
Setelah selesai membayar semua belanjaan Rey di kasir, Michelson melenggang pasti merangkul Rey membawanya ke mobilnya. Akan tetapi kembali lagi langkah mereka terhenti oleh satu panggilan yang tak asing lagi bagi, Rey.
"Rey, tunggu mamah ingin bicara sebentar saja," pintanya lantang.
Hingga akhirnya Rey pun menghentikan langkahnya, dan menoleh ke arah Linda yang tengah ngos-ngosan berlari mengejar dirinya.
"Rey, mamah selama ini mencarimu. Kamu kemana saja dan bagaimana bisa bersama dengan om tampan ini?" tanya Linda seraya melirik genit ke arah Michelson.
Belum juga Rey menjawab, Michelson pun menyela pembicaraan.
"Rey, om tunggu di mobil ya kalau kamu sudah berbicara dengan mamahmu ini." Ucap Michelson seraya melangkah menuju ke arah mobilnya.
"Tuan, tunggu. Saya juga ingin berbicara dengan Anda," Teriaknya tetapi Michelson sama sekali tak merespon panggilan Linda.
Dia memang sudah seperti ini sejak dulu kala sejak masih lajang. Dia hanya bersikap manis dan romantis hanya pada Rose istrinya, tidak dengan wanita lain.
"Mah, katakan apa yang ingin mamah katakan karena aku tak punya waktu lama lagi," ucap Rey ketus.
"Rey, kenapa kamu tiba-tiba pergi dari rumah?" tanya Linda penasaran.
"Karena aku muak dengan mamah yang selalu melakukan kejahatan. Aku tak ingin punya seorang mamah yang jahat," ucapnya singkat.
"Rey, kenapa kamu mengatakan jika mamah ini jahat? mamah melakukan hal yang wajar yang memang seharusnya mamah lakukan. Mamah harus merebut hak milik yang seharusnya menjadi milik mamah bukan milik orang lain yang baru datang di kehidupan almarhumah Oma kamu," ucap Linda masih saja membenarkan apa yang di lakukannya.
"Mah, apa yang almarhumah Oma punya itu murni punya beliau bukan punya mamah. Lagi pula itu bukan sepenuhnya milik mamah, almarhum papahlah yang berhak dengan harta milik Oma," ucap Rey.
"Rey, jika semua milik almarhumah jatuh ke tangan mamah secara tidak langsung kelak juga akan menjadi milikmu," ucap Linda mencoba menyakinkan Rey bahwa apa yang di lakukan dirinya adalah suatu kebenaran.
"Sudah ya, mah. Aku tak ingin berdebat lagi dengan mamah. Aku mau kembali jika mamah benar-benar telah berubah menjadi orang yang benar dan tak melakukan suatu kejahatan lagi."
Rey melenggang pergi akan tetapi Linda menahan kepergian anaknya itu.
"Rey, mamah belum selesai berbicara. Kamu tak sopan sekali pada mamahmu ini? kamu ini seorang anak jadi tak berhak mengatur perilaku orang tua. Justru orang tua yang boleh dan wajib mengatur anaknya. Jika seorang anak tak patuh pada seorang ibu, dia sama saja menjadi seorang anak durhaka. Ap kamu mau di cap sebagai seorang anak durhaka?" ucap Linda.
"Mah, peran anak itu bukan hanya menurut pada orang tuanya. Seorang anak yang baik justru selalu mengingatkan dan menegur orang tuanya jika berbuat suatu kesalahan dan dosa, karena anak tak ingin orang tuanya semakin terjerumus dalam lembah hitam."
"Dan tidak ada istilah durhaka bagi anak yang hanya ingin menyadarkan ibunya yang semakin jauh melangkah ke jalan yang salah."
Setelah mengucapkan hal itu, Rey tak ingin berlama-lama lagi karena tak enak jika Michelson terlalu lama menunggu dirinya.
"Om, aku minta maaf ya. Om jadi lama menunggu aku," ucap Rey merasa tak enak hati.
