
Ketika makan malam datang, Lani meminta tolong pada Rose untuk pagi hari mengantarnya ke kantornya untuk bertemu orang kepercayaannya.
"Rose, besok pagi tante minta tolong bisa nggak ya?" tanya Lani agak ragu dan tak enak hati pada, Rose.
"Katakan saja tante, tak usah sungkan. Jika aku mampu pasti aku akan membantu Tante kok," ucap Rose menyunggingkan senyuman.
"Rose, besok pagi tante minta tolong antar tante ke kantor untuk bertemu dengan orang kepercayaan tante untuk mengurus tentang permasalahan yang kemarin itu," ucap Lani menjelaskan secara detail.
"Baiklah tante, besok pasti aku akan menemani tante bertemu orang kepercayaan tante tersebut," Rose begitu yakinnya.
Lani merasa lega karena sudah bisa mengeluarkan uneg-uneg di hatinya. Dia akan menyelesaikan segala permasalahannya besok pagi.
***********
Tak terasa pagi menjelang datang, Rose menepati janjinya pada Lani. Rose sudah tenang karena saat ini Michelson sudah di rawat di rumah, sehingga tak akan ada lagi rasa khawatir jika akan ada yang berusaha mencelakainya lagi.
Sehingga Rose dengan senang hati menemani Lani ke kantornya, tetapi dia tak sendiri karena dia membawa seorang wanita paruh baya Hinga dia juga membawa Andi untuk turut serta. Mengingat kondisi dirinya yang sedang hamil juga. Lagi pula untuk berjaga-jaga.
"Rose, maaafkan Tante yang selalu merepotkan kamu ya?" Lani merasa tak enak hati tetapi dia memang sangat butuh bantuan dari Rose.
"Tante, santai saja. Jika aku bisa pasti aku bantu dan tak usah sungkan seperti ini," ucap Rose tersenyum ramah.
"Di kantor ada orang kepercayaan saya. Saya harus segera membuat keputusan agar orang-orang itu, tak bisa memiliki perusahaan saya. Saya ingin perusahaan itu tetap berdiri dan maju," ucap Lani.
Tak lama akhirnya mereka pun sampai di sebuah gedung, yang menjulang tinggi tersebut. Lani segera menyuruh Rose untuk masuk ke dalam gedung tersebut bersamanya. mereka langsung bertemu dengan pengacara serta asisten pribadi Tante Lani yang telah ditolongnya oleh, Rose.
"Maaf saya buru-buru mengumpulkan kalian di sini," ucap Tante Lani setelah berada di ruangannya bersama dengan asisten pribadinya dan pengacara serta, Rose.
"Tak apa, nyonya. Ini saya sudah mempersiapkan berkas kepindahan hak milik perusahaan ini beserta aset milik, nyonya. apakah Nyonya yakin akan membagikan warisannya secepatnya?" tanya pengacara wanita pada, Tante Lani.
"Ya, saya tak bisa menundanya lagi. Untuk rumah saya memberikannya kepada menantuku yang jahat itu. Sedangkan untuk aset seperti perhiasan dan uang simpanan saya, saya ingin memberikannya kepada cucu satu-satunya."
"Untuk perusahaan saya menyerahkan sepenuhnya kepada wanita yang ada di samping saya ini," ucap Tante Lani membuat Rose terkejut bukan hanya dirinya.
Pengacara dan asistennya pun nampak terkejut dengan keputusan, Tante Lani.
"Bagaimana bisa nyonya, lagi pula siapa wanita itu?" tanya asisten wanita itu sepertinya keberatan dengan keputusan yang telah Tante Lani buat.
"Dia yang sudah menyelamatkan nyawa saya. Jadi saya memberikan imbalan perusahaan ini untuk dirinya, lagi pula saya lebih ikhlas menyerahkannya pada wanita ini dari pada nanti perusahaan ini di pimpin oleh menantu saya itu."
