
Pagi menjelang, sejak Michelson sudah pulih dan sehat semua merasa sangat senang dan bahagia. Apalagi tinggal beberapa bulan lagi sepasang suami istri ini akan menanti kehadiran dua buah hati mereka.
Aktifitas yang cukup padat sangat menguras tenaga, Rose. Walaupun dia sudah berusaha untuk tidak memegang kendali perusahaan milik Almarhumah Lani.
Rose merasa tak tenang jika perusahaan itu di kendalikan oleh suaminya, karena dia merasa bertanggung jawab penuh dengan pesan wasiat dari almarhumah Lani.
"Daddy, sebaiknya aku saja yang mengurus perusahaan almarhumah Mamah Lani. Biar Daddy Fokus dengan urusan kantor, Daddy."
"Mommy, lantas bagaimana kamu akan mengurus dua butik dan satu garmen nya? aku hanya tak ingin kamu terlalu cape apa lagi di saat hamil besar seperti ini."
Mendengar akan hal itu, Rose menjadi bingung juga. Karena usaha tersebut juga susah payah di rintis dari nol. Jika dia tinggalkan juga sangat di sayangkan.
"Ya juga ya, Daddy. Lantas langkah yang tepat bagaimana ya m, Daddy?" Rose meminta persetujuan.
"Seperti awal saja, mommy. Dimana aku yang akan membantumu mengurus semuanya, tetapi nanti di saat ada meeting atau pertemuan dengan semua klien di perusahaan tersebut, kamu ikut menghadirinya," saran Michelson.
"Hem, baiklah Daddy. Jadi aku datang ke kantor di kala ada meeting seperti kemarin ya?" ucap Rose memastikan.
"Lagi pula aku tidak ikhlas jika istri tercintaku setiap hari berada di kantor dan bertemu dengan si mata genit itu. Aku yakin klien baru itu suka pada, Rose. Terlihat jelas dari cara menatap Rose," batin Michelson.
"Aku pastikan pria itu cepat memupus rasa cintanya pada Rose, jika tidak aku akan buat dia untuk tidak bekerjasama dengan, Rose." Batinnya lagi.
Michelson sangat peka, hingga ia tahu jika Tuan Kenand menyukai Rose. Setelah selesai bersiap-siap, dia pun lekas beranjak ke kantor milik Rose terlebih dahulu. Untuk mengecek segala kondisi di kantor tersebut.
"Yah, pagi-pagi sudah melihat wajah menyebalkan itu. Untuk apa pula dia datang sepagi ini ke kantor, Rose? batin Michelson tak suka melihat kedatangan Tuan Kenand.
"Haduh, kenapa yang datang malah suaminya? hancur dech mood aku di pagi ini, aku pikir Rose yang akan datang ke kantor." Tuan Kenand juga tak suka melihat kedatangan Michelson.
Baik Tuan Kenand maupun Michelson sama-sama tak suka melihat kehadiran masing-masing. Tatapan mereka saling sinis tidak ada satu senyuman sedikitpun dari bibir mereka masing-masing.
Michelson menghampiri Tuan Kenand, dia pun mencoba untuk tersenyum walaupun sebenarnya di dalam hatinya dia sangat membenci kedatangan lelaki itu.
"Hallo Tuan, ada yang bisa saya bantu hingga sepagi ini anda sudah datang ke kantor, Rose?" sapa Michelson mencoba tersenyum kepada, Tuan Kenand.
"Tidak juga,Tuan. Saya hanya ingin memastikan kondisi Nona Rose, karena kemarin saya melihat dia matanya sembab sehabis menangis. Sepertinya dia sedang ada masalah yang sangat serius," ucap Tuen Kenand menyindir Michelson.
"Maaf, itu bukanlah hak anda untuk mencampuri urusan rumah tangga kami. Jika anda ingin tahu kenapa istri saya kemarin menangis, yang jelas dia sedang tidak ada masalah dengan saya. Dia hanya sedih karena teringat dengan, Almarhumah Tante Lani."