"Nggak apa-apa, Rey. Jika kamu ingin tinggal lagi dengan mamahmu, om juga tidak akan melarangnya. Bagaimanapun dia adalah mamah kandungmu yang telah melahirkan dan merawat dirimu," ucap Michelson.
"Om, apa aku sudah tidak di izinkan tinggal di rumah om? hingga Om mengatakan hal seperti ini, ya sudah aku kembali lagi pada mamah walaupun sebenarnya aku tak ingin," Rey tersinggung dan akan keluar dari mobil Michelson.
"Hey, boy. Kenapa sikapmu seperti perempuan saja, pake acara ngambek? Om kan hanya bicara bukan berarti om tak ingin kamu lebih lama tinggal di rumah om. Selamanya kamu di rumah om juga tidak keberatan," ucap Michelson terkekeh melihat tingkah Rey.
"Maafkan aku ya, om. Jujur saja ya om, aku tidak akan pulang ke rumah jika sikap mamah belum bisa berubah juga. Jadi aku boleh kan misalkan tinggal di rumah om dalam jangka waktu yang lama?" pertanyaan Rey adalah suatu pertanyaan yang tak perlu dengan jawaban karena itu yang barusan di katakan oleh Michelson.
"Haduh, sudahlah. Ayok kita pulang, pikiranmu sedang tidak fokus," ucap Michelson langsung saja melajukan mobilnya.
Linda pun segera mengikuti laju mobil mewah tersebut karena ingin tahu dimana saat ini Rey tinggal. Linda sama sekali tak tahu jika Michelson adalah suami dari Rose wanita yang selama ini telah menjadi incaran dirinya.
"Mobilnya saja mewah, pasti dia adalah adalah orang kaya. Lantas bagaimana bisa Rey berkenalan dengan pria tampan itu ya? tapi nggak apa-apa siapa tahu saja pria tampan itu menjadi papah sambung Reynaldi," gumamnya lirih seraya senyam-senyum sendiri.
Linda adalah wanita pendatang sehingga dia sama sekali tak tahu jika Michelson adalah salah satu pengusaha sukses yang ada di kota tersebut. Hanya almarhum suami Linda saja yang tahu akan hal ini.
Tak berapa lama sampai juga Michelson di depan pintu gerbang mension mewahnya. Linda semakin terpana melihat akan hal itu.
Tetapi dia sejenak langsung memicingkan alisnya pada saat melihat wanita yang tak asing lagi baginya. Seorang wanita yang ada di sebuah mobil berpapasan dengan mobil yang di tumpangi Rey.
"Sialan, bukannya itu Rose? bagaimana Rose ada di rumah itu? lantas ada hubungan apa Rose dengan pria tampan itu?"
Linda semakin penasaran hingga dia terus saja mempertajam penglihatannya. Nampak Rose turun dari mobilnya dan menghampiri mobil yang di tumpangi oleh Michelson.
Michelson lekas kelua dari mobilnya dan menghampiri Rose memeluk dan mencium bibir serta kening Rose. Bahkan Michelson juga mencium perut buncit Rose.
"Astaga, apakah pria itu adalah suami Rose? sialan, kenapa bisa wanita barbar seperti Rose memiliki suami kaya dan tampan? bagaimana bisa pria itu mau menikah dengan wanita barbar seperti, Rose? "
"Bagaimana pula anakku bisa bersama Rose dan bahkan tinggal bersama mereka? haduh, pupus sudah harapan aku untuk bisa meluluhkan pria tampan itu. Jika aku berhadapan langsung dengan Rose itu tidak akan mungkin."
"Dia sangat menyeramkan sekali, aku tak ingin mendapatkan perlakuan kasar lagi. Jika begini kesempatan aku untuk menjebak Rose ke kantor polisi."
Linda sejenak tersenyum tetapi sejenak murung. Dia pun melajukan mobilnya menuju ke kantor polisi. Entah apa yang ingin dia lakukan di kantor polisi tersebut.