
Tanpa sepengetahuan Michelson, Rose ikut membantunya mencari tahu keberadaan, mamahnya.
Rose wanita yang sangat cerdas, dia mencari tahu sendiri seperti apa wajah dari mamah mertuanya tersebut melalui komputernya.
Karena sangat mudah mencari seseorang yang masih tergolong kaum elite seperti keluarga Michelson.
"Hem, tenang saja suamiku. Anak buahku adalah orang-orang yang handal dan terpercaya. Pasti sebentar lagi akan bisa menemukan keberadaan, mamahmu."
Setelah memastikan Michelson benar-benar masuk ke dalam kamar mandi. Rose langsung menghubungi anak buahnya, ia ingin tahu apakah anak buahnya telah berhasil menemukan keberadaan mamah mertuanya.
"Bagaimana dengan orang yang aku suruh kamu cari, apa sudah ada kabar?" tanya Rose pelan, takut jika Michelson mendengar pembicaraannya dengan anak buahnya itu.
"Mulai ada titik terang, bos. Mungkin dua atau satu minggu lagi kita bisa menemukan keberadaannya."
Ucap anak buahnya di balik panggilan telpon, hal ini membuat Rose sedikit lega. Ia harap orang yang ia cari segera di temukan agar Michelson sedikit lebih bahagia.
"Bagus, lanjutkan pencariannya, aku tak mau kamu sampai gagal mencari wanita itu," ucap Rose memperingati bawahannya.
"Siap, bos." Ucap anak buahnya dengan tegas sebelum mengakhiri teleponnya.
"Telpon dari siapa?" tanya Michelson yang sudah keluar dari kamar mandi.
Rose langsung menatap suaminya dengan tajam. Pandangan matanya menyelidik menilai penampilan, Michelson dari atas hingga bawah.
"Daddy....kamu mandi atau cuma cuci muka? kok sebentar sekali?" ejek Rose terkikik.
"Memangnya aku sepertimu, mom. Yang butuh waktu berjam-jam hanya untuk mandi saja."
Michelson mengambil jas dan kemejanya yang sudah di siapkan oleh, Rose.
Sementara Rose acuh tak acuh, dia memainkan kembali ponselnya. Michelson sedikit kesal jika Rose sedang bersikap cuek padanya.
Tiba-tiba Michelson menghampiri Rose dan menindih tubuhnya.
"Mom, aku nggak suka kalau kamu cuek padaku."
Michelson sengaja menggoda Rose, dengan berpura-pura akan mencium dirinya.
Angin berhembus memasuki jendela kamar mereka membawa angin sejuk yang menerpa kulit wajah, Rose. Rose memejamkan matanya perlahan menikmati setiap hembusan angin yang menerpa wajahnya.
"Kenapa memejamkan mata seperti itu, pengen di cium ya?"
Perkataan Michelson membuat mata Rose terbuka lebar. Rose menatap tajam suaminya seakan tak suka dengan apa yang barusan di katakan olehnya.
"Pede amat, Daddy ..awas menyingkir dari atas tubuhku. Kamu kira badanmu nggak berat, lagi pula lupa ya jika aku sedang hamil. Aku cuma menikmati hembusan angin dari jendela bukan minta kamu cium."
"Mommy sayang, jangan marah-marah dong. Nanti hilang cantiknya bagaimana?"
Michelson mampu membuat Rose mereda marahnya bahkan kini pipi Rose terlihat memerah karena malu. Rose terkikik seraya menutupi wajahnya dengan dua tangannya. Michelson yang melihat itupun menyingkirkan kedua tangan, Rose.
Lagi dan lagi mereka berpandangan, deru napas mereka pun sama-sama terdengar.
"Mommy, kamu sadar nggak? kamu itu sangat cantik, membuat aku tergila-gila padamu." Michelson mengusap pipi Rose pelan.
"Hem, kamu saja yang baru sadar jika istrimu ini memang cantik. Iya kan?" goda Rose.
"Aku menyesal baru menyadari sekarang, bahkan matamu ini sangat indah dan bibirmu ini sangat menggoda dan selalu membuatku candu. Aku sangat suka jika kamu menatapku berani dengan matamu ini."
Ucapan Michelson membuat Rose terkekeh. Seketika itu juga Michelson mencium bibirnya dan ********** perlahan.
Rose tertegun sejenak setelah itu mengalungkan tangannya di leher Michelson , tak membuang waktu lagi ia pun membalas ciuman suaminya.
Kegiatan mereka terpaksa terhenti saat ponsel Michelson berdering dengan begitu nyaringnya. Michelson berdecak dengan kesal kemudian ia melepaskan tautannya dari bibir Rose dan mengangkat telpon dari sekretarisnya tersebut dengan bibir cemberut.
