
Celine sangat puas karena bisa merekam semua bukti kejahatan ayah dan anak tersebut lewat mulut anaknya sendiri.
Setelah pertemuan cukup lama dengan, Reyhan. Celine berpamitan pulang dengan alasan ada urusan mendadak. Padahal dia ingin segera melaporkan rekaman tersebut pada, Rose.
"Sayang, aku masih kangen denganmu tetapi kamu sudah akan pergi lagi." Rajuk Reyhan memeluk pinggang Celine.
"Sabar ya cintaku, karena ini juga urusan yang menyangkut kita berdua. Aku harus segera ke bandara untuk menjemput orang tuaku pulang dari LA."
"Apa boleh aku ikut?" bujuk Reyhan.
"Jangan dulu, sayang. Nanti sama saja aku nggak jadi bikin surprise untuk orang tuaku dong. Aku kan berniat dirimu ini akan buat surprise bagi orang tuaku yang sudah lama ingin punya menantu."
"Wah, so sweet. Aku merasa terhormat sekali, terima kasih ya sayang. Kamu yang hati-hati ya."
Saat itu juga Celine mengemudikaj mobilnya, akan tetapi di suatu tempat yang sepi dua merubah dulu penampilannya dan juga merubah plat nomor mobilnya.
Setelah itu dia pun melanjutkan lagi perjalanannya ke Mension Michelson untuk menemui Rose. Hanya beberapa menit saja, Celine telah sampai di depan pintu gerbang Mension Michelson.
Ternyata Rose telah menunggunya. Rose sudah berada di depan pintu gerbang.
"Nona, apakah kita masuk atau di sini saja?"
"Di sini saja dulu, aku ingin mendengar rekaman itu sekarang juga."
Saat itu juga, Celine memutar rekamannya di hadapan Rose. Rose sengaja mengenakan headset supaya hanya dia yang mendengar rekaman itu, supaya tidak terdengar hingga ke dalam Mension.
"Jadi Jason meracuni Mark pada saat mereka ada di villa keluarga Michelson. Hem hebat sekali, ternyata bukti bekas racun serta alat sabotase mobil sang dokter ada di villa keluarga Michelson." batin Rose.
"Celine, terima ya. Kamu hebat, mampu mendapatkan bukti lagi untuk memperkuat hukuman mereka berdua."
"Sama-sama, nona. Saya juga mencontoh anda, menggunakan otak bukan otot." Tukasnya bangga.
Rose menyimpan rekaman tersebut dan akan dia tunjukkan pada Michelson pada saat di villa nanti.
Saat itu juga, Rose menemui Michelson.
"Daddy, aku ingin sekali berkunjung ke villa keluargamu bersama denganmu. Aku ingin kamu mengajak aku ke sana."
Ucap Rose sudah memutuskan untuk mengajak Michelson ke tempat pembunuhan itu dan mengatakan semua kebenarannya di sana.
"Sebenarnya aku tak ingin datang kesana karena tempat itu begitu menyakitkan bagiku. Tapi jika kamu ingin kesana baiklah. Aku akan membawamu kesana besok. Kebetulan besok aku libur."
Ucap Michelson dengan senyum yang di paksakan.
Melihat itu sebenarnya Rose tak tega untuk tetap memaksa Michelson datang ke tempat kenangan terakhir dirinya bersama papahnya.
Namun Rose tak punya pilihan karena ingin membongkar kebusukan Jason bahwa dialah yang membunuh Mark secara perlahan-lahan dengan meracuninya.
"Tapi kok aku penasaran kenapa kamu ingin sekali datang kesana?" tanya Michelson menatap Rose penuh curiga.
"Karena ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan padamu."
Michelson hanya terdiam, pria tersebut menatap Rose dengan dahi berkerut kemudian kerutan itu menghilang berubah menjadi sebuah senyuman yang sangat manis.
"Apa benar ini kejutan untukku, oh aku tak menyangka istriku yang galak dan suka menggoda ini mempunyai kejutan untuk suaminya ini." Michelson mengedipkan matanya.
Rose keras kasihan pada suaminya. Tak bisa membayangkan jika suaminya tahu yang sebenarnya tentang kematian papahnya bagaimana hatinya.
