Wonder woman

Wonder woman
Kesombongan Siska



Tak terasa sudah satu bulan, Siska bekerja di kantor Berto. Dan kini Berto telah jatuh cinta padanya hanya karena Sindy begitu dekat pada, Siska.


Tetapi pada saat Siska baru tahap pacaran dengan, Berto. Siska telah berubah bersikap pada, Sindy.


"Heh, untuk apa kamu dekat-dekat denganku..Pergi sana, aku tak mau dekat denganmu lagi!" bentaknya pada Sindy.


"Ka Siska, kenapa sekarang jadi galak padaku? padahal dulu kakak begitu baik padaku?" mata Sindy berkaca-kaca.


"Kamu pikir aku benar-benar sayang padamu? asal kamu tahu, nanti jika aku sudah menikah dengan daddymu. Aku akan membuangmu jauh-jauh supaya tak mengganggu kebahagiaanku dengan daddymu! kamu ini hanya akan membuat Daddy tak bahagia!" bentak Siska.


Tak berapa lama datanglah Berto menghampiri Siska.


"Sayang, apa kamu sudah siap? loh kamu kenapa ketakutan seperti itu, Sindy?" Berto menatap Sindy heran.


Sementara Siska melotot ke arah Sindy tanpa sepengetahuan Berto.


"Aku tidak ikut, Daddy.Aku ngantuk mau tidur saja," ucap Sindy langsung melangkah menuju ke kamarnya.


"Biarkan saja, sayang. Ini kan sudah malam makanya dia sudah mengantuk," tukas Siska..


"Hem, baguslah. Jadi tidak ada yang mengganggu kencan aku dengan, Berto," batin Siska sumringah.


Dia sudah tak sabar lagi ini ingin menjadi pendamping Berto supaya dia bisa menyingkirkan Sindy.


Berto mengajak Siska untuk makan malam di sebuah restoran termahal di kota tersebut.


Bahkan sejak mereka berpacaran Siska lebih banyak menghabiskan waktu tinggal di rumah Berto daripada di rumahnya sendiri.


Tetapi dia tetap bekerja di perusahaan Berto akan tetapi kali ini dia bukan lagi menjadi karyawan biasa melainkan menjadi sekretaris pribadi Berto.


Sementara saat ini Sindy sedang menangis di dalam kamarnya dan sedang ditenangkan oleh baby sitter nya.


"Sudahlah nona kecil janganlah menangis terus. Nanti Mbak Tuti yang akan cerita pada Deddy supaya menasehati Non Siska untuk tidak bersikap kasar pada nona kecil."Tuti memeluk momongannya tersebut dengan penuh kasih sayang.


"Jangan, Mbak Tuti. Nanti kalau Mbak Tuti mengadu pada Deddy nanti aku kena omelan lagi sama, Kak Siska."


"Nona kecil tak perlu takut, jika Non Siska tidak diadukan pada Deddy, nanti dia akan semakin bertambah jahat pada non kecil."


******


Pagi menjelang seperti biasanya Siska berangkat ke kantor bersama dengan, Berto. Karena dia lebih nyaman tinggal di rumah mewah, Berto daripada tinggal di rumah peninggalan orang peninggalan orang tua dari Rose.


Akan tetapi sikap Siska terhadap teman-temannya yang di kantor sudah berubah drastis. Dia kini sombong karena merasa dirinya ini lebih berkuasa sejak menjadi kekasih, Berto.


Bahkan pada rekan kerjanya dulu yang bernama Resty dia sama sekali tak pernah bertegur sapa.


"Heran, sejak Siska menjadi kekasih Tuan Berto. Dia bersikap sombong dan angkuh bukan hanya padaku tapi juga pada rekan sesama karyawan dulu," batin Resty.


"Aku tak menyangka jika Siska secepat ini bisa berubah sifatnya. Padahal baru menjadi kekasih belum menjadi istri, tapi gayanya sudah seperti seorang nyonya besar," batin Resty kesal.


"Ya ampun, Siska. Kenapa sekarang kamu jadi berubah seperti ini? padahal kamu belum tentu menjadi istrinya, Tuan Berto," ejek Resty.


"Heh, jaga bicaramu ya? kita lihat saja, jika aku sudah menjadi istri dari Tuan Berto, aku akan memecat mu tanpa aku kasih pesangon sama sekali!'


