
Senyum tipis terukir di wajah, Rose. Dia tak menyangka jika Michelson akan menuruti permintaannya tanpa mengeluh sedikitpun padahal Rosw tahu, pria dihadapannya itu sangat lelah setiap hari bekerja di kantor. Walaupun di rumah pun suwninya juga tak lepas dari laptopnya.
"Lihatlah Daddy, nak. Dia rela bangun tengah malam menuruti keinginanmu." Rose mengusap perutnya dengan penuh kasih sayang.
"Mommy, sayang. Nasi gorengnya mau pake sosis atau bakso?tanya Michelson menatap penuh senyuman pada Rose.
"Pake bakso dan sosis, Daddy. Tapi sedikit saja ya, Daddy. Hem, aku suka pake kecap yang rada banyak dan jangan terlalu pedas." Request Rose pada Michelson.
Michelson kembali melanjutkan aksi memasaknya, hingga lima belas menit berlalu dan kini nasi goreng buatannya telah tersedia di hadapan, Rose. Bai harum dari masakan tersebut membuat Rose tak sabar ingin mencicipinya.
"Daddy, kok cuma buat satu piring? lantas Daddy nggak makan?" Rose heran karena hanya satu piring yang tersaji di hadapannya.
"Aku masih kenyang, mommy. Makanlah, sayang. Aku membuatnya dengan sepenuh hati, dengan penuh rasa cinta." Michelson mengusap suri hitam Rose dengan penuh kasih sayang. Kemudia duduk di hadapan Rose dengan bertopang dagu memperhatikan wanita di hadapannya itu memakan masakan buatannya.
"Hemmmm enaknya, aku baru tahu jika Daddy bisa memasak. Memangnya sejak kapan, Daddy bisa memasak?" tanya Rose menatap manis wajah suaminya.
"Dulu saat papah masih hidup, aku iseng suka bantu Bi Surti di dapur. Lalu saat aku kuliah di luar negeri aku juga sudah terbiasa masak sendiri." Ucap Michelson seraya tak berkedip menatap wajah cantik istrinya.
Rose memakan nasi goreng itu dengan sangat lahap hingga habis tak bersisa.
"Mommy, pasti Dede bayi ya yang minta di buatkan nasi goreng oleh daddy-nya?" Michelson tersenyum riang seraya mengusap lembut perut Rose yang masih rata.
"Hem, iya Daddy. Tadi sebenarnya aku ragu pada saat ingin membangunkanmu. Makanya aku tak bisa tidur." Rose terkekeh seraya meraih minumnya.
"Mommy, lain kali tak usah sungkan jika ingin apa pun katakan saja. Aku akan selalu menjadi suami siaga untukmu. Apapun keinginan Dede bayi, selagi itu aku mampu pasti akan aku kabulkan dan turuti." Michelson mengecup lembut jemari istrinya.
"Daddy, jika tiap malam aku inginkan kamu memasak untukku apa mau?" Rose memicingkan alisnya.
Dia merasa tak yakin jika suaminya akan bersedia setiap malam masak untuknya.
"Mommy begitu menyukai masakanku ya? sejak kapan seorang wanita yang gengsinya tinggi seperti dirimu kau memakan masakanku?" ejek Michelson pada Rose.
"Hem, sejak hari ini Tuan Michelson yang tampan." Rose menatap sinis pada suaminya.
"Berhentilah mengejekku, nanti kalau aku nurut sama kamu dan nggak minta apa-apa lagi kamu protes dan kangen sama omelan dan permintaanku lagi," ucap Rose yang telah selesai dengan makannya.
"Kamu itu aneh, Daddy. Jika apa-apa aku lakukan sendiri kamu merasa dirimu ini tak ada gunanya buatku karena aku tak pernah meminta apa pun padamu."
Mendengar Rose yang berkata panjang lebar, Michelson langsung khawatir.
"Iya-iya, begitu saja kok marah. Ya sudah ayok kita bobok lagi, kamu harus banyak istirahat biar kamu dan Dede bayi selalu sehat. Sudah jangan cemberut seperti itu, aku kan hanya bercanda."