Apa lagi papahnya meninggal karena ulah sahabat baik papahnya yakni Jason. Selama ini Michelson hanya tahu papahnya meninggal karena sakit keras.
"Kenapa kamu tak marah atau memukulku? biasanya kamu selalu melakukan hal itu saat aku mengejekmu?" tanya Michelson begitu penasaran dengan sikap Rose yang terlihat berbeda dari biasanya.
"Memangnya Daddy mau ya di pukul olehku?" tanya Rose masih tak melepaskan tangannya dari wajah Michelson.
"Boleh saja jika itu membuatmu senang," ucap Michelson rela menerima hal itu jika memang istrinya itu bahagia melakukannya.
"Daddy, aku sedang tak ingin melakukan hal itu."
Mata Rose masih menatap mata Michelson dengan sangat lembut, sementara senyum tipis masih tersungging di bibirnya yang indah.
"Sepertinya hatimu sedang dalam kondisi baik. Buktinya kamu tak marah dan malah bersikap manja seperti ini."
"Bukannya Daddy sering mengatakan jika sifatmu ini layaknya binatang bunglon yang setiap saat berubah-ubah?" goda Rose terkekeh.
"Aku sedang bahagia, Daddy. Karena sebentar lagi semuanya akan kembali indah seperti dulu. Orang yang jahat akan mendapatkan balasan atas perbuatannya. Sedangkan orang yang selama ini menderita akan mendapatkan kebahagiaannya." Ucap Rose.
Perkataan Rose tersebut terdengar aneh di telinga Michelson. Dia menatap curiga dan heran pada, Rose. Dia merasa ada hal yang di sembunyikan oleh istrinya akan tetapi dia tak tahu apa.
"Mommy, kamu ini ngomong apa sih? aku sama sekali tak paham dengan arah pembicaraanmu ini, siapa yang kamu maksud orang jahat dan siapa orang yang menderita?"
Michelson semakin penasaran dengan yang di katakan oleh, Rose.
"Sudahlah lupakan apa yang barusan aku katakan. Sebaiknya aku mandi saja karena aku sangat gerah,"
Rose benar-benar geram karena Michelson tidak juga bisa menangkap atau mengerti arah pembicaraan dirinya.
Rose melangkah ke kamar mandi untuk melakukan ritual mandinya.
"Bagaimana dia tak sadar jika dia ini menderita, terutama mamahnya. Apa dia telah melupakan pengakuan dari, Paman Mike tentang kejahatan Jason dan Reyhan?"
Rose terus saja menggerutu di dalam hatinya, seraya mengguyur kepalanya dengan air shower.
"Aku ingin mengajakmu makan malam, mommy. Apakah kamu tak ada acara malam ini?" tanya Michelson dari balik pintu kamar mandi.
"Tidak, Daddy. Aku tak memiliki acara malam ini, mati kita habiskan malam ini bersama. Sudah lama kita tak keluar bersama jalan-jalan malam," jawab Rose dari dalam kamar mandi.
"Jelas saja, karena kamu suka sekali menghilang dengan lompat dari jendela," batin Michelson senyam senyum sendiri.
"Baiklah kalau begitu, aku akan mengecek berkas-berkas kantor sebentar ya. Sembari menunggumu selesai mandi," tukas Michelson dari balik pintu kamar mandi.
"Baiklah, Daddy."
Michelson berjalan menuju ke meja dan meraih laptopnya untuk mengecek segala berkas dan email yang masuk.
"Kadang dia manis, tapi kadang dia sangat mengesalkan. Sifatnya suka berubah apa karena pengaruh kehamilannya itu," gumam Michelson di sela membuka laptopnya.
Setelah menyelesaikan mandi dan segala keperluannya. Rose sudah siap mengenakan gaun berwarna biru panjang yang nampak sangat cantik dan menggoda karena belahan gaun tersebut sangat rendah.
Michelson yang sedari tadi melihat penampilan Rose beberapa kali menelan salivanya. Michelson bagaikan terhipnotis dan tersihir oleh penampilan anggun, Rose.