Wonder woman

Wonder woman
Perdebatan Yang Membuat Kabur



Beberapa hari kemudian, Linda pun baru menyadari jika dirinya sebenarnya telah dibohongi oleh dua preman yang telah diberinya uang olehnya. Dia semakin kesal karena uang yang dia berikan pada dua preman tersebut jumlahnya tidaklah sedikit.


"Sialan, ternyata dua pria itu hanya menipu aku saja. Badan saja yang gede tetapi tak punya keberanian apapun. Hanya bisa menipu orang-orang dengan dalih akan membantu mereka untuk menyingkirkan musuhnya," gumamnya kesal.


"Mah, kenapa sih marah-marah terus?" tegur anak semata wayangnya yang sudah berusia dewasa yakni seorang pria berumur delapan belas tahun.


"Anak kecil tahu apa kamu, ini urusan orang dewasa jadi jangan bertanya."


Linda bukannya menjawab apa yang di tanyakan oleh anaknya malah berkata seperti itu.


"Mah, aku nggak suka ya jika mamah terus saja berbuat jahat. Mamah pikir aku nggak tahu apa yang selama ini mamah lakukan?"


"Mamah pikir aku ini masih anak kecil yang tak tahu apa-apa hingga mamah berbuat jahat semaunya?"


Anak lelaki Linda satu-satunya yang sudah mulai beranjak dewasa sangat tak suka dengan ucapannya.


"Rey, apa sih yang barusan kamu katakan? tugasmu itu belajar supaya pintar dan masuk kampus yang bonafit bukan malah memata-matai setiap apa yang mamah lakukan," ucap Linda.


"Mah, aku tahu semuanya tentang kejahatan mamah terhadap almarhumah Oma Lani. Bahkan selama ini yang mamah lakukan hanyalah bersenang-senang dengan teman-teman sosialita mamah."


"Dengan bergaya sering liburan ke luar negeri, belanja yang tak seharusnya belanja. Dan mamah pikir aku tak tahu jika saat ini mamah sedang merencanakan sesuatu yang buruk pada pemilik perusahaan almarhumah Oma Lani."


Perkataan Rey sontak membuat Linda melotot ke arah anaknya. Dia tak menyangka jika sampai sejauh itu anaknya tahu tentang dirinya.


"Hah, bagaimana Rey tahu akan hal ini? lagi pula selama ini aku tak pernah bercerita apa pun tentang hal ini. Dan setiap aku melakukan semua ini juga tidak di hadapan dia? lantas bagaimana dia bisa tahu?" batin Linda penuh tanda tanya.


"Jika seperti ini aku harus bertindak lebih waspada supaya Rey tidak lagi mengetahui apa yang aku lakukan," batinnya lagi.


"Mah, berubahlah jika mamah memang sayang padaku. Aku tak ingin suatu saat nanti hal buruk terjadi pada mamah karena hanya mamah yang aku punya selama ini."


"Jika mamah tak kunjung berubah juga itu tak baik untuk ekonomi kita, mah. Jika berfoya-foya terus nanti harta kita nggak seberapa akan habis."


Terus saja Rey mencoba menasehati Linda. Akan tetapi bukannya Linda sadar, tetapi dia malah semakin marah pada anak semata wayangnya.


"Brisik kamu, Rey! nggak usah mengajari mamah, karena mamah lebih tahu apa yang mamah lakukan! lagi pula semua yang mamah lakukan bukan hanya untuk diri mamah sendiri tetapi juga kelak untukmu!" bentak Linda


"Mah, jangan mengatas namakan perbuatan jahat mamah untuk diriku! padahal sebenarnya untuk memuaskan diri mamah sendiri! buktinya semua tabungan yang aku punya malah mamah minta dengan dalih untuk modal usaha, tetapi mana buktinya, mah? usaha yang mamah katakan padaku waktu itu!" ucap Rey sudah tak bisa menahan amarah.


Rey kesal pada Linda karena tabungan yang dia kumpulkan dari menyisihkan uang sakunya dan dari pemberian almarhum Omanya di minta semuanya bukan untuk kebaikan tetapi untuk foya-foya.


Bahkan pemberian almarhumah Oma Lani yang terakhir berupa perhiasan dan uang juga semuanya di minta oleh Linda dengan dalih biar dia yang menyimpannya.


