
Beberapa saat berada di villa, Rose pamit pada mamah mertuanya. Dia pun memutuskan untuk kembali ke rumah. Akan tetapi dia sejenak ngobrol dengan, Celine.
Rose penasaran dengan perkembangan aksi Celine.
"Bagaimana penyamaranmu barusan, Celine?"
"Sangat bagus, bukan hanya Rey yang terjebak. Tetapi Jason juga ikut terjebak, Nona."
"Hem, tua bangka itu masih doyan perempuan. Baguslah kalau begitu, kerja yang sangat luar biasa. Tapi kamu juga harus hati-hati."
"Iya, nona. Saya juga ada musuh yang lain. Wanita ini masih ada hubungannya dengan anda, nona. Tepatnya adik tiri, anda."
"Hem, Siska maksudmu?"
"Iya, nona. Sepertinya dia kelak akan menjadi penghalang saya untuk lebih dekat lagi dengan, Reyhan."
"Hem, aku tahu maksudmu. Siska mengincar, Reyhan. Pantas saja pada saat di pesta ulang tahun, Reyhan. Aku seperti melihat sosok Siska. Ternyata dia kenal dengan, Reyhan juga. Singkirkan siapa pun yang menghalangi misi kita! kamu tak usah memikirkan dia itu adik tiriku! aku anggap kami sudah tidak ada hubungan apa pun."
"Baiklah, nona. Jika sudah ada lampu hijau dari anda, saya tidak akan segan lagi misalkan Siska menghalangi niat saya untuk bisa lebih dekat lagi dengan, Reyhan."
"Ya sudah, sebaiknya kita cepat pulang. Karena aku khawatir suamiku pasti sedang gelisah menungguku."
Saat itu juga Celine melajukan mobilnya arah pulang. Akan tetapi kali ini Rose pulang tidak lewat jendela lagi. Dia lewat halaman rumah dimana saat ini Michelson sedang menunggu dirinya.
"Mommy, kenapa kamu pergi cari makan kok lama sekali?"
"Heeem mampir jalan-jalan sebentar dengan, Celine."
"kruwuk kruwuk kruwuk"
Perut Rose berbunyi, dia merasakan lapar.
"Ya ampun, aku kan sama sekali belum makan apapun. Karena aku tadi fokus dengan mamah mertua." Batin Rose.
"Mommy, katanya makan di luar? kenapa perutmu bunyi seperti itu? jangan katakan kamu nggak makan tetapi malah keluyuran."
"Daddy, aku makan tapi nggak banyak makanya masih terasa lapar."
"Hem, kalau begitu ayok kita makan lagi."
Michelson merangkul istrinya melangkah ke ruang makan. Dengan lahapnya Rose makan membuat Michelson yang melihatnya terheran-heran.
"Apa setiap wanita hamil seperti ini jika sedang kelaparan?" batin Michelson.
*******
*******
Michelson termenung kembali, dia memikirkan mamahnya.
"Daddy, apa yang kamu pikirkan lagi?"
"Mom, kenapa sampai detik ini aku belum menemukan keberadaan mamah ya? padahal aku sangat merindukannya."
Rose sangat iba pada suaminya.
"Apakah sebaiknya aku ceritakan saja sekarang pada suamiku? kasihan juga dia ingin bertemu mamahnya," batin Rose di liputi oleh rasa resah dan gelisah.
"Mommy, apakah sebenarnya mamah telah meninggal ya? jika iya, dimana makamnya?"
"Belum, Daddy. Mamah mu masih hidup kok." Tiba-tiba Rose keceplosan dengan perkataannya.
"Mommy, apa yang barusan kamu katakan? memangnya kamu tahu apa tentang mamahku?" Michelson memicingkan alisnya.
"Anu, Daddy..hemmm.. sebenarnya aku tahu semuanya. Sejak kamu cerita tentang Mamah Berta padaku waktu itu. Aku diam-diam ikut mencarinya untukmu. Dan aku telah berhasil menemukannya. Tapi saat ini aku sengaja menyembunyikannya karena ada beberapa pihak yang ingin mencekalai dirinya."
"Mommy, apa kamu sedang bercanda atau mengigau? aku kan sama sekali tak pernah menunjukkan seperti apa wajah mamah padamu. Lantas bagaimana kamu bisa menemukannya? sedangkan, Om Jason saja sampai saat ini belum berhasil menemukan, mamah."
"Daddy, ada yang tak kamu tahu tentang Jason dan anaknya. Mereka itu bukan manusia yang baik."
"Mommy, Reyhan itu sahabat baikku. Dan Om Jason sahabat baik almarhum papah."
Rose akhirnya menunjukkan sebuah bukti yang akurat pada, Michelson. Sebuah video dimana Mike mengatakan semua tentang kejahatan Jason.
