Wonder woman

Wonder woman
Pemakaman Jason & Reyhan



Berjalannya waktu cepat sekali, kini usia kandungan Rose sudah memasuki umur empat bulan. Kondisi Maah Berta juga semakin hari sudah semakin membaik. Kini beliau sudah bisa berjalan seperti sediakala.


Sementara ada berita mengejutkan dari kantor polisi. Yakni Reyhan bunuh diri dengan mengiris nadinya. Dan Jason gantung diri. Keduanya mati mengenaskan di dalam penjara.


"Mommy, barusan komisaris polisi menelpon aku jika Jason dan Reyhan mati karena bunuh diri."


Rose tak merasa terkejut, karena memang dia sengaja memerintah beberapa anak buahnya untuk terus memojokkan keduanya selama di dalam lapas. Hingga dia pasang wajah biasa saja.


"Wah, berarti nyali mereka kecil ya. Susah biasa hidup mewah sementara di dalam penjara makan pun di jatah sedikit," tukas Rose.


"Hem, entahlah mommy. Aku juga sempat kaget mendengar kabar berita tersebut. Cukuplah untuk balasan setimpal buat mereka yang telah jahat pada keluargaku." Michelson juga tidak ada rasa sedih sedikit pun mendengar kabar kematian Jason dan Reyhan.


Mereka lekas di kebumikan, bahkan Michelson dan Rose datang di acara pemakaman tersebut.


"Bertahun-tahun kalian berdua telah membodohi suamiku. Dan bahkan dengan keji membunuh papsh mertuaku. Serta akan melenyapkan mamah mertuaku juga. Ini hukuman yang artinya untuk kalian berdua, yakni kematian," batin Rose saat berada di pemakaman.


"Michelson, kenapa hal ini bisa terjadi pada Paman Jason dan Ka Reyhan?" tanya seseorang yabg ternyata masih saudara dari almarhum.


"Tedy, apa kamu belum tahu kejahatan yang selama ini telah di lakukan oleh Paman dan kakak sepupumu? mereka yang telah membunuh papahku dan nyaris membunuh mamahku." Jawab Michelson ketus.


"Michelson, aku tak percaya dengan apa yang kamu katakan. Aku yakin ini semua karena akal-akalanmu saja. Mereka di penjara karena fitnahan darimu. Kamu pikir aku tak tahu apa yang telah kamu lakukan pada mereka?"


"Aku sempat menjenguk mereka saat di dalam penjara. Dan mereka menceritakan semuanya padaku. Begini caramu membalas budi baik Paman Jason dan Ka Reyhan yang telah berjasa membuat perusahaanmu menjadi berkembang?"


"Aku tak menyangka seorang Michelson, pembisnis tenar. Tega melakukan hal keji seperti ini. Kamu telah melupakan segala kebaikan ayah dan anak. Bahkan mereka tewas bunuh diri di dalam lapas, ini semua karena salahmu juga!"


Mendengar umpatan yang terlontar dari bibir Tedy, Michelson sangat geram. Giginya gemertak dan tangannya mengepalkan tinjunya. Akan tetapi Rose segera meredam amarah suaminya.


"Daddy, kamu jangan terpancing amarahnya. Biarkan saja dia berkata yang macam-macam, mungkin ini semua karena hasutan dari Jason dan Reyhan sebelum mereka meregangkan nyawanya." Rose menggenggam tangan Michelson yang sedari tadi mengepalkan tinjunya.


"Heh, kamu. Jika kamu hanya tahu dari sepihak saja tak usah kamu bercuap-cuap seperti ini. Kamu pikir aparat polisi memberi hukuman seseorang tanpa ada suatu bukti yang kuat? kamu pikir aparat kepolisian hanya seenaknya saja menjatuhkan hukuman."


"Jika kamu berkata seperti tadi di hadapan mereka, pasti kamu akan di tahan pula! jika tak tahu sepenuhnya tentang almarhum janganlah asal berkata. Selidiki dulu perkataan almarhum benar atau tidaknya!"


"Selama ini kamu juga tinggal di luar negeri kan? jadi kamu tak tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi di sini. Kamu langsung saja percaya dengan cerita dari satu pihak saja."


