
Mendengar apa yang di katakan oleh wanita paruh baya tersebut, Rose pun merasa girang.
"Nyonya, ini memang rumah Michelson. Dan saya adalah istrinya, kebetulan di dalam ada, Mamah Berta jadi anda tidak akan kesepian jika untuk sementara waktu tinggal di sini," ucap Rose pada saat melajukan mobilnya masuk pintu gerbang.
"Yang benar saja, jadi ini benar-benar rumah Berta? saya pikir hanya mirip saja desain rumahnya, ternyata sama. Wah, senangnya saya bisa bertemu lagi dengan sahabat baik saya semasa kami dulu sama-sama duduk di bangku kuliah," ucap wanita paruh baya ini menyunggingkan senyumnya.
"Nona, siapakah namamu?" tanyanya seketika.
"Nama saya Rose, nyonya," jawab Rose.
Rose meminta tolong security untuk membantunya mengangkat tubuh wanita paruh baya tersebut keluar dari mobil dan memindahkan ke kursi roda.
Lalu Rose mendorong kursi rodanya masuk ke dalam rumahnya. Dan membawanya menuju ke ruang tengah dimana biasanya, Mamah Berta bersantai ria bersama dengan Paman Mike dan Tuan Rangga.
"Berta" teriaknya pada saat wanita paruh baya ini melihat Mamah Berta.
"Lani kah, kamu Lani bukan?" Berta menoleh ke arahnya dan Rose melajukan kursi rodanya menghampiri dimana saat ini Mamah Berta sedang duduk.
"Iya, aku Lani." Keduanya saling berpelukan melepas rasa kangen.
"Tante Lani, saya tinggal dulu ya? karena saya akan ke rumah sakit," ucap Rose.
"Rumah sakit, memangnya siapa yang sedang sakit?" tanya Lani penasaran.
"Suami saya, Tante. Alami kecelakaan tunggal dan saat ini sedang di rawat di salah satu rumah sakit. Tapi saya akan meminta izin pada rumah sakit supaya di rawat di rumah saja," ucap Rose.
"Rose, mamah ikut ya?" pinta Mamah Berta.
"Nggak usah, mah. Sebaiknya mamah di rumah saja, nanti juga Michelson akan di rawat di rumah supaya lebih efektif dan mamah serta yang lainnya tidak perlu repot bolak balik ke rumah sakit," ucap Rose.
"Baiklah, kamu yang hati-hati ya." Pesan Mamah Berta.
"Iya, mah."
Saat itu juga Rose melangkah pergi menuju ke rumah sakit sendirian hanya di kawal oleh Andi dan beberapa anak buahnya dari jarak yang lumayan jauh karena dia akan menuju ke rumah sakit. Sementara di rumah sakit juga ada beberapa anak buahnya yang menjaga, Michelson di rumah sakit.
Rose akan selalu waspada tidak ceroboh seperti Michelson karena Rose sangat yakin banyak sekali bahaya di luaran sana yang sedang mengintai dirinya dan keluarga suaminya.
Sesampainya di rumah sakit, Rose langsung menemui dokter yang menangani suaminya.
Sementara di mension, Berta dan Lani saling melepas rasa kangen karena sudah sekian lama tak bertemu dan bahkan sempat hilang komunikasi. Mereka saling bertukar cerita kehidupan masing-masing selama tak bertemu.
"Wah, kamu beruntung sekali punya menantu baik seperti Rose. Bahkan dia sangat hebat, tadi saja aku di tolong olehnya. Jika tidak ada dia entah bagaimana nasibku ini, Berta. Karena aku punya menantu jahat sekali yang hanya bisa shoping dan menghabiskan banyak uang saja," ucap Lani.
"Memangnya anakmu saat ini dimana, kenapa dia berdiam diri mendapati istrinya jahat padamu?" tanya Berta penasaran.
"Kakiku lumpuh juga karena ulahnya, tapi dia wanita ular berkepala dua. Yang mampu berakting di hadapan banyak orang, sekeras apa pun aku menceritakan tentang apa yang telah di lakukan olehnya padaku ke orang-orang. Mereka tidak ada yang percaya, karena di depan umum, menantuku berwajah sok polos, benar-benar bermuka dua," ucap Lani kembali.
