Wonder woman

Wonder woman
Berhasil Menyelamatkan Celine



Rose terus mengamati wajah pria yang bermasker dari ujung kaki hingga ujung kepala.


"Sepertinya aku mengenal sosok pria di hadapanku?" batinnya mulai menebak pria bermasker tersebut.


"Ada apa, Nona Rose? kenapa anda melihatku seperti itu?"


"Hem, sudah tak di ragukan lagi. Dia ini adalah, Raymond. Sialan sekali, dia telah menyakiti asisten aku!" batinnya geram.


"Tuan, apa yang anda inginkan dariku?" tanya Rose menatap sinis wajah pria yang ada di hadapannya.


"Hem, aku akan membebaskan asisten anda. Asal anda bersedia menggantikan dirinya."


Rose menghampiri pria bermasker tersebut dengan sangat berani. Dan dengan gerak cepat, Rose menarik dua tangan pria tersebut ke punggungnya. Serta menempelkan pisau ke leher pria tersebut. Dan gerak cepat pula, Rose membuka masker pria tersebut.


"Auhhh, sakit Rose! kenapa kamu kejam sekali seperti ini! tanganku bisa patah jika seperti ini!"


"Biar saja aku patahkan sekalian kedua tanganmu supaya kamu jadi orang cacat, Ray! jika perlu aku akan menusuk lehermu dengan pisau ini! cepat lepaskan asisten aku!" gertak Rose lantang.


"Nggak, Rose. Sebelum kamu mematuhi apa mauku, aku ingin kamu kembali padaku!"


"Hem, baiklah jika itu maumu!"


"Bug bug dug"


Rose meninju dua kali perut, Raymond. Dan menendang satu kali alat reproduksi, Raymond.


"Aaaaahhhhhh... sakit Rose....iya-iya aku akan bebaskan asistenmu!"


"Wah, ternyata Nona Rose berani juga. Keren banget dech," puji Celine dalam hati.


Saat itu juga dua anak buah Raymond membebaskan, Celine atas perintahnya.


"Celine, cepat kalian ikat kedua pria yang telah menyakitimu!" perintah Rose.


Namun sebelum Celine mengikat kedua anak buah, Raymond. Dia menghajar keduanya secara membabi buta. Setelah keduanya babak belur, barulah Celine mengikat keduanya dengan kencang.


"Itu balasan buat kalian berdua yang telah menyakiti aku!" Celine tersenyum sinis.


"Sekarang kamu ikat dia juga, di sebuah kursi itu!" perintah Rose pada Celine.


Celine lekas menuruti perintah Rose. Dia mengikat Raymond terpisah dari dua anak buahnya. Seperti saat dia di ikat. Raymond di ikat kedua tangannya di belakang punggung nya dan kakinya juga di ikat, serta mukanya di tutup sebuah kain hitam.


Sementara kedua anak buah Raymond di ikat bersama-sama dengan posisi saling membelakangi. Kakinya juga masing-masing di ikat.


Setelah itu Rose dan Celine pergi dari ruangan yang ada di dalam gedung tersebut. Tak lupa dia mengunci ruangan tersebut dari luar, karena kebetulan Rose melihat ada kontak tergantung di pintu tersebut.


Rose juga mematikan lampunya sehingga terlihat sekali ruangan tersebut gelap.


"Nona Rose, ternyata anda hebat juga ya?" puji Celine seraya mengacungkan kedua ibu jarinya.


"Hem, biasa sajalah. Lain kali kamu harus hati-hati, jangan sampai terulang hal seperti ini lagi."


"Baiklah, Nona. Maafkan saya karena telah merepotkan anda. Tetapi apakah kandungan anda baik-baik saja?"


"Kamu nggak perlu khawatir, anakku kuat seperti mamahnya."


Keduanya keluar dari gedung kosong tersebut dan kebetulan ada taxi kosong melintas. Rose menyetop taxi tersebut.


Sementara Raymond merasa kesal karena dirinya terikat dan kondisi di dalam ruangan tersebut sangat gelap.


"Sialan, aku pikir hanya penampilan Rose saja yang tomboy. Tetapi dia gesit juga, aku malah sama sekali tak bisa bela diri,' batin Raymond.