"Jadi tolong jangan suka turut campur dengan rumah tangga kami. Dan selalu ingin tahu saja apa yang terjadi pada istri saya. Anda tak berhak karena anda bukanlah siapa-siapanya. Justru saya yang berhak karena dia adalah istri saya."
"Saya ingatkan satu hal, anda jangan mencoba berulah karena saya tak ingin berbuat kasar pada anda jika suatu saat nanti saya tahu niat buruk anda pada istri saya."
Mendengar apa yang di katakan oleh Michelson, bukannya Tuan Kenand menjadi gentar. Dia malah semakin tertantang ingin masuk lebih dalam lagi ke rumah tangga, Rose. Dia hanya terkikik mendengar ancaman dari Michelson.
"Saya tak rela jika orang yang saya sukai menangis tanpa alasan yang jelas. Saya yang akan membuatnya selalu tersenyum."
Perkataan Tuan Kenand malah membuat Michelson semakin kesal, dia pun. mengepalkan tinjunya namun dia mencoba menahan amarahnya.
"Jika sudah tidak ada urusan lagi, silahkan anda pergi dari kantor ini. Dan ingat pesan saya baik-baik, saya tidak pernah main-main dengan segala apa yang saya ucapkan," kata Michelson.
Hingga dengan terpaksa, Tuan Kenand pun berlalu pergi dari Kanti tersebut. Aksan tetapi terlebih dulu dia memberikan bingkisan yang dia bawa ke bagian resepsionis. Bingkisan yang sebenarnya akan dia berikan untuk, Rose.
"Nona, ini ada sedikit hadiah untuk anda."
"Wah, terima kasih Tuan."
Setelah itu Tuan Kenand baru benar-benar pergi dari kantor tersebut.
"Asik, rezeki anak baik seperti ini dapat hadiah kejutan. Isinya apa ya?" gumam resepsionis tersebut seraya membuka bingkisan tersebut.
Seperginya Tuan Kenand, hati Michelson bisa bernapas lega.
"Jika dia masih saja berada di sini, aku bisa pastikan pukulan tangan ini melayang juga ke pipi atau perutnya. Seenaknya saja menyukai istri orang, dia pikir dia itu siapa. Di bandingkan dengan aku kalah jauh, ganteng akulah."
Michelson tak sadar jika ucapannya sempat di tertawakan oleh beberapa karyawan yang melintas di hadapannya. Dia tak sadar jika berkata dengan keras.
Michelson langsung menemui sekretaris pribadi, Rose yakni Rika.
"Rika, apa hari ini ada meeting penting atau tidak?" tanya Michelson.
"Untuk hari ini kebetulan tidak ada jadwal meeting, hari ini kosong tidak ada pertemuan dengan klien, Tuan."
"Hanya ini ada beberapa berkas yang perlu, Nona Rose cek dan ada pula yang perlu di tanda tangani."
Rika memberikan berkas tersebut pada, Michelson. Dan saat itu juga Michelson membawa beberapa berkasnya ke ruang kerja, Rose.
Di sana dia pun mengecek secara teliti satu persatu berkas tersebut. Termasuk berkas Yeng perlu di tanda tangani. Supaya tidak ada suatu kesalahan. Michelson adalah pembisnis yang handal, dia lebih berpengalaman dari pada Rose. Hingga Rose pun tak sungkan jika ada hal yang perlu di tanda tangani, dia mewakilkan pada suaminya. Jika dirinya sedang tidak ada di kantor tersebut.
Sementara saat ini Rose juga sedang di sibukkan oleh pekerjaan di garmen yang baru berdiri kembali. Garmen yang dulu sempat terbakar habis.
Kebetulan sedang banyak pesanan untuk seragam kemeja batik dan seragam blouse batik dalam jumlah yang sangat banyak.
Rose begitu ahoki dalam bidang ini, dia begitu gesit dalam memilih segala peralatan untuk pembuatan pakaian tersebut. Dalam pemilihan kain dan segala macam yang berhubungan dengan hal itu.