Mendengar apa yang Rose katakan, bukannya Tedy menjadi sadar dan meminta maaf pada, Michelson. Tetapi dia malah semakin menjadi.


"Heh, kamu nggak usah turut campur ya..Ini urusanku dengan Michelson. Jadi kamu tak perlu banyak bicara, cukup jati pendengar saja!" Tedy menatap tajam. ke arah Rose.


Rose tidak menjadi gentar, dia pun balik menatap tajam Tedy bahkan tanpa berkedip sama sekali. Michelson yang melihat perseteruan ini pun lekas menarik tangan Rose dan mengajaknya pergi dari makam tersebut.


Michelson merangkul istrinya dan membawanya melangkah pergi.


Sementara Tedy menatap benci ke osda sepasang suami istri ini.


"Kalian pikir setelah apa yang kalian lakukan pada Paman Jason dan Ka Reyhan. Kalian bisa tidur dengan nyenyak?"


"Aku pastikan setiap harinya kalian akan ketakutan dengan teror yang akan aku lancarkan mulai nanti malam. Dan kalian akan mati mengenaskan seperti Paman dan Ka Reyhan. Nyawa di bayar dengan nyawa, barulah adil." Batinnya seraya menatap kepergian suami istri tersebut.


Rose sempat berpikir di dalam hati, jika Tedy ini tidak bisa di anggap enteng. Dia bisa melakukan kejahatan pada Michelson karena telah mendapatkan hasutan dari Almarhum Jason dan Reyhan.


"Daddy, aku pikir almarhum tidak punya kerabat sama sekali. Aku baru tahu jika dia masih punya kerabat." Tukas Rose di sela melangkah ke mobilnya.


"Aku lupa tak cerita padamu, jika ada beberapa kerabat dekat almarhum yakni salah satunya Tedy."


"Daddy, kamu harus selalu mawas diri karena di depan atau di belakang kita masih banyak musuh yang tak terlihat. Hingga saat ini aku juga masih penasaran dengan orang yang membakar garmenku."


"Iya, mommy. Kamu tenang saja, selama kita selalu bersama pasti kita akan sanggup melawan musuh walaupun mereka banyak." Tukas Michelson menaik turunkan alisnya.


"Hem, mulai lagi acara ngegombalnya. Nanti aku kasih makan garam beneran biar ngomongnya nggak manis terus." Tukas Rose melirik sinis.


"I love u mommyku sayang." Tiba-tiba Michelson menghentikan langkahnya dan secepat kilat meraih bibir Rose dan mengecupnya.


Rose hanya diam, dia hanya tersenyum. Sementara hal ini sempat di lihat oleh Roy. Dia merasa canggung karena kerap kali melihat kemesraan keduanya.


"Hem, mereka selalu berhasil membuatku iri. Kapankah kiranya aku menemukan wanita pujaan hatiku agar tak selalu kesepian seperti ini?" batin Roy di depan kemudinya.


"Hem, Roy. Kamu pasti iri ya padaku? makanya cepatlah kamu menikah supaya bisa merasakan indahnya punya istri," ledek Michelson terkekeh.


"Hust, jangan seperti itu Daddy. Kasihan juga kan, Roy," bisik Rose seraya menyikut lengan Michelson.


"Tenang, nona. Saya sudah terbiasa kok menghadapi ejekan dari, Tuan Michelson. Sekarang saja dia bisa bercanda dan tak kaku. Dulu sebelum kenal Anda, Tuan begitu dingin, arogant dan menyeramkan sekali," tukas Roy seraya melirik dari kaca spion.


"Heh, berani kamu ya ngatain bosmu! mau aku pecat, hah?" tiba-tiba Michelson menepuk kepala Roy dari arah belakang jok kemudi yang sedang di dudukinya.


"Auh, sakit Tuan. Main teplak saja, ini kepala bukan kelapa, Tuan." Roy mengusap kepala belakang yang kena tepuk Michelson.


"Makanya jangan buka kartu di depan istriku," omelnya lagi.


Rose yang melihat hal itu terkekeh pelan seraya menggelengkan kepalanya.