Rose tak menghiraukan ucapan suaminya, dia membawa gelas dan piring akan di letakkan di wastafel dapur. Akan tetapi Michelson melarangnya.
"Sudah biar aku saja, kamu pergi ke kamar terus istirahat nanti aku menyusul." Ucap Michelson yang sudah mengambil alih gelas dan piring kotor yang ada di tangan, Rose.
Kemudian dia berlalu pergi menuju ke wastafel dapur. Rose hanya tersenyum melihat itu, ia senang Michelson begitu perhatian pada dirinya.
"Daddymu memangtak ada duanya, sayang. Mommy harap kelak Daddy selalu seperti ini pada kita. Semoga kelak kamu juga lahir sehat selamat sempurna tak kurang suatu apapun." Rose tersenyum seraya mengusap perutnya yang masih rata.
*******
Keesokan harinya, Dokter Brian telah datang ke Mension Michelson. Dia akan mengajari Mamah Berta cara merangsang kembali syaraf-syaraf ototnya yang masih tegang dan kaku karena telah lama koma dan pada saat itu hanya mendapatkan pengibay alternatif oleh Tuan Rangga.
"Sudah siapa?" tanya Dokter Brian seraya menatap ke arah Mamah Berta.
Mamah Berta hanya merespon dengan menganggukkan kepalanya, karena dia belum juga bisa berbicara.
Dokter Brian menyingkap celana yang di pakai Mamah Berta sebatas lututnya. Brian mulai menyentuh kaki itu perlahan kemudian ia menekannya. Mamah Berta hanya memperhatikan apa yang di lakukan oleh Dokter Brian padanya.
"Nyonya, apa aku sakit jika aku tekan seperti ini?" tanya Brian sedikit menekan kaki Mamah Berta lebih keras hingga wanita itu merintih lirih kesakitan.
Brian tersenyum seraya melepaskan tangannya dari kaki Mamah Berta.
"Itu artinya kaki anda masih berfungsi, Nyonya Berta. Buktinya anda masih bisa merasakan sakit di kaki anda, jadi tak perlu khawatir. Saya yakin jika, Nyonya rajin terapi kaki pasti akan lekas bisa berjalan lagi."
"Sekarang coba anda gerakan jari kaki perlahan, nyonya."
Pinta Dokter Brian pada Mamah Berta.
Wanita paruh baya itu menurut walaupun susah akan tetapi jari-jari kakinya dapat di gerakan lagi.
"Masih kamu ya, nyonya?" tanya Brian yang melihat Mamah Berta begitu kesusahan dan sangat berusaha menggerakkan kakinya.
Mamah Berta kembali merespon pertanyaan Brian dengan anggukkan kepalanya seraya sedikit tersenyum.
Brian tersenyum pula.
"Saya pijit lagi sebentar ya mungkin akan sakit tapi nanti kaki anda akan sedikit lebih nyaman lagi."
Brian mulai menggenggam telapak kaki Mamah Berta yang membuatnya tertawa karena merasa geli di telapak kakinya.
Mamah Berta meringis, Brian hanya tersenyum kemudian ia mulai memijit kaki pasien di hadapannya itu hingga membuat Mamah Berta berteriak kali ini terdengar keras karena rasa sakit. Kali ini rasa sakitnya seperti mau patah.
"Tahan, nyonya. Saya sedang meregangkan otot-ototnya agar tak terlalu kaku lagi," ucap Brian di sertai anggukan oleh Mamah Berta.
Wanita paruh baya ini meringis menahan nyeri di kakinya, meski ia ingin berteriak lagi akan tetapi ia berusaha menahannya takut jika seisi rumah terganggu dengan teriakannya.
"Sudah, nyonya. Coba anda gerakan lagi kakinya." Perintah Brian pada Mamah Berta.
Mamah Berta sempat ragu akan tetapi ia menggerakkan kakinya dan kali ini sangat lancar.
Mamah Berta tersenyum girang.
"Wah, dokter muda ini hebat sekali. Jari-jari kaki saya tak kaku lagi dan lebih mudah di gerakan," ucap Mamah Berta di dalam hatinya.