Wonder woman

Wonder woman
Kenyataan Yang Menyakitkan



Hari sudah pagi, dan Rose tengah sibuk berkaca diri pada sebuah kaca besar di hadapannya. Michelson yang melihat itupun menjadi berdecak kesal. Selalu seperti itu saat mereka akan pergi. Sesusai dengan rencana, mereka akan pergi ke villa.


"Masih berapa lama lagi sih dandannya?"


Mendengar nada kesal pria di belakangnya membuat Rose menghentikan aktifitasnya. Wanita itu menatap tajam suaminya. Michelson merasa kikuk mendapatkan tatapan membunuh dari istrinya. Dan hanya bisa nyengir kuda, karena takut Rose akan marah padanya.


"Dari pada kamu di situ, lebih baik cepetan mandi karena sebentar lagi aku selesai." Rose acuh dan kembali lagi dengan alat make-up nya.


"Iya-iya aku mandi, jangan marah ya. Aku kan hanya bercanda saja."


Michelson mencium pucuk rambut istrinya.


"Siapa yang perduli."


Rose memanyunkan bibirnya.


Sementara Michelson melangkah ke kamar mandi sesuai permintaan istrinya. Dengan kekesalannya, dia membanting pintu kamar mandi.


"Begitu saja marah, dasar bayi besar!" ucapnya seraya melirik ke arah pintu kamar mandi yang sudah tertutup rapat. Setelah memastikan jika Michelson takkan keluar dari kamar mandi, Rose segera meraih ponselnya untuk menelpon, Celine.


"Hallo, Celine. "


Ucapnya ketika telpon tersebut tersambung ke Celine.


"Hallo Nona, ada apa?"


"Bawa saksi mata kita ke villa itu, aku akan mengungkapkan semua kebenarannya pada suamiku," ucap Rose dingin.


"Apa nona yakin akan membawa Tuan Michelson ke sana. Ini akan sangat menyakitkan jika dia tahu, Nona." Ucap Celine yang merasa iba pada Michelson.


"Cepat atau lambat dia harus tahu, bagaimanapun ini menyangkut, almarhum papahnya."


Rose juga sebenarnya tak tega, tapi jika di biarkan Jason akan merasa menang dan dia tak kan jera untuk melakukan kejahatannya lagi.


"Baiklah kalau begitu saya akan membawa saksi itu ke tempat yang nona perintahkan." Ucap Celine setelah itu mematikan telponnya.


Rose meletakkan telpon yang di genggamnya ke atas nakas kemudian ia kembali menyapukan lipstik di bibirnya untuk memberi aksen terakhir pada wajahnya.


"Masih belum selesai ya?" tanya Michelson yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan pakaian barunya.


"Sudah, ayok kita berangkat."


Rose berdiri dari tempat duduknya.


"Buru-buru sekali, aku saja belum menyisir rambutku, mom. Dan juga belum memakai jam tanganku," Tukas Michelson menuju almari bajunya dan mengambil salah satu koleksi jam tangannya.


"Ckckck...tadi kamu menyuruhku untuk cepat-cepat sekarang malah kamu yang lambat.


Rose mulai sewot lagi, sementara Michelson hanya tersenyum saja.


"Apakah seperti ini ya wanita hamil terlalu sensitif dan mudah sekali marah," goda Michelson terkekeh seraya mengusap perut Rose perlahan.


"Ayo berangkat, mommy sayang. Sudah dong jangan cemberut terus, nanti cantiknya hilang loh?"


Michelson menuntun istrinya keluar dari kamar, mereka berjalan beriringan menuruni anak tangga rumah itu satu per satu.


Mereka langsung masuk mobil yang sudah terparkir di halaman rumah. Roy langsung melajukan mobil tersebut tanpa ada sepatah kata pun.


Setelah menempuh perjalanan dua jam, akhirnya suami istri ini telah sampai di villa keluarga Michelson. Villa yang dulu suka sekali di singgahi pada waktu almarhum papahnya masih hidup.


Michelson sebenarnya sangat enggan untuk keluar dari mobilnya dan apa lagi untuk masuk ke dalam villa tersebut. Banyak sekali kenangan yang tertinggal di vill tersebut.


Akan tetapi, Michelson menghentikan langkahnya pada saat melihat ada sebuah mobil terparkir.


"Mommy, itu mobil siapa?"


Rose hanya melirik ke arah mobil tersebut dan dia menarik tangan suaminya untuk masuk ke dalam Villa. Rose sudah tahu jika mobil tersebut adalah mobil yang di gunakan oleh Celine.