Setelah mengucapkan hal itu, Siska berlaku pergi ke ruang kerjanya. Resty yang melihat hal itu hanya bisa menggelengkan kepalanya seraya menghela napas panjang.


Tak terasa sore menjelang namun sore ini Siska dihubungi oleh Paman Sam untuk segera pulang ke rumah karena ada yang ingin dibicarakan dengan dirinya.


"Sayang, aku minta maaf sore ini aku izin pulang ke rumahku karena baru saja Paman Sam menghubungi aku katanya ada sesuatu yang penting yang ingin dibicarakan denganku secara langsung," tutur Siska bergelayut manja di pundak Berto.


"Tidak apa-apa sayangku tapi aku minta maaf aku tidak bisa mengantarmu karena aku juga masih banyak urusan yang harus aku selesaikan dengan segera," tukas Berto.


Saat itu juga Siska pulang ke rumah dengan mengemudikan mobil pemberian dari Berto. Setelah menempuh perjalanan cukup lama yakni tiga puluh menit, akhirnya sampai juga di rumah peninggalan orang tua, Rose.


"Paman, ada apa sih minta aku kemari?" tanya Siska ketus.


"Siska, Paman sedang sakit . Dan Paman tak punya uang sepeserpun untuk ke dokter. Pasti kamu punya banyak uang kan? beri pamanmu ini uang untuk bisa pergi ke dokter," tukas Paman Sam dengan wajah memelas.


"Paman, memangnya uang yang aku berikan kemarin sudah habis? kenapa Paman jadi orang boros amat sih?" tukas Siska ketus.


"Siska, kebutuhan Paman banyak. Makanya uang darimu sudah habis, jangan pelit-pelit sama pamanmu ini."


Hingga akhirnya Siska memberikan sejumlah uang pada, Paman Sam.


"Terima kasih keponakan aku tersayang. Bagaimana hubunganmu dengansi milyader itu? apakah sudah akan di tentukan pernikahanmu dengannya?" tanya Paman Sam sambil menggenggam uang pemberian dari Siska.


"Baru satu bulan aku jalani hubungan dengannya, Paman. Masa aku sudah minta di nikahi?"


"Bodoh sekali dirimu, seharusnya kamu jebak dia dengan kamu katakan hamil anaknya atau bagaimana supaya kalian lekas bisa menikah! apa kamu mau dia berpindah ke lain hati?" tukas Paman Sam.


"Bagaimana aku akan hamil, Paman? aku sudah berkali-kali menggodanya untuk melakukan hubungan suami istri, tapi dia tak pernah mau. Walaupun aku sering menginap di rumahnya, tetapi aku tidur di kamar tamu," tukas Siska.


"Pakai otakmu dong, kasih dia obat tidur atau obat yang membuat hasratnya tinggi dan tak tertahankan sehingga dengan suka rela dia memintanya terlebih dahulu padamu."


Paman Sam mengajarkan hal buruk pada, Siska. Sejenak Siska pun tersenyum. Dia akan melakukan saran dari pamannya tersebut. Karena dia juga sudah ingin menjadi orang kaya.


"Terima kasih, Paman atas idenya yang sangat luar biasa. Aku akan segera melakukan ide bagus dari paman ini."


Sementara saat ingin Berto pulang ke rumah. Dan dia langsung mendapatkan pengaduan dari, Mba Tuti. Awalnya Berto tak percaya dengan segala yang di katakan oleh baby sister, Sindy.


"Oh iya, aku kan memasang CCTV di setiap ruangan. Aku akan coba mengeceknya lewat rekaman CCTV, apakah yang di katakan tentang Siska eh, Mba Tuti itu benar adanya."


Saat itu juga Berto membuka ponselnya dan melihat rekaman Video CCTV setiap ruangan. Dan dia begitu kaget pada saat melihat di ruang tamu, Siska sedang marah-marah pada, Sindy.


"Hem, jadi seperti ini sifat aslimu Siska. Aku pikir kamu janda yang baik, untung saja hubungan aku denganmu belum begitu jauh. Walaupun tiap kali, kamu sering memancing aku melakukan hubungan suami istri."


Berto mengepalkan tinjunya, dia begitu sangat marah.