
Jason sangat marah melihat, Rose.
"Hentikan penyelidikanmu atau aku akan membunuhmu!" ancam Jason.
Hal ini malah membuat Rose terkekeh, Rose maju dan menghampiri Jason dan mengikis jarak antara dirinya dan pria itu, sedangkan para anak buahnya sudah menodongkan pistol ke arahnya secara bersamaan.
"Aku tak akan berhenti, memangnya siapa dirimu menyuruhku berhenti!" Rose menatap orang di hadapannya itu dengan pandangan tajam.
"Jika kamu tak berhenti maka aku akan membunuh ibu dan adikmu. Apa lagi saat ini adikmu sedang dekat dengan anakku!"
Rose semakin bertambah terkekeh mendengar ancaman dari Jason.
"Silahkan saja kamu habisi mereka, karena mereka hanyalah ibu tiri dan adik tiriku, jadi aku takkan merasa kehilangan jika terjadi apa-apa pada mereka."
Jason semakin geram pada, Rose karena ancamannya dari tadi tak pernah berhasil.
"Kalau begitu jangan salahkan aku jika kamu mati sekarang!" ancamnya lagi.
"Hhhhaaaaaaa...kamu ingin membunuhku? mimpi saja. Sebelum kamu melakukan hal itu maka kita akan mati bersama-sama di sini, Tuan Jason." Ucap Rose dengan senyum yang tak pernah luntur dari wajahnya.
"Apa maksudmu?" tanya Jason dengan dahi berkerut.
Rose mengeluarkan sebuah remote kecil dalam sakunya, kemudian dia menunjukkannya pada, Jason.
"Kamu tahu kan ini apa?" Rose berhasil membuat muka Jason langsung pucat pasi.
Pria itu tertegun melihat alat yang dapat meluluh lantakkan tempat ini dalam waktu sekejap.
"Bagaimana dia punya barang seperti itu, sialan! kalau seperti ini aku tak bisa melumpuhkannya!" batin Jason semakin bertambah kesal.
"Jika kamu membunuhku, maka aku akan menekan tombol hijau ini dan Bummm......tempat ini akan meledak seketika."
Rose memang cerdik, dia berpura-pura jika dirinya telah memasang bom di sekitarnya. Padahal dia sama sekali tak melakukan itu. Akalnya memang cerdas.
"Aku mati siapa yang rugi, tak ada yang rugi. Kalau kamu yang mati, anakmu pasti akan menangis. Publik tetap akan tahu, tentang perbuatanmu karena aku masih memiliki saksi kunci yang akan siap berbicara kapan saja saat anak buahku menyuruhnya."
"Orang-orang yang mengagungkan namamu itu akan mencemooh dirimu. Reputasimu akan hancur dan kamu serta anakmu akan di benci orang."
"Tak ada bedanya jika aku menemukan bukti itu, hal serupa akan sama terjadi. Yang membedakan adalah kamu masih bernapas dan menikmati keindahan kota ini saat kamu terbebas nanti atau kamu akan tiada bersamaku dan masuk ke dalam neraka bersama-sama."
Rose mulai mengintimidasi Jason. Jason yang merasa perkataan Rose ada benarnya pun hanya bisa diam dan menelan salivanya. Jason tak bisa berkutik sama sekali.
"Aku berbaik hati membiarkanmu hidup agar kamu bisa menebus dosa-dosamu. Asal kamu tahu saja hukum akhirat lebih berat dari pada dunia ini. Jadi sekarang otakmu harus berpikir kamu harus memilih."
"Mau mati dengan dosa-dosamu, atau mau hidup dan menebus kesalahanmu."
Rose mengetuk kepala Jason perlahan.
"Jika mau mati aku akan menekan tombol ini sekarang juga. Jika mau hidup maka pergi dari sini dan tunggu hukuman untukmu datang." Rose mengancam Jason.
Lagi dan lagi Jason hanya diam, Jason mengepalkan tinjunya karena hanya berbicara saja mampu mengalahkan dirinya. Bahkan bawahannya belum maju sama sekali tapi ia sudah kalah lebih dulu.
"Aku akan pergi, tapi bukan berarti aku akan menyerah, tunggu dan lihat saja aku akan membalas perbuatanmu ini!" Jason menatap tajam mata Rose.
