
Celine menatap Rose penuh iba, karena di tengah kehamilannya yang berusia lima bulan, Rose malah harus menghadapi berbagai permasalahan.
"Kenapa kamu menatap aku seperti itu?" tanya Rose dengan alis terangkat, sementara Celine menghela napas panjang.
"Saya hanya khawatir pada anda, nona. Karena di saat anda sedang hamil tapi ada saja permasalahan yang anda hadapi," tukas Celine.
"Kadang saya ngeri, khawatir nona terluka apa lagi anak dalam kandungan, nona."
Perkataan Celine membuat Rose tersenyum.
"Tak apa, aku ini wanita kuat dan pintar. Jika aku terpaksa harus turun tangan sendiri, aku mohon bantulah aku dari belakang ok." Perintah Rose di sertai anggukan oleh, Celine.
Sementara Rose duduk di sebuah kursi tamu di sebuah cafe, karena dia saat ini ada sebuah pertemuan dengan seseorang yang kabarnya ingin memesan banyak pakaian padanya.
Suara musik berdentum dengan keras membuat Rose tak nyaman apa lagi dengan kondisi kehamilannya sekarang. Rose memutuskan untuk bangkit berdiri dari duduknya, ia berniat untuk ke kamar mandi sebentar.
"Nona, mau kemana?" tanya Celine yang siap akan mengikuti bosnya itu, namun Rose sudah terlebih dulu mencegahnya.
"Ckckck...aku ini mau ke kamar mandi, apa kamu mau ikut?" tanya Rose membuat Celine terdiam sesaat.
Kemudian ia mengangguk tanda jika ia mau mengikuti Rose, kemanapun Rose pergi karena jujur ia khawatir dengan bosnya itu.
"Sudahlah, kamu di sini saja. Aku kan cuma ke toilet masa kamu ikut, lagi pula aku hanya sebentar saja." Rose berusaha meyakinkan Celine supaya jangan terlalu khawatir.
Celine sebenarnya ingin membantah, namun ia juga merasa tak sopan jika ia tetap bersikeras ingin mengantarkan, Rose. Akhirnya ia membiarkan bosnya itu pergi sendiri.
"Nah begitu dong, aku kan bukan anak kecil jadi jangan ikuti aku." Rose berlalu pergi dari hadapan Celine.
Sesampainya ia di kamar mandi, ia langsung membasuh mukanya. Saat ia hendak meraih handuk, yang tak jauh dari tempatnya berdiri tiba-tiba seseorang datang membekap mulutnya dengan sebuah kain hingga ia mulai kehilangan kesadaran dan akhirnya terjatuh di pelukan orang tersebut.
"Akhirnya aku menangkapmu," lirih pria itu tersenyum devil kemudian ia membopong tubuh Rose keluar dari kamar mandi yang saat ini sepi pengunjung. Ia akan membawa Rose dan memberikan hukuman setimpal untuknya guna membalas apa yang wanita itu lakukan dahulu padanya.
********
Mata lentik Rose akhirnya terbuka, mata wanita itu langsung meneliti seisi ruangan yang ada di sana, sementara tubuhnya terasa sakit mungkin karena orang yang membekap nya tadi menyeretnya dengan paksa ke tempat yang lusuh, seperti sebuah gudang yang sudah lama tak terpakai.
"Sial, dimana aku dan siapa yang membawaku kemari," batinnya bertanya-tanya.
Dia masih berusaha untuk tetap tenang, sementara tangannya yang terikat pada sebuah kursi kayu yang ia duduki pun berusaha melepaskan ikatan tali pada pergelangan tangannya namun tali itu sangat kuat, bahkan Rose yakin bekas tali tambang itu akan meninggalkan warna kemerahan.
"Akhirnya kamu sadar juga, sayangku."
Sebuah suara menghentikan pergerakan tangan Rose, wanita itu menatap orang yang baru muncul di hadapannya dengan rahang yang mengeras.
"Raymond, lepaskan aku!" teriak Rose membuat pria itu tersenyum tipis, kemudian menghampiri Rose dan mengusap pipinya yang putih dan halus dengan sangat lembut.
"Lepaskan...enak saja. Aku sudah lama menanti hari ini dan kamu mau aku melepaskanmu. Jangan harap cintaku." Raymond mengedipkan matanya.
