
Esok harinya setelah bertemu dengan pengacaranya, Michelson sudah menandatangani berkas pemindahan perusahaan dan hari ini juga dia akan menjabat sebagai seorang komisaris bukan CEO lagi.
"Mommy, tolong pasangkan dasiku."
Pinta Michelson pada Rose.
Dengan senang hati Rose memasangkan daai untuk suaminya, akan tetapi pada saat sedang mesang dasi, Michelson memeluk pinggang Rose hingga kini tak ada jarak diantara mereka.
"Daddy, ini dasi mau di pasanga atau tidak? jika seperti ini aku akan kesusahan memangnya."
Rose sewot memanyunkan bibirnya.
"Hhee maaf, sayang. Aku selalu genas padamu jika tak memelukmu sebentar saja rasanya tak bisa," ucap Michelson terkekeh lalu melepaskan pelukannya.
"Hem, pagi-pagi sudah lebay. Sudah ah, aku tak mau memasangkan dasinya." Rose berubah pikiran dan membiarkan dasi tersebut melingkar saja di leher Michelson.
"Ckckck..ayohlan mommy sayang. Aku juga ingin seperti laki-laki lain yang di layani oleh istrinya. Bukan hanya di atas ranjang saja, tetapi juga untuk yang lainnya."
Wajah Michelson mengiba seraya menangkupkan kedua tangannya.
"Hem..makanya nggak usah ngerayu di pagi hari pake acara lebay seperti itu dech.."
Rose menghampiri suaminya lagi dan melanjutkan memasangkan dasinya hingga selesai.
"Mommy, anak kita sudah berapa bulan di dalam perutmu ini?" Michelson mengusap perut istrinya.
"Baru tiga bulan, Daddy. Masih butuh waktu enam bulan lagi utama Dede bayi berada di perutku," tukas Rose terkekeh.
"Sehat-sehat selalu ya, mommy dan Dede bayi. Aku sudah nggak sabar ingin sekali menimangnya. Oh ya, mommy. Nanti kita jenguk mamah ya, apakah sudah ada perkembangannya atau belum?" Sejenak Michelson teringat mamahnya.
"Sejauh ini sudah, Daddy. Saat ini mamah sudah bisa duduk di kursi roda dan mulai menggerakkan anggota tubuhnya secara perlahan. Hanya dia sampai detik ini belum bisa berbicara, mungkin rasa trauma dan ketakutannya akibat perlakuan Jason dulu," tukas Rose.
"Mommy, kenapa kamu tak berkata tentang kemajuan mamah?" Michelson mengerutkan dahinya.
"Padahal aku berniat memberikan kejutan padamu jika mamah udah sembuh total. Tetapi kamu sudah bertanya dulu. Nanti jika Jasondan Reyhan telah di tangkap aparat polisi, sering-seringlah jenguk mamah." Rise menyarankan.
"Bukan sering lagi, mom. Aku akan pindahkan mamah ke rumahku saja supaya dia tak kesepian berada di villamu," tukas Michelson.
"Lagi pula pagi ini juga aparat polisi akan menyeret Jason dan Reyhan."
"Hem, apakah aku boleh ikut ke kantor karena aku ingin melihat hal itu?" pinta Rose.
"Boleh, sayang."
"Sudah selesai ya pasang dasinya, aku mau ganti baju."
Akan tetapi pada saat Rose akan beranjak pergi, Michelson menahannya.
"Belum selesai, mom. Masih ada yang kurang." Michelson memperhatikan wajah cantik yang ada di hadapannya. Sementara Rose mengerutkan dahinya, ia tak mengerti dengan apa yang Michelson katakan.
"Apa yang kurang, Daddy?" tanya Rose yang merasa tak ada yang kurang dengan penampilan Michelson.
"Ini...." Michelson menunjuk pada pipinya, ia ingin meminta sebuah ciuman di pipi.
"Astaga, galak amat. Masa suami mau di tonjok, di sayang kek atau bagaimana? anggap saja sebagai penyemangat untuk hari baruku, sebagai komisaris nanti," ucap Michelson membuat Rose menghela napas panjang kemudian ia menurut dan mencium pipi suaminya dengan cepat.