"Dengan senang hati saya akan menunggunya, Tuan." Tukas Rose tersenyum lebar.
"Sial, wanita ini benar-benar pintar dan juga ahli mengancam dengan kata-katanya. Tunggu saja aku akan membalasmu, cepat atau lambat aku akan membalasmu."
Batin Jason seraya menjauh dari tempat itu.
Sedangkan Rose hanya menatap kepergian Jason dengan tatapan tajam.
"Orang jahat sepertimu tak pantas untuk hidup, jika bukan aku yang menghabisimu maka hukum yang akan membuatmu mati."
Rose menatap kepergian Jason dengan penuh kilatan amarah.
"Nona, anda tak apa-apa?" tanya Celine yang baru datang menyusul, Rose. Rose menoleh dan memberikan senyum tipisnya.
"Kelihatannya bagaimana? ya seperti yang kamu lihat saat ini diriku baik-baik saja, tidak ada luka sedikitpun."
"Nona, kok bisa Jason tak menyakiti anda sama sekali? padahal aku sudah sangat khawatir dengan keselamatan anda?"
"Celine, ada kalanya kita tak perlu meregangkan otot dengan berkelahi. Tetapi kita gunakan otak kita untuk mengelabui musuh." Tukas Rose tersenyum lebar.
"Wah, Nona Rose memang sangat cerdas. Aku ingin mencontoh kecerdasan anda dalam mengelabui musuh, hingga aku tak harus cape berkelahi." Puji Celine tersenyum riang.
"Sekarang kita pulang saja dan nanti aku akan meminta beberapa orang untuk mereparasi makam papah mertua."
Rose melenggang begitu santai ke arah mobilnya di ikuti oleh Celine. Sementara beberapa anak buah Rose masih stand by di makam keluarga untuk membersihkan rerumputan yang tumbuh lebat.
Rose pulang ke rumah dengan suasana hati yang sangat senang. Dia masih saja teringat wajah Jason yang penuh dengan ketakutan.
"Hhaaa ternyata Jason gampang sekali di kelabui. Aku pikir dia pintar, ternyata bodoh sekali."
"Semoga saja, Mamah Berta cepat pulih supaya bisa untuk menjadi saksi kelak untuk menyeret Jason dan Reyhan ke kantor polisi."
Rasa lelah mendera karena begitu lama Rose berada di makam keluarga untuk mencari makam papah mertuanya.
Dia pun memutuskan untuk rehat sejenak, merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Dede, kamu pasti lelah ya telah bantu mamah. Sekarang kita waktunya istirahat sejenak, supaya rasa lelahmu juga hilang."
Gumamnya seraya mengusap perutnya yang masih rata.
Saat itu juga Rose memejamkan matanya dan tertidur nyenyak. Sementara saat ini Michelson sedang ada di kantornya. Dia telah selesai mengadakan deadline.
"Hem, lelah juga hari ini.Apakah istriku sudah pulang dari makam keluarga? sebaiknya aku tanyakan hal ini pada, Celine."
Michelson meraih ponselnya dan menelpon nomor ponsel, Celine.
"Celine, apakah kamu sudah kembali dari makam keluarga?'
"Sudah, tuan. Dan saat ini istri anda sedang tidur siang."
"Apa kamu serius, istriku tidak keluyuran lagi?"
"Saya serius, Tuan. Jika tuan tidak percaya tingga pulang saja dan cek langsung di kamar."
"Hem, baiklah kalau begitu."
Setelah mengetahui jika istrinya saat ini sudah pulang, Michelson mematikan panggilan telponnya.
Dia merasa lega mendengar jika saat ini Rose sedang tidur di rumah.
"Hem, tumben istriku tidur siang. Biasanya dia keluyuran, tak ada rasa capenya." Gumamnya tersenyum.
Sementara di rumah, Jason terus saja marah-marah mengingat kelakuan Rose padanya. Dia sama sekali tak menyangka jika dirinya kalah hanya oleh seorang wanita muda.
"Aku harus mengatur rencana yang matang karena lawanku ini bukanlah wanita biasa, tetapi wanita yang otaknya cerdas dan nyalinya besar."
Batinnya kesal.
*****