"Ceritanya sangat panjang, Daddy. Sudah aku katakan padamu kan barusan, aku sengaja menyelidiki semuanya tanpa sepengetahuanmu."
"Hem, apakah aku bisa bertemu dengan Paman Mike atau mamahku?"
"Aku belum percaya semuanya jika aku tak mendengar sendiri dari mulut Paman Mike atau mamah, tentang kejahatan yang telah di lakukan oleh Om Jason dan Reyhan."
"Jadi Daddy tak percaya dengan bukti rekaman video ini? tahu seperti ini aku akan tetap tutup mulut hingga, Mamah Berta benar-benar pulih."
Ada rasa kecewa pada diri, Rose.
"Mommy, aku minta maaf. Bukan maksud aku seperti itu. Aku ingin bertemu dengan, Paman Mike. Bisakah kamu antar aku menemuinya. Aku juga ingin berbicara langsung dengan dirinya supaya lebih jelas."
"Baiklah, besok pagi kita ke suatu tempat untuk menemui, Paman Mike. Tetapi kita jangan menggunakan mobilmu. Karena aku sangat yakin, Jason terus saja mengamati gerak gerik kita."
"Penyerangan yang selalu terjaga pada kita adalah ulahnya."
"Jika memang seperti itu, aku tidak akan memaafkan ayah dan anak itu!" Michelson mengepalkan tinjunya.
"Suamiku terlalu sibuk dengan urusan kantor. Hingga dia melupakan hal penting, yakni waspada." Batin Rose.
******
Pagi menjelang, kini Michelson dan Rose pergi ke desa di mana bersembunyi, Paman Mike.
Sebelum pergi, Rose meminta Celine untuk mengecoh Jason dan Reyhan.
"Celine, ada tugas untukmu. Kamu alihkan perhatian bapak dan anak. Sementara aku dan suamiku akan pergi ke desa yang waktu itu aku datangi bersamamu. Supaya mereka tidak bisa mengikuti kami."
"Baik, nona. Saya akan langsung mendatangi rumah mereka."
"Ingat selalu ya, waspada dan jangan bertindak ceroboh."
"Siap, nona."
Saat itu juga, Celine langsung pergi ke rumah Jason pagi-pagi sekali. Michelson terperangah saat Rose memerintahkan Celine.
"Mommy, jadi selama ini kamu dan Celine bekerja sama dalam hal ini dan aku tak tahu sama sekali tentang aktivitas kalian berdua selama ini!"
"Hhee iya, Daddy. Itu karena Daddy terlalu sibuk dengan urusan kantor."
Michelson berdecak kagum akan kepiawaian dan kecerdasan istrinya.
"Mommy, aku nggak menyangka kamu sejauh ini dalam bertindak. Padahal ini urusan berbahaya loh, dan kamu ini wanita, sedang hamil pula."
"Memangnya kenapa jika aku ini seorang wanita? aku mampu kok hadapi ini dan nyatanya aku berhasil kan menemukan keberadaan, Mamah Berta."
"Jangan karena aku ini wanita, Daddy menganggap sepele kekuatan yang dimiliki oleh wanita. Terpenting itu punya otak yang cerdik, Daddy."
Rose sedikit tersinggung dengan perkataan suaminya.
"Mommy, tolong jangan marah. Aku minta maaf ya. Ya aku percaya kok, istriku ini bukanlah seorang wanita lemah, melainkan istriku ini bak wonder woman."
Rose hanya melirik sinis pada suaminya tanpa mengatakan sepatah kata lagi. Kini mereka hanya diam seribu bahasa menikmati perjalanan menuju ke suatu desa yang letaknya memangnya agak jauh.
Setelah beberapa jam perjalanan, akhirnya mereka sampai juga di sebuah rumah. Akan tetapi mereka tersentak kaget karena kondisi rumah begitu berantakan.
"Sialan, pasti Jason telah berhasil menemukan tempat persembunyian ini!" batin Rose.
Rose berkeliling sekitarnya untuk mencari sebuah bukti. Dan dia sempat melihat beberapa tulisan di dinding rumah tersebut.
"JIKA KAMU INGIN NYAWA DUA LELAKI DI RUMAH INI SELAMAT, TEMUI SEGERA DI ALAMAT YANG TERTERA DI BAWAH INI!!!!!!!"
"Daddy sepertinya ada yang mendahului kita datang ke sini."
"Lantas kamu curiga pada, Om Jason dan Reyhan?"
"Jelaslah, aku khawatir mereka akan menyakiti, Paman Mike dan Tuan Rangga. Karena Paman Mike saksi kunci dimana dia tahu segala kejahatan Jason terutama yang di lakukan pada, almarhum papahmu."
Mata Michelson membola mendengar apa yang tengah di katakan oleh istrinya.
******