
Rose tambah kesal karena suaminya malah menertawakan dirinya.
"Ckckckck...kok kamu malah menertawakan aku sih?mau aku tonjok apa mulutmu itu?" Rose sudah mengepalkan tangannya di hadapan Michelson.
Michelson menghentikan tawanya saat melihat istrinya itu mulai kesal dengan dirinya. Kemudian ia memeluk pinggang Rose erat dan meletakkan dagunya di atas bahu istrinya itu.
"Aku mencintaimu apa adanya, kamu tak perlu repot-repot melayaniku cukup seperti biasanya saja dan tetap berada di sampingku saja aku sudah sangat senang, sayang. Lagi pula kamu kan sedang tak enak badan jadi mana tega sih aku bangunin kamu yang sedang sakit." Michelson sesekali mengecup pipi istrinya itu sayang...
"Aku kan juga mau seperti istri-istri yang lainnya, Daddy. Lagi pula aku sudah sembuh kok." Rose mengusap rahang suaminya itu perlahan. Orang yang melihat itu pasti merasa iri dengan keromantisan mereka berdua.
"Iya aku tahu tapi tidak di saat tubuh kamu sedang sakit seperti ini, sekarang duduk diamlah karena aku akan mengambilkan bubur yang aku buatkan tadi pagi. Aku akan menyuapimu, mommy sayang."
Michelson memperlakukan Rose bagaikan ratu. Bukan hanya di hatinya tapi juga di hidupnya, wanita mana yang tak leleh dengan hal tersebut.
"Kamu memasak lagi untukku, Daddy?" tanya Rose tak percaya Michelson akan memasakkan makanan lagi untukku dirinya seperti pada saat itu.
"Iya, kamu kan mengatakan sendiri malam itu kalau kamu mau memakan masakanku setiap hari jadi ya aku penuhi keinginan istriku yang cantik ini." Michelson mencium kening Rose mesra. Rose hanya diam, dia merasa sangat beruntung mempunyai suami seperti Michelson.
Padahal di awal menikah, dia mengira Michelson adalah sosok pria yang sangat dingin dan tak romantis. Tetapi ternyata anggapan itu hanya berlaku untuk orang lain tapi tidak untuk dirinya.
Bersama Michelson, dirinya merasa di cintai di sayangi begitu tulusnya. Kadang dia berpikir apakah cinta yang tulus ini akan terus berlanjut hingga dia sudah menua.
"Ya sudah, aku ambilkan buburmu sebentar ya." Michelson berlalu pergi meninggalkan Rose sendirian di kamarnya.
Tiba-tiba Rose merasa sangat terharu saat dia tiba-tiba teringat masa lalunya dulu yang penuh dengan derita saat hidup bersama papah dan mamah tiri serta adik tiri, dan dia ingat penghianatan, Raymond padanya.
Rose menangis menangkupkan kedua tangannya menutupi wajahnya.
"Kamu kenapa, mommy?" tanya Michelson yang buru-buru datang menghampiri istrinya itu yang tampak sesenggukan karena menangis.
"Tidak apa, Daddy." Rose langsung mengusap air matanya karena tak ingin Michelson curiga padanya.
"Bohong, kalau tak ada apa-apa kenapa kamu menangis?" Michelson masih menatap istrinya itu penuh selidik sementara yang di tatap mengalihkan pandangannya pada bubur yang saat ini berada di tangan suaminya.
"Wah, kelihatannya bubur ini enak sekali. Aku sudah tak sabar ingin mencicipinya," Rose berusaha mengalihkan perhatian Michelson akan tetapi Michelson tak mau mengalihkan pandangannya darinya.
"Jangan mengalihkan pembicaraan, aku tanya sekali lagi. Kamu ini sebenarnya kenapa, mommy?" Michelson masih saja penasaran dengan apa yang membuat istrinya itu menangis.
"Aku hanya merindukan mamah," Rose terpaksa berbohong karena hanya alasan itu yang masuk akal untuk menutupi semuanya dari suaminya.
