
Pagi menjelang, Mamah Berta mulai curiga karena tak mendapati anaknya dari kemarin siang. Dia pun memberanikan diri bertanya kepada, Rose.
"Rose, dari kemarin siang mamah kok nggak melihat keberadaan Michaelson memangnya dia ke mana ya?" tanya Mama Berta menyelidik.
"Aduh, apa yang aku khawatirkan terjadi juga. Pasti mamah akan bertanya tentang hal ini. Apakah sebaiknya aku katakan saja jika saat ini Michaelson sedang dirawat di rumah sakit? apakah aku berbohong saja padanya?" batin Rose mulai gelisah.
"Rose, kenapa kamu tak menjawab apa yang mamah tanyakan?" tegur mamah Berta pada saat melihat Rose hanya diam saja termenung tak berkata apapun .
"Mah, sebelumnya aku minta maaf ya dari kemarin aku tidak mengatakan hal ini pada mamah. Aku tidak bermaksud apa-apa hanya tak ingin mamah menjadi khawatir dan gelisah," sebenarnya Rose ragu ingin mengatakan tentang kondisi Michaelson, tetapi dia juga tak ingin berbohong pada mamah mertuanya itu.
"Sebenarnya apa yang telah terjadi pada Michelson, Rose?" wajah Mamah Berta mulai terlihat panik dan gelisah.
"Sebenarnya kemarin siang, Michelson mengalami kecelakaan tunggal dan saat ini sedang dirawat di sebuah rumah sakit karena kondisinya lumayan serius," jawab Rose dengan rasa gelisahnya khawatir akan terjadi hal yang tadi inginkan pada Mamah mertuanya.
"Ya ampun, Rose. Kenapa kamu menutupi semua ini dari mamah? seharusnya kamu ceritakan saja kejadian itu kemarin pada mamah supaya kamu tidak terbebani sendiri oleh permasalahan ini." Mamah Berta merasa iba pada menantunya yang benar-benar bersikap tegar tidak cengeng sama sekali hingga dia menutupi permasalahan yang begitu serius dari dirinya.
"Sekali lagi aku minta maaf ya, mah. Bukan berarti aku ingin menyembunyikan semua ini dari mamah, hanya aku tak ingin kesehatan Mamah terganggu memikirkan atau mengkhawatirkan kondisi Michaelson saat ini," Rose merasa tak enak pada Mamah mertuanya.
"Sudahlah, Rose. Kamu tak perlu merasa bersalah seperti itu, justru Mamah merasa bangga mempunyai menantu sebaik dirimu dan sepemberani dirimu. Kamu begitu tegar dan mampu menghadapi semua ini hanya seorang diri. Mamah yakin Michelson tidak akan apa-apa, dia itu pasti kuat karena ada anak yang ada di kandunganmu," ucap Mamah Berta.
"Terima kasih ya, mah. Aku menjadi lega, aku sempat berpikir jika aku memberitahukan tentang musibah yang dialami oleh Michelson akan membuat kesehatan mamah buruk, makanya aku menyembunyikan kejadian ini dari mamah." Rose memeluk Mamah mertuanya sementara Mamah mertuanya mengusap lembut punggung, Rose.
Dia sama sekali tak menyalahkan Rose akan apa yang telah menimpa pada, Michelson. Dan tak menyalahkan pula kenapa Rose sempat menyembunyikan hal itu darinya.
******
Pagi menjelang, Andi mulai menyelidiki tentang gerombolan elang hitam. Dia mencari tahu keberadaan markasnya di gunung sebelah mana. Dengan berpura-pura dirinya akan menjadi salah satu anggota persekutuan tersebut.
Andi menyamar dengan menggunakan kumis serta menggunakan rambut palsu supaya tidak diketahui bahwa dia adalah salah satu anak buah dari Rose, oleh ketua perkumpulan elang hitam.
"Maaf bos, ada seseorang datang kemari katanya dia ingin menjadi salah satu anak buah bos di sini," salah satu anak buah elang hitam melapor pada atasannya.
