
Pagi harinya, Siska sudah selesai berdandan dengan rapinya. Ia pun menampilkan senyumnya yang cerah.
"Sudah jam segini aku harus berangkat agar tidak telat nantinya." Ucap Siska melihat jam tangan yang melingkar di tangannya sudah menunjukkan pukul delapan pagi.
Siska keluar dari rumah peninggalan orang tua Rose, dan akan menguncinya. Tetapi dia terhenti pada saat Paman Sam datang dan bertanya padanya.
"Eh, Siska mau kemana rapi sekali?" tanya Paman Sam mengernyitkan alisnya.
"Aku mau pergi ke perusahaan Berto Group, Paman. Aku telah mendaftar di sana dan telah di terima," jawab Siska sumringah.
"Wah...itu kan perusahaan yang terkenal setara dengan perusahaan milik Michelson. Kamu beruntung sekali, Siska. Semoga kamu betah dan sukses ya, terutama bisa menggaet sang komisaris mudanya." Celoteh Paman Sam.
"Paman tahu saja, jika rencana aku masuk ke perusahaan itu juga supaya aku bisa mendekati salah satu anak dari pemilik perusahaan. Apalagi akan dengar perusahaan ini juga saingan terberat perusahaan milik, Michelson." Tukas Siska.
"Semoga kamu lekas bisa meluluhkan hati sang penguasa supaya bisa membalas dendam pada, Michelson dan Rose," tukas Paman Sam.
"Doakan saja, Paman. Aku pamit dulu ya," Siska lekas melangkah pergi.
Paman Sam melihat Siska hingga tak terlihat, ia tersenyum sendiri melihat keponakannya tersebut. Lantas dia masuk ke rumah Siska dengan kunci serep.
Siska berjalan menuju halte menunggu angkutan umum, untung saja tidak lama kemudian ada taxi yang melintas. Siska segera naik dan menyebutkan tempat tujuannya.
Tiga puluh menit kemudian, Siska sudah sampai di depan gedung tinggi nan megah itu. Siska bernapas lega, dia sampai lebih awal, tadinya ia harap-harap cemas jika telat karena jalanan sedikit macet.
Siska segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam perusahaan ternama itu. Siska menuju ke meja resepsionis untuk bertanya.
"Permisi saya mau tanya. Kemarin saya mendapat panggilan untuk tanda tangan kontrak kerja, ruangan dimana ya?" tanya Siska malu-malu.
"Anda langsung saja ke lantai sepuluh, nona. Nanti tanyakan di sana untuk menemui, Tuan Berto." Jawab resepsionis itu ramah.
"Terima kasih, selamat bekerja." Ucap Siska dengan tersenyum.
Siska pun melangkah kaki menuju lantai teratas dari gedung itu menggunakan lift. Sesampainya di atas, Siska bertanya atas nama, Berto pada salah satu karyawan yang ada di sana.
Siska di antar keruangan di mana Berto berada.
Tok.. tok...tok...
"Permisi, Tuan. Ada yang mencari anda."
Ucap salah satu karyawan tadi.
"Suruh dia masih masuk," sahut Berto dari dalam.
Karyawan tadi pun mempersilahkan Siska untuk masuk ke dalam.
Siska duduk di kursi berhadapan dengan, Berto.
"Nona Siska?"
"Iya, Tuan. Saya Siska," jawabnya sedikit grogi.
"Silahkan tanda tangani ini, nona."
Berto menyodorkan surat kontrak untuk di tanda tangani, Siska.
Siska segera menandatangani
kontrak tersebut.
"Kapan saya bisa mulai bekerja, Tuan?" tanya Siska ragu-ragu.
"Anda bisa bekerja mulai sekarang, nona." Jawab Berto.
"Benarkah, Tuan?" tanya Siska untuk memastikan.
"Benar, nona. Perusahaan kami sedang sangat membutuhkannya, saya akan mengantar dimana ruangannya."
Berto melangkah keluar di ikuti oleh Siska di belakangnya.
Sesampainya di ruangan tersebut, Siska segera masuk dan memperkenalkan diri pada karyawan yang lainnya. Usai berkenalan, Siska mulai bekerja. Ia mendapatkan bimbingan dari karyawan yang sudah lama di sana.