"Ada apa, ganggu saja?" Michelson langsung menyemprot sekretarisnya tersebut.
"Santai dong, bos. Aku hanya ingin memberi tahumu jika sebentar lagi meeting akan segera di mulai jadi sebaiknya kamu datang secepatnya atau aku akan datang ke rumahmu dan menyeretmu kemari," ucap Rey membuat Michelson cemberut.
Ia tak bisa berlama-lama dengan, Rose.
"Hem, " hanya itu jawabnya lalu mematikan panggilan telpon dari, Rey.
Rose yang melihat akan hal itu tersenyum senang. Ia sangat suka melihat wajar suaminya yang sedang kesal seperti itu, entah kenapa ia merasa lucu melihat hal itu.
"Kenapa senyam senyum...senang ya aku mau pergi?" Michelson mencolek hidung mancung Rose.
"Tentu senang, itu artinya aku bebas."
Ucap Rose yang membuat Michelson terkikik.
"Kamu memang bebas untuk sesaat. Tapi nanti malam aku tak kan membiarkanmu bebas atau bersantai lagi. Mommy harus melayani aku sampai pagi."
Michelson mengecup pipi Rose sekilas, setelah itu melangkah keluar dari kamar. Dia lekas masuk ke dalam mobilnya, dan meminta sang sopir melajukannya ke arah kantor, hingga lupa berpamitan pada istrinya.
"Sial, gara-gara Rey. Aku belum sempat berpesan pada Rose supaya jangan berbuat aneh lagi karena dia sedang hamil."
"Hem, sebaiknya aku mengirim pesan saja pada Celine supaya benar-benar lebih lagi dalam menjaga istriku."
Michelson lekas meraih ponselnya di kantong bajunya dan mengirim chat pesan pada, Celine.
[Celine, tolong jaga istriku dengan benar. Dan selalu waspada akan keselamatannya.]
"Drt drt drt"
Notifikasi chat pesan langsung masuk ke nomor ponsel, Celine.
Dia pun lekas membalasnya supaya, Michelson tak berkali-kali kirim pesan.
Hati Michelson sudah tenang karena sudah berpesan pada, Celine.
"Dengan begini aku bisa bekerja dengan tenang tanpa ada yang perlu aku khawatirkan lagi tentang istriku."
Sementara saat ini Rose juga telah siap untuk pergi ke garmen dan butiknya. Celine sudah menunggu di teras halaman.
"Celine, sepagi ini kamu sudah ada di sini?"
"Iya, nona."
"Tak perlu seperti ini, Celine. Aku bisa kok jaga diriku sendiri tanpa merepotkan dirimu."
"Iya saya tahu, nona. Tapi saat ini nona sedang hamil muda, jadi ingatlah akan keselamatan janin yang sedang nona kandung."
"Hem, ya sudah ayok kita berangkat sekarang juga."
Rose tak ingin berdebat dengan Celine, karena masih banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan dengan segera.
Selama di dalam mobil, Rose asik dengan ponselnya. Sementara Celine fokus dengan kemudinya. Keduanya saling diam. Tiba-tiba ada salah satu mobil yang terus saja menyerempet mobil yang di tumpangi oleh, Rose.
"Sialan, siapa lagi yang ingin mengganggu kenyamananku! Celine percepat laju mobil kita supaya jangan sampai terkejar oleh mobil tadi!"
"Siap, nona."
Saat itu juga Celine menambah kecepatan laju mobilnya sesuai perintah, Rose. Kebetulan dia juga sudah ahli dalam hal kebut mengebut dalam berkendara.
Mobil yang sempat menyerempet mobil Rose. Kini tertinggal di belakang mobil Rose. Dia mencoba mengejar kembali mobil Rose, tetapi terhalang oleh banyak nya mobil yang ada di depannya.
"Kamu bagaimana sih? masa kalah sama sopir cewe itu! lambat banget, kita kan gagal menangkap Rose!"
Pria tersebut marah pada asistennya yang gagal mengejar mobil yang di tumpangi Rose.
"Hhhaa hanya seperti itu nyalinya, kalah sama aku yang bekas pembalap."
Celine menyombongkan dirinya di dalam hati.
Sementara Rose menjadi penasaran dengan mobil yang sempat menyerempet mobil dia.
"Sebenarnya siapa yang ada di dalam mobil tersebut? jika aku sedang tidak banyak kerjaan, pasti aku akan ladeni apa maunya itu orang!"
batin Rose di samping penasaran juga kesal.