"Kamu tahu sendiri kan, dia suka shopping liburan dan intinya suka sekali menghambu-hamburkan uang. Saya tak ingin perusahaan saya bangkrut karena di pimpin oleh bos yang yang seperti itu."
"Makanya saya menyerahkan perusahaan ini kepada wanita ini. Saya yakin dia mampu menjaga perusahaan ini seperti dirinya melindungi nyawa saya kemarin."
Ucap Tante Lani tak di bantah lagi oleh pengacara ataupun asisten pribadinya.
"Lagi pula imbalan ini terlalu besar atas pertolongan yang saya berikan kemarin."
Rose menolak secara halus.
"Saya mohon, Rose. Hanya kamu satu-satunya harapan saya, tolong jangan menolak hal ini. Dan soal menjalankan perusahaan asisten saya akan mengajarimu. Jadi saya mohon dengan sangat terima tawaran ini dan bantu saya untuk menjalankan perusahaan ini, karena hidup saya tak lama lagi."
Ucap Lani menangis di hadapan Rose.
Rose hanya diam, ia paling tak tega jika melihat seseorang menangis di hadapannya. Kini Rose pun bingung harus menerima tawaran besar itu atau justru menolaknya, dan membiarkan perusahaan itu jatuh ketangan menantu, Tante Lani.
"Bagaimana ini, aku sendiri punya usaha. Di tambah lagi aku juga sesekali mengurus perusahaan Michelson karena dia belum juga sadar dari komanya. Lantas apa aku mampu ya serentak menjalankan semua dalam waktu yang bersamaan? dua perusahaan dua butik dan satu garmen," batinnya gelisah masih sulit untuk memberikan sebuah keputusan.
"Rose, tante mohon..." tiba-tiba Lani berkata lagi seraya menggenggam jemari tangan Rose dan menatapnya sendu.
"Sebenarnya saya berat untuk menerima semua ini loh, tante. Tapi jika tante terus memaksa seperti ini saya juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi," ucap Rose akhirnya menerima tawaran tersebut.
Seketika itu juga tiba-tiba Tante Lani memeluk erat tubuh Rose," Terima kasih ya Rose." Rose pun mengusap punggung tante Lani secara perlahan.
"Sekali lagi terima kasih ya, Rose. Apapun yang terjadi saya mohon pertahankan perusahaan ini. Jangan sampai jatuh ke tangan orang yang salah ya, Rose. Karena perusahaan ini adalah satu-satunya harta yang paling berharga bagi tante."
Rose hanya mengangguk mengiyakan permintaan wanita wanita tua itu.
"Baiklah kalau begitu siapa nama anda, nona?" tanya pengacara tersebut kepada, Rose.
"Saya Roseline Stephanie," tuan." Ucap Rose tersenyum tipis.
Kemudian tampak pengacara itu menuliskan namanya di surat pemindahan pengalihan saham perusahaan dan hak milik perusahaan itu.
"Sudah siap, silahkan tanda tangan di sini dengan lengkap terakhir, nona."
Pengacara tersebut meminta Rose untuk menandatangi dokumen tersebut.
Awalnya Rose ragu, namun melihat anggukan kecil dari Tante Lani kepadanya akhirnya Rose mau menandatangani surat tersebut.
"Baik semua sudah selesai, untuk sementara berkas-berkas yang lain akan segera menyusul dan mulai sekarang perusahaan ini menjadi milik nona, Rose," ucap pengacara itu disertai oleh semua anggukan orang yang berada di sana.
"Tolong jaga perusahaan saya. Walaupun nanti menantu saya akan datang mengancammu, tetap saja jangan lepaskan perusahaan ini dan jangan memberikan kepadanya," ucap Tante Lani mengusap lembut lengan Rose secara perlahan.
Tante Lani sudah tenang sekarang karena perusahaan sudah berada pada orang yang tepat.
"Jujur saya masih keberatan dengan ini semua, Tante. Saya. sangat minim dengan pengetahuan dalam bidang ini karena pendidikan saya tidak begitu tinggi," ucap Rose.