Tak terasa jam makan siang sudah datang, Siska sedang bersiap untuk mencari makan siang bersama rekan barunya.
"Kita ke kantin saja, biar lebih hemat dan tidak buru-buru," ajak teman Siska yang bernama Resi.
Resi tinggal di kontrakan jadi dia harus benar-benar pintar mengatur pengeluaran. Siska menyetujui ajakan teman barunya itu, Di saat mereka keluar, Sindy berpapasan dengan Siska.
"Ka Siska." Panggil Sindy melihat Siska.
"Turunkan aku, Daddy." Pinta Sindy untuk turun dari gendongan Berto.
"Kak Siska, mau makan?" tanya Sindy.
"Iya, kakak lapar mau cari makan." Jawab Siska dengan senyum.
Siska mengenal Sindy juga tak sengaja, pada saat dirinya suntuk. Dia berjalan-jalan di mall dan kebetulan bertemu dengan Sindy secara tidak sengaja. Saat itu Sindy sedang menangis mencari keberadaan papahnya. Dan Siska berinisiatif menolongnya mempertemukannya dengan daddynya. Dia membawa Sindy ke bagian informasi. Sebagai tanda terima kasih, Berto memberikan pekerjaan untuk Siska. Dan memintanya datang ke kantornya dengan segera.
Sebenarnya Sindy sudah tak punya mommy. Hingga Sindy hanya di rawat oleh Berto dan seorang baby sitter. Kadang kala Berto membawa Sindy ke kantor seperti saat ini.
"Daddy, lanjutkan saja pekerjaannya. Biar Sindy mau sama Kak Siska saja," ucap Siska girang.
Sindy anak kecil yang baru berusia lima tahu. Siska sebenarnya tak suka dengan Sindy. Hanya dia menutupi rasa tak sukanya tersebut.
"Baiklah, nak. Nona Siska, aku titipkan anakku padamu, ya?" ucap Berto pada Siska.
"Ih,ini anak menyebalkan sekali! tapi aku akan gunakan anak ini untuk bisa mendekati papahnya."
"Padahal aku pikir, adik Berto yang ada di sini. Malah dia ke luar negeri aku baru tahu. Sudahlah tak dapat adiknya nggak apa-apa jika dapat kakaknya ini." Batin Siska kesal.
"Baik, Tuan. Saya akan menjaga Sindy," Jawab Siska.
Berto pun keruangan untuk melanjutkan lagi pekerjaannya. Akan tetapi Berto tak lupa memerintah salah satu anak buahnya untuk mengamati Siska dan Resi.
Karena banyak sekali musuh Berto yang berkeliaran di luar sana. Tidak mungkin menutupi keinginan jika Sindy bisa saja menjadi sasaran mereka semua.
Selama makan siang, Sindy bersikap begitu manja pada Siska. Sebenarnya Siska sangat tak suka, tetapi dia berpura-pura baik padanya. Supaya dia bisa mendapatkan cinta dari sang Berto.
Walaupun Siska tahu jika Berto masih memiliki istri akan tetapi sedang koma. Menurut Siska ini waktu yang tepat untuk bisa mendekatinya.
"Aku sangat yakin jika Berto saat ini sangat membutuhkan sentuhan tangan wanita. Aku akan gunakan anaknya untuk bisa lebih dekat dengan, Berto," batin Siska tak sadar dia tersenyum sendiri membuat Resty memicingkan alisnya.
"Siska, apa kamu sedang tidak waras?" tanya Resty terkekeh.
"Hust, ada anak kecil kenapa kamu mengatakan seperti itu," bisik Siska pada Resty.
"Aku yakin saat ini pasti kamu sedang membayangkan menjadi istri, Tuan Berto," bisik Resty.
"Hem, sok tahu kamu."
"Lantas dari mana kamu bisa kenal, Nona kecil Sindy?" tanya Resty penasaran.
"Hem, kepo deh. Nanti saja ceritanya, nggak enak juga ada anaknya," bisik Siska pada Resty.
Sementara Sindy sangat menikmati makan siang bersama Siska. Dia tidak tahu jika watak asli Siska adalah jahat.