"Nawa saja orang itu kemari, aku ingin tahu seperti apa dirinya," ucap ketua elang hitam tersebut.
Salah satu anak buah elang hitam keluar untuk memanggil Andi dan dia pun mengikuti langkah anak buah tersebut menghadap ketuanya.
"Siapa namamu apa maksud dan tujuanmu ingin sekali bergabung dengan perkumpulan elang hitam? dan dari mana kamu bisa mengetahui akan keberadaan perkumpulan kami ini?" tanya ketua dari perkumpulan elang hitam tersebut.
"Maaf ketua, Saya pernah beberapa kali mendengar betapa hebatnya perkumpulan elang hitam ini. Dan saya ingin bernaung menjadi salah satu anak buah ketua karena saya ingin membalas dendam pada seseorang. Tetapi saya terlalu bodoh untuk mengatur strategi tentang balas dendam."
Ucap Andi dengan mencoba untuk tidak gugup di hadapan ketua perkumpulan elang hitam tersebut.
"Oh iya, perkenalkan nama saya Aan tinggal di dusun sebelah. Saya punya dendam dengan seseorang tetapi saya tak bisa membalasnya," ucso Andi kembali.
"Hem, jadi tujuanmu itu pembalasan dendam? tahu saja jika di perkumpulan kami ini hampir semua anak buahnya pernah alami kekecewaan pada seseorang. Dan semua anak buah di sini juga pendendam," ucap Ketua itu.
"Apa kamu berani membunuh orang, apa kamu ini bisa bersikap sadis pada musuh? karena ada beberapa yang mengatakan dendam tapi ketika musuh sudah tak berdaya justru dia memaafkan begitu saja," ucap ketua tersebut.
Andi pintar sekali dalam mengambil hati ketua tersebut, dan dia juga sudah terlebih dulu mempelajari apa saja yang bersangkutan dengan perkumpulan elang hitam tersebut.
Kini hanya dengan beberapa jam saja, Andi telah tahu berapa jumlah Anggita dari perkumpulan elang hitam tersebut.
"Hem, ternyata mereka hanya tinggal beberapa orang saja. Kebanyakan Dwi mereka keluar dari perkumpulan elang hitam. Aku akan hubungi, Bos Rose."
Tanpa sepengetahuan ketua perkumpulan elang hitam tersebut, Andi mengirim chat pesan pada Rose. Dia mengatakan jumlah anggota, dan apa saja aktifitas mereka dari pagi hingga malam.
"Sayangnya, aku belum bisa melihat bagaimana rupa ketus ini karena dia selalu saja memakai topeng. Padahal aku sangat penasaran dengan rupa di seperti apa?" batin Andi.
Andi sedang mencari cara untuk bisa melihat secara langsung wajah si ketua perkumpulan elang hitam tersebut. Hingga di suatu malam, dia baru bisa melihat wajah aslinya pada saat dia tak sengaja melintas di ruangan khusus dia yang terbuka lebar.
Hal ini tidak di sia-siakan oleh, Andi. Dia pun mengabadikan lewat foto kamera di ponselnya. Dan tak lupa mengirimkan foto tersebut pada, Rose.
[Bos, foto yang saya kirim adalah foto ketua dari perkumpulan elang hitam ini.]
Drt drt drt
Satu notifikasi chat pesan langsung masuk ke dalam nomor ponsel, Rose.
Sejenak Rose memandang foto tersebut dan dia pun membola.
"Hah, Boby? adik dari Raymond? aku yakin dia yang tsh melakukan kejahatan terhadap Michelson. Aku yakin dia dendam padaku karena telah memenjarakan Kakaknya," batin Rose.
"Kita lihat saja, Boby. Sejauh mana kamu bisa bersembunyi dariku setelah apa yang kamu lakukan pada suamiku!" Rose mengepalkan tinjunya dan menggertakan giginya.
Dia pun mulai memikirkan siasat untuk bisa melumpuhkan, Boby.
"Bagaimana bisa, Boby menjadi ketua perkumpulan ini padahal perkumpulan ini juga sudah berdiri sejak lama," batin Rose di penuhi rasa tanya.