrinya dengan gelisah.
Michelson menyelami laut menengok kanan dan kiri, berharap akan menemukan keberadaan istrinya. Hingga akhirnya ia menemukan, Rose yang sudah tak sadarkan diri dan semakin tenggelam ke dasar laut.
Michelson segera menghampiri istrinya dan membawanya kembali ke daratan. Orang-orang yang melihat kejadian itu pun berkerumun.
"Aku mohon bertahanlah, mommy. "
Michelson sangat panik dan gelisah.
Michelson menekan-nekan dada Rose, berusaha memberikan pertolongan pertama pada istrinya itu, tetapi tak berhasil. Hatinya tak tenang ada rasa takut kehilangan dan khawatir.
"Bangunlah, mom. Apa kamu akan meninggalkan aku sendirian...? aku mohon bangunlah, aku tak mau kehilanganmu."
Michelson mengguncang tubuh, Rose.
Kini ia menyadari jika dirinya sangat mencintai, Rose dan tak mau kehilangannya. Orang-orang di tempat itu merasa kasihan pada, Michelson.
"Bangun...kamu tak boleh mati seperti ini, kamu bilang bukan wanita lemah. Maka buktikan itu padaku. Aku mohon bangunlah mommmmmy....bangun."
Teriak Michelson merasa frustasi dengan kondisi istrinya yang tak mau membuka matanya.
Hingga ia tak punya pilihan lagi, di hadapan semua orang yang ada di situ, Michelson mencium bibir, Rose.
Memberikan napas buatan dengan napas terpejam, air matapun membasahi pipinya. Ia tak tahu bagaimana jadinya jika harus kehilangan, Rose. Mungkin ia takkan sanggup jika hal itu benar-benar terjadi.
Michelson menangis, ia tak menyangka jika napas buatan yang ia berikan pada Rose tak mempan sama sekali. Rose masih menutup matanya, denyut nadinya semakin melemah.
Ia tak peduli orang lain menganggapnya cengeng. Ia hanya sangat takut jika tak bisa melihat senyum serta bentakan dari istrinya yang saat ini ia peluk. Ia juga sangat khawatir dengan kondisi janin yang ada di perut istrinya.
Di tengah-tengah tangisnya, Michelson merasakan gerakan tangan Rose yang sedari tadi dia genggam. Seketika, Michelson menghentikan tangisnya. Pria ini memandang lekat wajah istrinya.
Dan perlahan mata, Rose mulai terbuka.
Pertama kali membuka matanya, Rose langsung di suguhkan oleh wajah mendung penuh air mata milik, Michelson.
"Apa dia menangis karenaku?"
tanya Rose di dalam hati.
Wajah sedih dan murung itu membuat hatinya tersentuh. Baru kali ini seumur hidupnya ada orang yang mengkhawatirkannya sampai seperti itu.
Sejenak Rose teringat akan almarhum papahnya yang saat dulu mendidiknya sangat keras.
Ia menyuruhnya untuk membuang rasa iba, membuang rasa cinta, dan juga rasa sakit hati yang ada. Yang ada hanyalah kekejaman dan tak berperasaan.
"Mommy, kamu bangun....syukurlah-syukurlah."
Michelson memeluk erat istrinya.
Rose mengulurkan tangannya ingin mengusap bahu Michelson. Rose berusaha menenangkan, pria yang saat ini memeluknya erat agar tak menangis lagi, akan tetapi ia ragu.
Akhir ya ia pun mengurungkan niatnya itu, ia hanya bisa terdiam saat Michelson memeluknya erat.
"Aku lega, mom. Aku lega, jangan tinggalkan diriku."
Ucapan Michelson membuat Rose tersenyum bahagia.
*****