"Hem ya sudah, untuk sementara waktu kamu tinggal di sini saja bersamaku supaya lebih aman. Nanti kita bisa bicarakan pada menantuku bagaimana solusi terbaiknya. Karena Rose biarpun seorang wanita tapi dia itu cerdas dan penuh perhitungan dan cerdik banyak akalnya."
"Anakku saja kalah olehnya, jika tidak ada Rose. Mungkin saat ini aku juga tidak akan ada di sini dan tak sesehat ini."
Dengan sangat antusias dan bangganya, Berta menceritakan semua pertolongan yang Rose berikan padanya dulu.
Berbeda situasi di sebuah rumah mewah yang tak kalah indah bagai rumah Michelson. Ada seorang wanita muda sedang marah-marah pada kedua anak buahnya yang telah gagal melaksanakan tugas yang ia berikan pada mereka.
"Bodoh amat kalian berdua, hah! masa kalah melawan satu wanita yang sedang kondisi hamil pula? badan doang yang gede, tapi nggak ada tenaga dan otak bego!" umpatnya kesal.
Kedua anak buahnya hanya bisa menunduk saja tak bisa berkata apapun.
"Lantas kalian tahu tidak di mana saat ini mamah mertuaku berada?" tanyanya.
"Kami sama sekali tak tahu, bos. Karena wanita tua itu di bawa kabur oleh wanita muda yang telah menolongnya," ucap salah satu anak buahnya seraya tertunduk.
"Sialan, seharusnya salah satu di antara kalian bergerak cepat dengan mengikuti kepergiannya hingga tak sampai kehilangan jejaknya! percuma aku bayar mahal kalian, tetapi mengerjakan hal seperti ini saja tak becus!" umpatnya lagi.
Wanita muda ini sangat marah karena usahanya untuk bisa mendapatkan seluruh harta peninggalan suaminya tidak bisa. Karena mamah mertuanya tak mau menandatangani surat kuasa pemindahan semua aset perusahaan dan saham.
"Bagaimana ini, rencana aku yang telah lama aku susun gagal total hanya oleh seorang wanita yang sok ikut campur! lantas siapa wanita yang sedang hamil itu, yang menolong mamah mertuaku? aku jadi penasaran dengannya," gunanya seraya mengepalkan tinjunya.
"Sayang sekali, aku punya anak buah tolol sehingga tak mengikuti kepergiannya. Jika sudah seperti ini lantas aku harus mencari kemana mamah mertua?" batinnya kesal.
********
Beberapa jam kemudian, Rose dan beberapa anak buahnya telah kembali dari rumah sakit dengan membawa Michelson ke mension.
Kondisi Michelson masih saja koma karena lukanya yang teramat parah. Rose sengaja membawa kerumah dan menyewa dokter dan perawat khusus untuk merawat suaminya di rumah.
Di rumah juga di pasang alat-alat rumah sakit yang komplit, sehingga Michelson tetap terjaga kondisinya.
Michelson di letakkan di ruangan khusus yang di penuhi dengan alat-alat medis yang di perlukan untuk kesehatan dirinya.
"Daddy, ayohlah cepat sadar. Aku kangen sekali dengan masakanmu. Aku juga kangen mengumpat dirimu, Daddy. Anakmu ini juga kangen sentuhan tangan daddynya setiap saat."
Rose meraih satu tangan Michelson dan meletakkan di perutnya yang sudah terlihat membuncit.
"Daddy, aku percaya kamu itu pria yang kuat. Dan tak perlu khawatir karena orang yang telah berbuat jahat padamu telah aku tangkap dan aku pastikan dia juga akan mendapatkan balasan setimpal dariku karena telah membuatmu seperti ini," ucap Rose.
Sesekali Rose mengusap kening suaminya dan mencium punggung tangan suaminya serta keningnya. Rose tidak menitikkan air mata sama sekali. Dia wanita kuat, dan kepercayaannua tinggi tentang kesehatan Michelson. Dia sangat yakin Michelson akan segera pulih.