Mobil yang belum sempat di ganti palt nomornya. Yang kerap kali di gunakan untuk menemui Reyhan.


Setelah mereka sampai di ruang tamu, Michelson terbelalak matanya dan mulutnya terperangah melihat seseorang yang dia kenal dan telah lama menghilang.


"Bi Surti? bukannya bibi sudah meninggal?"


"Den Michelson, saya masih hidup. Tapi selama ini saya bersembunyi karena saya takut sekali."


Bi Surti adalah wanita yang mengasuhnya pada waktu Michelson masih kecil, wajahnya tak pernah berubah hingga Michelson masih mengenalinya.


"Bibi sangat merindukanmu, nak."


"Aku juga sangat merindukanmu bibi, tapi selama ini bibi kemana? aku dengar dari, Om Jason jika bibi telah meninggal dunia."


Sejenak keduanya saling berpelukan.


"Nak, bibi ingin menceritakan rahasia yang selama ini tak kamu ketahui. Sebenarnya papahmu dulu meninggal bukan karena sakit keras. Tetapi dia di racun oleh, Tuan Jason."


"Beberapa kali, bibi sempat membuang racun itu pada saat akan di minumkan ke Tuan Besar Mark. Akan tetapi pada saat terakhir, bibi lengah hingga papahmu benar-benar meminum racun tersebut."


"Bibi sampai sekarang masih menyimpan bukti-bukti racun itu. Digudang belakang, Den."


"Satu hal lagi, Tuan Jason juga bekerja sama dengan seorang dokter yang waktu itu memeriksa Tuan Besar dengan mengelabui Aden jika papah Aden sakit keras."


"Tapi setelah papah Aden meninggal, Tuan Jason juga menyabotase rem mobil milik dokter tersebut. Sehingga terjadi kecelakaan tunggal yang menewaskan dokter tersebut.'


"Semua bukti ada di gudang belakang, Den. Selama ini bibi kabur dan bersembunyi dan meminta pada keluarga bibi supaya mengatakan jika bibi ini telah meninggal."


"Karena bibi tahu semua kejahatan, Tuan Jason. Dan ini bibi juga sempat merekam di ponsel bibi, pada saat Tuan Jason menaruh racun ke gelas minuman papah Aden."


"Maaf ya den, pada saat terakhir bibi melihat Tuan Jason menaruh racun. Bibi malah belum sempat mengganti minuman tersebut, waktu itu bibi di panggil oleh Den Reyhan."


"Bi, jadi apa yang Paman Mike katakan jika Om Jason yang telah membunuh papah adsh benar?"


"Iya, den. Bahkan bibi juga tahu pada saat Paman Mike dan Nyonya Berta di sekap di gudang bawah tanah bertahun-tahun lamanya. Bibi ingin mengatakan pada, Aden. Tapi bibi selalu di ancam jika keluarga bibi yang akan di bunuh semua oleh, Tuan Jason. Bibi sangat takut, den. Sekali lagi bibi minta maaf."


"Aku pikir, Paman Mike hanya salah dengar saja karena tak ada bukti yang kuat untuk menuduh, Om Jason."


"Daddy, semua ini dilakukan karena Jason dan anaknya ingin mengambil alih perusahaanmu. Makanya dia perlahan menyingkirkan orang-orang yang kamu sayangi. Saat ini, mamah yang sedang dia incar. Makanya aku sembunyikan mamah."


"Aku akan bunuh Jason dan Reyhan saat ini juga!" Michelson menggertakkan giginya, tangannya mengepal erat. Pria itu ingin beranjak dari sana untuk menghabisi Jason dan Reyhan akan tetapi Rose mencegahnya dengan meraih tangannya perlahan.


"Daddy, jangan kamu lakukan itu, jangan kotori tanganmu yang masih bersih dengan membunuh mereka. Aku mohon kamu jangan gunakan tanganmu untuk menghabisi dirinya. Bukan karena aku membela mereka, tetapi aku tak mau kamu menyesal di kemudian hari. Apa lagi ada anakmu ini. Jika kamu melakukan hal itu dan masuk penjara, lantas bagaimana dengan masa depan anak kita nantinya."


*********


Apakah yang akan di lakukan oleh Michelson, apakah dia mendengar nasehat Rose atau dia tetap akan menghabisi Reyhan dan Jason?


Hari Senin, author ngemis vote.


Bagi vote dan bunganya donk readers supaya author semangat up😘😘😘