
Sejak garmen alami kebakaran, Rose lebih waspada supaya butiknya juga tidak alami hal yang sama. Dia mengerahkan anak buahnya baik yang benar-benar terlihat, ataupun yang ada di balik persembunyian.
"Ingat ya, kalian harus benar-benar berjaga di butik ku. Jangan pernah menampakkan diri di muka umum, tapi juga harus bisa menjaga butikku dari balik persembunyian kalian," tukas Rose
"Baik, bos. Kami akan selalu waspada supaya tidak terjadi hal buruk pada butik anda," tukas salah satu anak buahnya.
Setelah memerintah anak buahnya, Rose kembali ke mensionnya. Dia ingin istirahat sejenak.
"Celine, lekas kemudikan mobil arah pulang ya."
"Siap, nona."
Celine melajukan mobilnya arah pulang, dia belum memikirkan untuk membangun kembali garmennya. Lagi pula dia belum pulih benar.
Hanya beberapa menit saja telah sampai di pintu gerbang mension Michelson. Segera security membuka pintu gerbangnya.
Terlihat Mamah Berta sedang duduk di teras halaman di temani oleh sang perawatnya.
"Mah, sudah makan siangkah?" Rose mencium punggung tangan mamah mertuanya.
Mamah Berta mengusap surai hitam Rose dengan lembut di sertai anggukan kepala dan senyuman khasnya.
Rose ikut duduk di samping mamah mertuanya. Mamah mertuanya tiba-tiba mengusap perut Rose seraya menatapnya seolah sedang berbicara pada Rose.
"Calon cucu mamah, baru berusia empat bulan. Doakan supaya sehat selalu ya, mah. Sampai menjelang melahirkan dan sesudahnya." Tukas Rose menyunggingkan senyumnya.
"Rose, tak usah kamu pinta pun mamah akan selalu berdoa untukmu dan anakmu ini. Juga untuk Michelson, supaya rumah tangga kalian langgeng selamanya. Dan tak ada lagi permasalahan yang pelik dalam kehidupan kalian," batin Mamah Berta.
"Mah, Rose ingin sejenak jalan-jalan keliling halaman sebentar. Apakah mamah ikut?" tanya Rose menatap sendu Berta.
Mamah Berta mengangguk pelan. Dengan sangat pelan, Rose menuntun Berta dan mengajaknya jalan. Sang perawat juga mengikutinya dari belakang.
Rose menatap ke sekeliling mension Michelson yang di penuhi dengan pepohonan rindang. Hingga suasana di dalam rumah juga selalu terasa sejuk, tidak pernah merasakan panas.
Seketika Rose melihat ada seekor burung terjatuh dari pepohonan rindang. Dan dia pun menghampiri burung tersebut.
"Mah, sebentar ya..Itu ada burung terjatuh, kasihan juga."
Dan pada saat Rose sedang mengambil burung tersebut. Tiba-tiba ada satu tangkai besar yang hampir saja jatuh tepat di kepala, Rose. Tetapi Rose bisa menghindar karena ada seseorang yang berteriak.
"Rose, awas menyingkir."
Seketika itu juga Rose menyingkir, dan dia selamat dari ranting besar yang yang sangat runcing.
"Mah-mamah, bisa bicara."'Rose melangkah cepat ke arah Mamah Berta.
"Mah, barusan mamah kan yang berkata?" Rose bertanya ulang karena masih saja tak percaya.
"I-Iya, Rose." Jawab Mamah Berta dengan kata yang masih terbata-bata.
"Puji Syukur, Michelson pasti akan sangat senang mendengar kabar ini. Selamat ya mah, aku sungguh bahagia mendengar kabar baik ini." Rose menggenggam tangan mamah mertuanya dan menciumi tangannya.
Rose sudah kehilangan mamahnya karena mamahnya dulu bunuh diri karena perselingkuhan papahnya dengan mamahnya Siska. Kini dia sangat bahagia karena masih di beri kesempatan untuk memiliki seorang mamah lagi walaupun hanya mamah mertua. Tetapi dia sangat menyayangi layaknya mamah kandung.
Rose dengan telaten melihat kondisi burung tersebut. Dan dia membalur luka sang burung dengan sere dan jahe sedikit.