"Rey, kamu ingin perhitungan dengan mamah. Mamah yang telah mengandung dan membesarkan kamu!" bentak Linda.


Rey selalu saja kalah jika berdebat dengan mamahnya karena Linda tak pernah mau mengalah dan dia selalu merasa bahwa apa yang dia lakukan adalah benar.


"Jika seperti ini aku takkan sudi bertahan di rumah ini. Rumah yang bagaikan neraka saja!" batin Rey.


"Lihat saja, mah. Aku lebih baik pergi dari rumah ini dari pada aku harus melihat mamah selalu berbuat jahat," batin Rey.


Tanpa sepengetahuan Linda, Rey mengemasi semua pakaiannya. Dan dia pergi di saat Linda sedang tidur nyenyak di kamarnya. Karena kebetulan kamar Linda jauh dari kamar Rey. Hingga Linda tak mendengar bunyi tas koper besar di seret keluar rumah.


"Den Rey, mau kemana?" tanya asisten rumah tangganya.


"Bi, nggak usah katakan apa pun pada mamah ya. Jika di tanya katakan saja bibi nggak tahu kepergianku," ucap Rey.


"Tapi, den.. Aden...


"Sudahlah, bi. Jika bibi terus saja bertanya nanti keburu mamah bangun dan aku gagal pergi dari rumah ini," sela Rey memotong pembicaraan asisten rumah tangganya.


"Ya sudah, hati-hati ya den."


"Ya, bi. Terima kasih."


Rey sama sekali tak tahu harus pergi kemana karena dia tak punya sanak saudara di kota itu. Dia hanya melenggang melangkahkan kaki tak tentu arah. Dan dia bahkan naik angkutan umum dan turun di pemberhentian bus.


"Aku kesini tapi aku sendiri tak tahu akan kemana. Aku hanya berjalan mengikuti langkah kakiku saja," batin Rey.


Dan tak sengaja Rey melihat ada seorang nenek yang akan tertabrak sebuah mobil. Secepat kilat, Rey menarik tubuh si nenek.


"Awas, nek!" pekiknya seraya menariknya ke pinggir.


"Terimakasih ya cu. Untung saja ada kamu, jika tidak nenek pasti sudah tertabrak mobil itu," ucapnya.


"Sama-sama, nek. Memangnya nenek mau kemana? kenapa pula berjalan sendirian?" tanya Rey penasaran.


"Sebenarnya nenek tadi tidak sendirian, tetap bersama dengan menantu nenek dan anak nenek. Tetapi nenek ingin jalan-jalan keluar, eh malah nenek nggak tahu arah karena sudah begitu lama tak pernah jalan keluar rumah," ucapnya.


Selagi asik ngobrol dengan Rey, datanglah sepasang suami istri yang begitu khawatir dengan kondisi si nenek ini.


"Mah, kami mencari mamah kemana-mana ternyata ada di sini. Kami sempat khawatir," ucapnya.


"Rose-Michelson, maafkan mamah ya. Tadi mamah suntuk di dalam mall jadi iseng jalan keluar eh malah tadi akan ketabrak sebuah mobil untuk si cucu ini selamatin mamah," ucap Mamah Berta.


"De, terima kasih ya. Jia tidak ada kamu entah bagaimana nasib mamah aku," ucap Michelson menepuk bahu Rey.


"Kok wajahmu tak asing lagi buatku ya?" ucap Rose.


"Kenapa dengan wajahku, Tante? apa Tante kenal dengan mamahku? menurut orang-orang sih wajahku mirip sekali dengan mamah, Tante," ucap polos Rey.


"Hem, memangnya siapa nama mamahmu? mungkin saja aku kenal dengannya?" tanya Rose penasaran.


"Mamah aku namanya Linda, Tante. Tapi aku mohon jika Tante memang kenal dengannya, jangan katakan jika pernah ketemu denganku. Aku tak ingin pulang ke rumah," ucap polos Rey kembali.


"Hem, Tante tahu. Jadi kamu bawa tas koper sebesar ini karena kamu berniat kabur ya?" tanya Rose menyelidik.


"Bagaimana kalau kita ke rumah, Tante dulu. Sebagai ucapan terima kasih Tante karena kamu telah menolong mamah Tante ini." Bujuk Rose.