"Hem, jika ingin berkunjung ke makam katakan saja tak perlu menangis seperti ini. Aku akan selalu siap sedia menemanimu kapan saja kamu mau, mommy sayang." Michelson mengusap pipi Rose dengan sangat lembutnya.
Ya sungguh menyayangi, Rose hingga tak ingin wanitanya itu bersedih walau hanya untuk sesaat saja.
"Mommy, urusan kantor biar di handle oleh anak buahku. Lagi pula kebetulan di kantor sedang santai kok. Tidak ada dateline atau pertemuan penting dengan klien jadi bisa di wakilkan oleh anak buahku," tukas Michelson tersenyum manis.
"Baiklah, jika kamu ingin menjenguknya maka aku akan mengantarmu. Ya sudah sekarang kamu makan ya, meskipun kamu sedih tetapi kamu harus makan agar kamu segera sembuh."
"Ingat ada anak kita loh di perutmu, mommy. Janganlah kamu terus bersedih, nanti anak kita turut sedih juga. Ayok buka mulutnya...aku akan menyuapimu."
Michelson sangat perhatian, Rose membuka mulutnya perlahan dan suaminya memasukkan bubur di sendok yang di pegang ke dalam mulut Rose.
"Bagaimana enak tidak?" tanya Michelson setelah memberikan suapan pertama untuk istri tercintanya itu.
"Kali ini sedikit asin, tapi tak apa tetap enak. Atau jangan-jangan kamu ingin menikah lagi ya, daddy? buktinya makanan yang kamu buat ini asin." Rose menatap Michelson penuh selidik, sementara Michelson malah terkekeh pelan.
"Kamu ini masih saja percaya dengan tahayul itu. Aku mana mungkin menikah lagi sih, mommy sayang. Aku mencintaimu hanya mencintaimu, jadi mana mungkin aku menikahi wanita lain sedangkan aku hanya mencintaimu seorang." Ucap Michelson membuat Rosee memutae bola matanya malas.
"Sepertinya kamu harus banyak makan garam, Daddy."
Perkataan Rose membuat Michelson bingung.
"Kenapa, aku kan tidak punya penyakit gondongan jadi untuk apa aku mengkonsumsi banyak garam?" Michelson heran dengan saran yang diberikan oleh istrinya itu.
"Agar mulutmu tak terlalu manis kalau berucap."
"Hahahaha kamu ada-ada saja, mommy. Ya sudah buka mulutmu lagi kan makanannya belum habis."
Rose menurut, dia membuka mulutnya dengan lebar, sementara Michelson menyuapi istrinya dengan sangat tekun. Meski ia harus ke kantor, akan tetapi ia menunggu sampai makanan istrinya itu habis dulu karena baginya tak ada yang lebih penting selain istrinya.
Setelah bubur yang di piring benar-benar habis, barulah Michelson berangkat ke kantor. Rose merasa jenuh karena tak beraktivitas beberapa hari di rumah saja.
Dia pun memutuskan untuk keluar rumah, akan tetapi dia meminta Celine menemaninya.
"Non, apakah kita akan ke butik dan garmen. Memangnya, non sudah sehat?" tanya Celine penasaran.
"Iya, Celine. Aku suntuk di rumah terus."
Saat itu juga Celine melajukan mobilnya menuju ke butik terlebih dulu. Setelah cukup lama berada di butik, Celine melajukan mobilnya menuju ke garmen.
Dan pada saat berada di garmen ada kejadian di luar dugaannya. Banyak orang-orang yang ad di garmen lari tunggang langgang. Karena garmen tersebut terbakar hebat.
"Celine, kenapa ini bisa terjadi? kenapa tidak ada yang melaporkan hal ini padaku? siapa pula yang melakukan hal ini? masa iya pagi-pagi ada yang membakar garmenku?" Rose terbelalak matanya melihat kebakaran besar terjadi di garmennya.
"Nona Rose, maafkan kami. Kami belum sempat melaporkan hal ini pada anda. Karena kami baru sempat menghubungi pemadam kebakaran dan menyelamatkan barang-barang yang di rasa penting." Laporan seorang karyawan garmen pada Rose.