"Bi, bukannya sere dan jahe ini bumbu dapur?" tanya Rose terkekeh
"Iya, non. Tapi saya dulu juga pernah membalut luka ayam saya dengan seperti itu. Itu juga bisa membalut luka kita jika keseleo." Tukas sang bibi dengan sangat yakinnya.
"Aku nggak tahu menahu, bi. Makanya aku rasa janggal saja hhee," kembali lagi Rose terkekeh.
"Bi, ini burungnya bukan mau di goreng hidup-hidup kan?" Canda Rose terkekeh.
Sang asisten rumah tangga hanya tersenyum mendengar gurauan majikannya. Memang jika tidak ada aktifitas di luar rumah, Rose lebih suka di rumah suka usilin para asisten rumah tangganya atau tukang kebunnya. Ini di lakukan semenjak dirinya hamil, lebih suka iseng dengan orang.
Burung tersebut di letakkan di sebuah kandang kecil yang di buat oleh tukang kebun. Tak lupa diberi makan dan minuman.
Setelah selesai aktifitas mengobati burung dan menggoda para asisten rumah tangga, Rose memutuskan untuk sejenak tidur siang. Begitu pula dengan Mamah Berta.
Selagi dirinya tertidur pulas, suaminya pulang dan tidur pula di samping dirinya. Rose tak sadar dia berbalik badan dan memeluk tubuh suaminya yang baru saja terlelap.
Michelson seketika membuka matanya melihat dirinya sudah di peluk oleh istrinya. Dia pun menyunggingkan senyumnya.
"Mommy, jika aku di peluk seperti ini burungku berkedut-kedut seperti mau keluar dari sangkarnya," batin Michelson.
Rose tak sadar jika dirinya memeluk suaminya, di dalam tidurnya dia pikir sedang memeluk sebuah guling.
Hingga beberapa menit kemudian, Rose terjaga dari tidurnya. Dia terkaget pada saat melihat dirinya memeluk suaminya.
"Hem, pulang nggak bilang-bilang. Senangnya di peluk istri di siang bolong. Pantas saja aku merasa guling yang aku peluk kok agak beda," Rise menggerutu sendiri seraya mengusap matanya.
Sejenak dia meminum air putih yang telah tersedia di atas meja. Lantas melanjutkan lagi tidurnya..Akan tetapi baru saja dia akan memejamkan mata.
Ada sesuatu yang menghimpit tubuhnya dari atas, dia pun membuka matanya.
"Daddy, aku pikir kamu masih tertidur pulas?" tanya Rose seraya menyentuh rahang suaminya.
"Entah kenapa aku kangen sekali padamu, mommy. Makanya aku cuma kerja setengah hari. Dan memutuskan untuk pulang." Michelson meraba bibir indah Rose.
"Hem, siang-siang ngegombal. Kenapa cuma di raba saja, apa tak ingin mengecup bibirku ini?" Rose mengedipkan matanya.
Setelah mendapat kode dari istrinya, Michelson tak ingin menyia-nyiakan kesempatan yang sudah dia tunggu dari tadi. Michelson mengecup lembut bibir istrinya dan Rose pun membalas kecupan mesra suaminya.
Tangannya Michelson mulai nakal menyusup ke balik kaos yang di kenakan oleh istrinya. Meraba dua buah benda kenyal kesukaannya. Dan menyusup masuk ke penutup benda tersebut, supaya bisa menyentuh langsung benda kenyal tersebut. Di pilinnya biji buahnya satu persatu.
"Daddy, apa kita akan melakukannya di siang bolong seperti ini?" sejenak Rose melepas ciuman suaminya.
"Memangnya kenapa, kita kan suami-istri . Jadi mau kita lakukan kapanpun itu tak masalah, sayang. Apa kamu lupa pada saat kita honeymoon, kita melakukannya hampir di setiap waktu? apa kamu sedang tak ingin melayaniku?" tanya Michelson sekenanya.
"Itu kamu yang bilang kan, justru aku sedang ingin bercinta," Rose tersipu malu.
Michelson sangat senang g setelah mendengar perkataan dari istrinya. Dia pun langsung beraksi lebih lagi.