Rose sangat muak dengan pria di hadapannya itu, kemudian ia membuang mukanya itu. Ia merasa jijik melihat wajah Raymond. Raymond yang merasa di abaikan oleh Rose pun langsung mencengkeram dagu wanita itu, dan mengarahkan wajah cantiknya agar mau menatap matanya.
Rose pun meludahi wajah di hadapannya karena tak tahan menahan rasa jijik nya pada pria itu.
"Cuih...aku tak sudi merindukan orang sepertimu!" Ucap Rose dengan ketus setelah meludahi pria di hadapannya itu.
"Haaaa...kamu masih bisa sombong juga ternyata, di saat-saat seperti ini. Apa kamu tak takut aku melenyapkanmu karena sifat sombongmu itu, ha..!" Teriak Raymond yang langsung mendapatkan tendangan dari kaki Rose yang masih bebas menggantung. Rose menendang tepat pada alat reproduksi Raymond.
Raymond seketika mengaduh kesakitan, pria itu menatap Rose dengan tangan yang mengepal erat.
"Apa anda tak apa-apa, bos?" tanya seorang anak buah Raymond.
Mata Rose langsung melotot melihat hal itu, bukan karena yang pria itu lakukan tapi karena Rose sangat mengenal pria yang telah memanggil Raymond dengan sebutan bos.
"Paman Sam, ternyata itu kamu?" ucap Rose lirih seakan tak percaya.
"Iya ini aku, Rose. Apa kamu telah melupakan aku setelah begitu lama?" Paman Sam mengejek Rose.
"Kenapa Paman tega melakukan ini padaku?" tanya Rose pada Paman Sam.
Paman Sam tersenyum kemudian ia menatap Rose dengan pandangan yang sama kecewa pula.
"Karena aku butuh uang, yang tak aku dapat darimu. Apa kamu lupa, Rose. Pada saat aku meminta tolong supaya kamu memberikanku sebuah pekerjaan tapi kamu sama sekali tak menghiraukan aku! sedangkan aku melakukan ini juga tak gratis, aku bisa mendapatkan uang dari Raymond." Tukas Paman Sam sinis.
Rose tersenyum miris kemudian dia menatap Paman Sam dengan pandangan meremehkan. Memang dari dulu Paman Sam itu selalu menjadi musuhnya, dia baik jika untuk uang. Paman Sam terkenal sekali dengan sifatnya yang materialistis.
"Kamu memang rendahan, Paman. Hanya demi uang kamu merendahkan harga dirimu di hadapan Raymond. Padahal umurmu lebih tua darinya, tapi kamu mau saja di perintah olehnya. Sama saja kamu ini pembantu atau kacungnya, Raymond. Hah, sungguh memprihatinkan. Apa tidak ada pekerjaan yang lebih baik dari ini, Paman?" Rose mengejek Paman Sam.
"Aku sangat menyesal, karena dulu aku pernah menganggapmu sebagai saudara, Paman." Cibir Rose tersenyum sinis.
Mendengar hal itu, Paman Sam akan menampar pipi Rose, namun Raymond melarangnya.
"Tunggu dulu, jangan terburu-buru. Tujuan kita datang kemari bukan untuk menyakitinya, Paman." Nasehat Raymond, hingga Paman Sam mengurungkan niatnya.
"Apa tujuan kalian, tak usah basa-basi!" teriak Rose pada dua pria di hadapannya itu.
"Kamu yakin ingin tahu apa tujuanku kemari, Permaisuriku tercinta Rose?" tanya Raymond dengan senyum devilnya.
Rose terdiam sesaat perasaannya mulai tak enak saat Raymond mengusap perutnya dengan perlahan.
"Anak dalam kandungan mu inilah tujuanku," bisik Raymond di telinga Rose.
Tubuh Rose menegang, kelemahan terbesar seorang wanita adalah pada anaknya dan Raymond sepertinya tahu akan hal itu. Jadi ia ingin memanfaatkan hal ini untuk menjerat Rose dalam cengkeramannya.
********
Bagaimanakah nasib Rose dan janin yang ada di kandungannya? dan apakah Celine dapat menemukan keberadaan, Rose?