"Kok cuma di pipi, mom? kan ini belum?" tunjuk Michelson pada bibirnya seraya mengedipkan matanya genit pada istrinya.
"Astaga, di kasih hati malah minta jantung."
Rose kesal akan tetapi menarik dasi suaminya dan mendekatkan wajah pria itu kehadapannya. Kemudia ia menyesap dan mel*m*at bibir pria dihadapannya secara perlahan. Michelson tak menyia-nyiakan kesempatan langsung membalas dan memeluk tubuh Rose erat....
Mereka sama-sama menikmati ciuman tersebut bahkan tangan Michelson mulai nakal merayap menuju dua bulatan kenyal kesukaannya.
Namun saat Michelson membuka kancing baju Rose satu persatu, justru Rose langsung menampik tangan suaminya. Secepat kilat, Rose melepaskan ciumannya.
"Daddy, katanya cuma ciuman kenapa jadi merembet kemana saja. Sudahlah ini sudah siang, nanti aku tak sempat menyaksikan Jason dan Reyhan di seret aparat polisi."
Rose segera menjauh dari suaminya dan melangkah ke almari untuk mengambil baju, dia akan berganti pakaiannya dan lekas melangkah ke arah kamar mandi.
"Mommy, tangggung...sedikit lagi dong.."
"Dasar mesum...nanti malam kan bisa. Ini waktunya sudah mepet, Daddy." Teriak Rose di dalam bilik kamar mandi.
Michelson hanya bisa menghela napas panjang. Dia sudah merasakan adiknya sudah kena sengat aliran listrik. Kini sudah tegak berdiri tetapi seperti ini, batinnya kesal.
Tak berapa lama, mereka kini telah keluar dari kamar dan langsung masuk ke mobil yang telah terparkir di halaman rumah. Roy sudah siap di balik kemudinya.
Setelah pasti kedua majikannya masuk ke dalam mobil, Roy melakukannya. Hanya beberapa menit saja mereka telah sampai di kantor, Michelson.
Baru saja turun di halaman kantor, mereka sudah harus melihat pemandangan yang sangat menakjubkan.
"Tolong jangan bawa kami pak ...kami tak bersalah." Jason merengek membujuk aparat polisi untuk tidak menangkapnya.
"Nanti di jelaskan saja di kantor, Tuan. Saat ini kalian berdua harus ikut kami lebih dulu !" tukas salah satu aparat polisi yang sedang menyeret Jason keluar dari kantor, Michelson.
"Ada apa ini?" tanya Michelson yang sudah ada di hadapan Jason, dan juga polisi yang sedang menjalankan tuga penangkapan itu.
"Ini, Tuan...kami mendapatkan tugas untuk menangkap aTuan Jason dan Tuan Reyhan atas dugaan pembunuhan terhadap ayah anda, Tuan Mark." Ucap salah satu dari aparat polisi yang bertugas dengan menyerahkan surat penangkapan kepada, Michelson. Kemudian Michelson terdiam, dia menatap ke arah Jason dan Reyhan.
"Nak, tolong maafkan kami. Tolong cabut tuntutan itu nak...kami mohon. Aku tahu pasti istrimu yang telah melaporkan kami ke polisi kan, tolong bujuk dia untuk mencabut tuntutannya ini semua salah paham, nak." Mohon Jason seraya berlutut dihadapan Michelson.
"Maaf ya ..kalian pikir mudah memaafkan kalian begitu saja, apa kalian tak pernah berpikir jika yang kalian lakukan itu sungguh kejam! kalian membunuh papahku, dan kalian juga akan mencoba membinu ibuku dan saksi mata lainnya! dan membiarkan anaknya hidup dalam kebodohan karena tak tahu tentang kematian papahnya sendiri!"
"Kalian juga telah merenggut kebahagiaan anak itu, hanya demi harta. Apa menurut kalian itu pantas di maafkan! tidak."
"Aku tak akan pernah memaafkan kalian, aku harap kalian membusuk tinggal di dalam penjara hingga ajal menjemput kalian."
"Bawa saja mereka, pak! kalau perlu berikan hukuman yang seberat-beratnya pada mereka."
Michelson sama sekali tak mau memaafkan ayah dan anak yang telah membunuh papahnya.
*******