"Bos, bagaimana ini? aku kebelet kencing, ini ikatan kencang banget dan gelap pula!" teriak salah satu anak buah, Raymond.


"Payah! masa seorang bos kalah dengan wanita, tak bisa apa-apa. Kami pikir bos jago bela diri, kapok kami bekerja sama denganmu! ternyata mental krupuk!" teriak salah satu anak buah Raymond mengejeknya.


"Sialan kalian! apa mau tidak ku beri pekerjaan lagi, hah!" ucap Raymond lantang.


"Kami tidak takut, kami akan cari bos yang pintar nggak seperti anda dengan wanita saja kalah! dasar pengecut!" ejek anak buahnya lagi.


Raymond semakin kesal karena kedua anak buahnya secara bergantian mengejeknya.


"Ini semua gara-gara, Rose! hinggaaku di ejek habis-habisan oleh anak buahku sendiri!" gumamnya dalam hati.


Saat ini Rose dan Celine dalam perjalanan ke garmen, Rose. Tiba-tiba ponsel Rose berdering, satu panggilan telpon dari suaminya.


"Hem, pasti dia menanyakan kemana aku pergi dan kenapa tak pamit."


"Celine, kamu jangan katakan kejadian ini pada siapapun. Ini suamiku telpon, jika dia tanya kemana kita pergi jawab saja kita jalan-jalan ke mall tetapi memakai taxi. Dan kita ketemu di luar, karena kamu habis pergi sejenak untuk acara pribadimu."


"Baiklah, nona."


Setelah berkata tersebut pada, Celine. Rose baru mengangkat panggilan telepon dari, Michelson.


"Kenapa lama amat sih baru angkat telpon dariku!"


"Maaf, Daddy. Kebetulan ponsel lupa aku silence hingga tak dengar ada panggilan telpon."


"Sebenarnya aku berniat tanya hal ini nanti jika aku telah pulang kantor. Tetapi aku mencemaskanmu yang tiba-tiba pergi tanpa pamit, dan pergi lewat jendela pula. Apa kamu nggak bisa menuggu aku selesai mandi supaya aku membuka kunci kamar?"


"Maaf, Daddy. Anakmu yang sudah tak sabar ingin jalan-jalan keluar, makanya aku lekas pergi. "


"Kamu kan bisa telpom, Celine untuk lekas datang ke rumah!"


"Kebetulan Celine sudah izin padaku, ada acara pribadi sebentar. Daddy nggak perlu khawatir, saat ini aku sudah bersama, Celine kok."


"Hem, ya sudah. Kalau aku sudah tahu kondisimu baik-baik saja, aku menjadi tenang."


"Ok Daddy sayang, aku sehat-sehat saja kok. Saat ini sedang dalam perjalanan ke garmen bersama, Celine."


"Hem, ok dech. I love u mommy, peluk cium buat Dede bayinya ya? mmuaccchhh..."


"I love u to, Daddy...muuuacchhh.."


Keduanya mematikan panggilan telponnya. Rose lega karena suaminya tak bertanya macam-macam.


Begitu pula di kantor, Michelson juga merasa tenang setelah mengetahui kabar tentang istrinya.


"Syukurlah istriku baik-baik saja, sempat cemas juga pada saat melihat kepergiannya yang tak lazim lompat dari jendela. Sungguh wanitaku memang langka, lain dari pada yang lain."


Michelson terkikik sendiri.


Tak berapa lama, Rose dan Celine telah sampai di garmen. Di sana telah menanti beberapa langganan, Rose.


Meminta untuk merancang kan beberapa gaun yang indah untuk acara pesta pernikahan.


Langganan garmen, Rose bukan orang sembarangan. Tetapi orang-orang penting seperti orang dalam pemerintahan dan pengusaha-pengusaha kaya raya.


Bahkan ada beberapa pengusaha muda yang selalu meminta di buatkan rancangan baju yang indah setiap bulannya. Sengaja mereka lakukan itu supaya bisa selalu bertemu, Rose.


Tanpa Rose sadari, dirinya memiliki daya pikat yang kuat terhadap pria. Akan tetapi para pria tak belum ada yang berani mendekati, Rose karena mereka tahu siapa itu Michelson.


*********